Konten Media Partner

9 Kabupaten di NTT Dilanda Kekeringan Ekstrem

florespediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kekeringan. Sumber foto: _marion.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kekeringan. Sumber foto: _marion.

KUPANG - Dampak musim kemarau tahun ini sudah meluas dan cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), ada 1.963 desa di 79 kabupaten se-Indonesia yang terdampak. 79 kabupaten itu tersebar di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTB).

Daerah-daerah ini mengalami kondisi tanpa hujan dengan rentang waktu yang bervariasi. Mulai dari 21 hari (berstatus waspada), 31 hari (berstatus siaga), hingga 61 hari (berstatus awas). Bahkan di Provinsi NTT, ada beberapa wilayah yang mengalami kekeringan ekstrem karena sudah 100 hari lebih tanpa hujan.

Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini akan lebih kering dan mencapai puncaknya pada Agustus sampai September 2019.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kupang, Apolinaris Geru, menyebutkan ada sembilan kabupaten di NTT yang terkena dampak kekeringan tahun ini. Yakni Kabupaten Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Lembata, Sumba Timur, Sabu Raijua, Rote Ndao, dan Kota Kupang.

Adapun wilayah-wilayah di sembilan kabupaten ini yang masuk kategori kekeringan ekstrem. Kabupaten Nagekeo di sekitar Danga, Kabupaten Ende di sekitar Nanganio. Kabupaten Sikka di sekitar Magepanda dan Waigate, Kabupaten Flores Timur di sekitar Konga, Kabupaten Lembata di sekitar Lewoleba, Wairiang, Waipukang, dan Wulandoni.

Selanjutnya, di Kabupaten Sumba Timur kekeringan ekstrem terjadi di sekitar Melolo, Temu/Kanatang, Lambanapu, Rambangaru, dan Kamanggih; Kabupaten Sabu Raijua di sekitar Daieko; Kabupaten Rote Ndao di sekitar Papela dan Busalangga; Kota Kupang di sekitar Stasius Meteorologi El Tari, Sikumana, Bakunase, Oepoi dan Mapoli; Kabupaten Kupang di sektar Oekabiti, Lelogama, Oenesu, Oelnasi, dan Sulamu; Kabupaten Belu di sekitar Atambua, Fatubenao, Fatukmetan, Wedomu, dan Haekesak.

"Hari tanpa hujan terpanjang terjadi di wilayah Rambangaru, Kabupaten Sumba Timur (116 hari), Wairiang, Kabupaten Lembata (105 hari) dan Oepoi, Kota Kupang (100 hari), ungkap Apolinaris Geru.

Lanjutnya, kondisi memprihatinkan ini sudah direspons oleh pemerintah pusat. Presiden Joko Widodo sudah memimpin rapat terbatas (ratas) untuk membahas masalah tersebut di Istana Kepresidenan pada Senin (15/7).

Presiden Joko Widodo menekankan jajarannya untuk melakukan upaya mitigasi menghadapi dampak kekeringan. Dalam ratas tersebut juga muncul opsi agar pemerintah menerapkan teknologi modifikasi cuaca untuk menciptakan hujan.

Namun menurut Kabid Diseminasi Informasi Iklim & Kualitas Udara BMKG Hary Tirto Djatmiko, tidak semua daerah di Indonesia memiliki kondisi atmosfir yang ideal untuk melakukan modifikasi awan.

"Karena itu, di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, BMKG lebih merekomendasikan untuk menyiapkan cadangan penampungan air, truk-truk tangki yang siap operasional, posko kesiapsiagaan, serta menanam tanaman yang tahan kekeringan," jelas Apolinaris Geru. (FP-05).