Konten Media Partner

6 Kecamatan di Manggarai Barat Alami Kekeringan

florespediaverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga Kampung Mberata, Desa Macang Tanggar sedang mengantri untuk mendapatkan air bersih. Foto oleh: florespedia/kumparan.com
zoom-in-whitePerbesar
Warga Kampung Mberata, Desa Macang Tanggar sedang mengantri untuk mendapatkan air bersih. Foto oleh: florespedia/kumparan.com

LABUAN BAJO - Meski kekeringan terparah yang menimpa enam kecamatan di Kabupaten Manggarai Barat, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai Barat belum menurunkan bantuan pasokan  berupa air minum bersih kepada warga korban bencana kekeringan.

Hal ini diakui Kepala BPBD Manggarai Barat, Dominikus Hawan kepada florespedia pada Rabu (14/8) pagi. Ia mengakui, Manggarai Barat siaga satu bencana kekeringan sehingga membuat Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula terpaksa mengeluarkan  Keputusan Bupati Nnomor 153/Kep/HK/2019 tentang siaga darurat bencana kekeringan pada 22 Juli 2019 lalu.

Lanjut Dominikus Hawan, siaga bencana kekeringan ini dinilai terparah di tahun 2019. Enam kecamatan di Manggarai Barat, dilaporkan menggalami kekeringan terburuk sepanjang sejarah.

Kekeringan di enam kecamatan itu membuat masyarakatnya mengalami kesulitan mendapat pasokan air bersih untuk minum termasuk sulit mengaliri air ke sawah milik warga.

Selain sulit mendapat pasokan air ke ribuan hektar sawah yang tersebar di enam kecamatan itu adalah, empat kecamatan paling parah di landa kekeringan. Yakni Kecamatan Komodo, Lembor Selatan, Welak dan Kecamatan Boleng. Empat kecamatan ini sangat kritis. Disusul dua kecamatan lainnya yakni Kecamatan Mbliling dan Kecamatan Bari.

"Ada empat kecamatan dalam kondisi sangat kritis. Kecamatan Komodo, Lembor Selatan,Welak dan Boleng. Darurat bencana kekeringan. Disusul Mbliling dan Bari,"sebut Dominikus Hawan

Dia juga berdalih hingga sejauh ini belum ada warga yang memintah bantuan pasokan air bersih.

Dominikus Hawan mengaku pihaknya hingga saat ini masih menunggu bantuan anggaran Rp 200 juta dari Badan Pusat Penanggulangan Bencana Nasional di jakarta. Pasalnya, pihaknya mengusulkan anggaran senilai Rp 200 juta untuk mengatasi masalah kekeringan di Manggarai Barat.

"Waktu rapat di tingkat  propinsi NTT di Kupang minggu lalu,kita usulkan Rp.200 juta dalam mengatasi kekeringan yang terjadi di daerah ini. Usulan itu akan diteruskan ke pusat dan kita menunggu itu ,"tegas Domi Hawan.

Dia juga membenarkan, jika selama ini pihaknya belum menyalurkan bantuan air minum bersih kepada warga lantaran keterbatasan dana anggran. Pihaknya sudah menyampaikan keterbatasan anggaran tersebut kepada Bupati Manggarai Barat. Hal itu bertujuan agar ada jalan keluar bersama untuk mengatasi masalah bencana kekeringan.

Dia juga mengaku instansi hingga saat ini belum dapat berbuat sesuatu untuk mengatasi masalah kekeringan disejumlah wilayah itu.Dirinya meminta masyarakat yang menjadi korban bencana kekeringan di Manggarai Barat untuk tetap bersabar.Jika pihaknya memiliki anggaran,pihaknya akan segera menyalurkan bantuan.

"Sejauh ini kami belum bisa lakukan apa-apa. Kita belum menerima anggaran untuk berbuat sesuatu untuk mengatasi bencana kekeringan," kata Hawan.

Wakil Ketua DPRD Manggarai Barat, Abdul Ganir meminta BPBD Manggarai Barat untuk mengantisipasi bencana kekeringan di seluruh desa di Manggarai Barat dengan segera membuat rancangan anggaran dalam pembahasan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD). 

BPBD Manggarai Barat segera memetakan wilayah mana saja yang terdampak kekeringan dan harus tanggap ditangani.

"Jangan setiap tahun kekeringan secara terus menerus. Mulai sekarang BPBD Manggarai Barat itu membuat suatu rancangan anggaran agar setiap tahun tidak masalah itu-itu saja. Di samping itu juga harus ada solusinya," tegas Ganir.

Bencana kekeringan di wilayah Manggarai Barat kata Ganir, sudah sering terjadi dan merupakan peristiwa tahunan. Meski demikian, pihaknya menjelaskan bahwa tidak semua masalah kekeringan dapat diatasi secara cepat.Tentu membutuhkan anggaran yang tepat.

Pantauan media  ini warga Labuan Bajo tepatnya Kampung Waetuak, Desa Batu Cermin, kampung Loboh Husu Desa Golo Bilas,D esa Mancan Tanggar dan Desa Tiwu Nampar, Desa Golo Pongkor di Kecamatan Komodo menggalami krisis air minum bersih.

Warga di daerah itu berjalan kaki sejauh 3,5 Km mencari air bersih. Sementara sebagian warga lainnya terpaksa secara patungan membeli air tangki 5000 liter seharga Rp.250.000/tangki.

"Ada yang jalan kaki sejauh 3,5 Kilometer memikul air. Yang lainnya yang mampu patungan membeli air,"ucap Warga Mberata, Rofinus Nganggu. (FP-04).