Konten Media Partner

Berkah Pedagang Kecil di Tengah Turnamen Wanted Cup Lembata

florespediaverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kamsia Ero (kanan) salah satu pedagang kecil yang menjual makanan ringan dan minuman dingin di pinggir lapangan Polres Lembata dalam turnamen Wanted Cup. Foto : Teddi Lagamaking
zoom-in-whitePerbesar
Kamsia Ero (kanan) salah satu pedagang kecil yang menjual makanan ringan dan minuman dingin di pinggir lapangan Polres Lembata dalam turnamen Wanted Cup. Foto : Teddi Lagamaking

LEMBATA - Rupanya pertandingan sepakbola Wanted Cup di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) memberikan dampak positif bagi para pedagang.

Bayangkan saja, sejak pandemi merebak tiga tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk di Lembata anjlok.

Para pengusaha enggan berinvestasi. Separuh toko kelontong dan para penyedia sembako dibuat pasrah. Semuanya sepi pembeli.

Kondisi ini dirasakan sejumlah pengusaha dan pedagang di kota Lewoleba, salah satunya pedagang kaki lima. Barang dagangan milik mereka terpaksa tak laku dipasaran, bahkan tidak sedikit juga terpaksa gulung tikar.

Hal ini sebagai akibat dari merebaknya pandemi COVID-19 sehingga arus keluar masuk barang ke Lembata minim serta sirkulasi keuangan pun tidak bergerak optimal, apalagi pemerintah memberlakukan beberapa kali penyekatan sejumlah aktifitas yang secara langsung membatasi pergerakan barang hingga perputaran keuangan di wilayah tersebut tersendat.

Akan tetapi, sejak digelarnya pertandingan sepakbola Wanted Cup IV di kota Lewoleba pada Sabtu 7 Mei 2022 lalu, para pedagang kembali tersenyum.

Mereka mulai bernapas lega sebab kali ini usahanya menunjukan sedikit kemajuan yang berarti. Dulunya barang dagangannya nyaris tak laku pembeli kini mulai laris di pasaran kota Lewoleba.

"Dulu susah sekali ama, sekarang sudah bagus ini, kami bisa jualan bebas," kata Kamsia Ero, salah satu pedagang kaki lima kepada media Rabu (25/4) sore.

Selama turnamen bola kaki berlangsung, banyak pedagang kecil membuka lapak jualan di pinggir lapangan. Hasil dari sekedar menjajakan minuman dingin, snack ringan, permen hingga rokok pun laris manis.

Semua barang dagangan yang mereka jual setiap hari di pinggir lapangan pun ludes terjual. Apalagi setiap hari ada empat partai berlaga dalam turnamen itu yang membuat kebutuhan makanan ringan dari penonton serta suporter meningkat.

"Mulai dari pembukaan sampai sekarang penonton bisa ribuan, syukur sampai hari ini barang-barang selalu habis," ujar perempuan 48 tahun ini.

Perempuan asal desa Kolontobo kecamatan Ile Ape ini juga menuturkan kalau penghasilan bersih yang dia peroleh setiap sore bisa mencapai Rp 500 ribu. "Kadang 200-300 ribu, itu juga kalau yang datang nonton tida begitu banyak orang," terangnya.

Abang Moleng, satu satu dari sekian banyak penjual keliling di kota Lewoleba pun mengakui hal yang sama. Dia merasa, selama pertandingan bola kaki berlangsung, banyak untung yang dipanen.

Kalau dulu, saat awal-awal pandemi, dia lebih banyak pasif untuk berjualan keliling, sekarang dirinya lebih aktif sebab semua aktifitas bisa dilakukan tanpa adanya penyekatan.

Barang jualannya seperti molen, aqua, telur puyuh hingga martabak yang setiap hari di jajak keliling lapangan bola kaki Polres Lembata itu selalu habis lebih cepat.

"Tau to, kita harus baca peluang, ini peluang untuk siapa saja jualan, pokonya kita senang ada ivent begini, maka perputaran uang bisa lancar," bebernya senyum.

Setiap sore, pria asal Ende ini mampu meraup untung yang lumayan. Dari aneka barang yang ia jajakan, sekitar 600 ribu ia panen setiap hari.

"Sudah untung bersih itu," klaimnya sembari menawarkan jualannya kepada para penonton.

Para pedagang yang setia berjualan di pinggir lapangan bola kaki ini merasa bersyukur karena adanya turnamen sepakbola akbar Wanted Cup ini membawa berkah tersendiri bagi mereka.

Mereka berharap, pemerintah bisa mengadopsi gaya-gaya inovatif ini supaya salah satu dampaknya yakni perputaran uang dan pertumbuhan ekonomi masyarakat bisa bergerak maju.

"Yang macam begini-begini kami senang, kalau bisa selesai Wanted Cup ada turnamen apa begitu supaya ekonomi dan uang terus bergulir di Lembata," kata Dominikus Karangora, aktivis Pemerhati sosial Lembata.

Sementara itu IKA Wanted sendiri mengakui bahwa turnamen sepakbola yang mereka selenggarakan dengan menghadirkan 39 club terbaik di NTT ini memberi dampak signifikan, salah satunya ekonomi.

Sejak resmi bergulir pada beberapa pekan lalu, banyak di antara para pedagang kecil atau kali lima meminta untuk mereka menjajakan barang dagangannya di pinggir lapangan.

Alhasil sedikitnya 20 pedagang berhasil menjajakan barangnya di sepanjang pinggir lapangan. Setiap sore, mereka rutin berjualan disana.

"Ini bentuk dukungan kami terhadap mama-mama pedagang kecil di Lembata," tandas Alfian Rayabelen, Humas IKA Wanted.

IKA Wanted sendiri bangga, selain menggelar pertandingan akbar ini, namun bisa membantu memulihkan ekonomi masyarakat Lembata melalui cara menerima siapa saja yang hendak berjualan di sekitar pinggir lapangan.

"Kita support warga dengan cara-cara seperti ini, kalau pemerintah tidak bisa bergerak, IKA Wanted dengan caranya menghadirkan hiburan yang murah meriah namun punya nilai plus disana," tandasnya.

IKA Wanted sendiri memaknai pertandingan sepak bola sebagai sesuatu yang istimewa, dinantikan banyak orang dan mencerahkan hidup.

"Kita berharap, para para pedagang kecil yang selama ini hadir bisa dapat berkah, ini pun jadi tujuan organisasi IKA Wanted," tutupnya.