Konten Media Partner

Cerita Perajin di Sanggar Doka Tawa Tana Bertahan di Tengah Pandemi COVID-19

florespediaverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Salah satu penenun di Sanggar Doka Tawa Tana, Desa Uma Uta. Foto : Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu penenun di Sanggar Doka Tawa Tana, Desa Uma Uta. Foto : Istimewa

MAUMERE - Sanggar Doka Tawa Tana yang berada di Kampung Dokar Desa Uma Uta, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi NTT.

Sanggar yang bergerak dibidang seni kerajinan tangan ini tetap mempertahankan kerajinan tangan meski sedang dilanda pandemi COVID-19.

Sanggar Doka Tawa Tana didirikan pada tahun 1980 dan dijadikan sebagai desa wisata yang bertujuan untuk melestarikan tradisi budaya dan kerajinan lokal terutama tenun ikat Sikka.

Salah satu atrakasi tarian tradisional di Sanggar Doka Tawa Tana. Foto : Istimewa

“Pandemi COVID-19 ini sangat luar biasa. Berbicara tentang pariwisata, kita dari sanggar Doka Tawa Tana ini sangat mengalami kemerosotan yang luar biasa terutama adalah kunjungan tamu. Padahal di masa normal, banyak wisatawan yang datang berkunjung ke sanggar ini "ungkap Ketua Sanggar Doka Tawa Tana, Cletus kepada media ini Sabtu (14/8).

Cletus menjelaskan, sanggar Doka Tawa Tana beranggotakan 110 orang dan bergerak dibidang seni kerajinan tangan mengikat motif pada benang kemudian di proses menjadi kain sarung untuk keperluan sehari-hari maupun dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan juga kebutuhan sosial masyarakat.

Ketua Sanggar Doka Tawa Tana saat menerima penghargaan Community Based Tourism. Foto : Istimewa

Melalui sanggar ini juga tumbuh dan berkemban seni musik dan tari tradisional untuk kalangan anggota bahkan dapat dipentaskan untuk umum. Permintaan dari berbagai pihak untuk pentas hiburan dan event-event budaya baik tingkat lokal maupun regional dan nasional.

Biasanya, kata Cletus sebelum pandemi setiap hari sanggar Doka Tawa Tana mendapat kunjungan dua grup tour perusahaan tekstil. Musim ramai kunjungan mulai pada bulan April sampai pertengahan bulan November.

Selain itu, Cletus mengatakan Sanggar Doka Tawa Tana juga merupakan tempat belajar nilai-nilai kearifan lokal bagi masyarakat dan generasi muda setempat.

"Di sanggar ini dari desa-desa yang ada di Kabupaten Sikka datang belajar disanggar ini tentang pewarna alam. Selain itu pelatihan pembuatan ramuan pewarna alami bagi anak-anak SD,SLTP, SLTA dan remaja muda-mudi serta wisatawan yang mau belajar tenun ikat dan pewarnaan alami," tutur Cletus.

Ada juga pelatihan pembuatan souvenir dari bahan lokal dan sarung bagi pemuda usia angkatan kerja dan aktivitas warga kampung Dokar dan sekitarnya.

Ketua Sanggar Doka Tawa Tana, Moat Cletus. Foto : Istimewa

Dikatakannya, sanggar ini fokus melestarikan musik tradisional, kearifan lokal, tenun ikat dan pewarna alam. Dan motif-motif yang dikerjakan itu harus punya histori dengan motif-motif yang menjadi warisan leluhur. Tenun ikat ini digunakan sehari-hari. Selain itu digunakan untuk seremonial adat, kelahiran, kematian dan pesta.

Setiap wisatawan yang berkunjung selalu diperkenalkan atraksi proses tenun ikat tradisional dari kapas lokal dan pewarnaan alami (organic) dari akar, daun, dan kulit pohon.

Desa wisata ini juga menyediakan budidaya tanaman pewarna alami dan kapas lokal.

Desa wisata Uma Uta ini mendapat perhatian dan dukungan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Provinsi NTT dengan memberikan sosialisasi dan pelatihan sadar wisata, desa wisata dan pariwisata berkelanjutan, pelatihan tata kelola destinasi wisata.

Atraksi budaya di Sanggar Doka Tawa Tana saat menyambut para tamu asing sebelum pandemi COVID-19. Foto : Istimewa

Atas dukungan pemerintah, akhirnya Desa Wisata Uma Uta mendapatkan pretasi terbaik kelima dalam pengelolaan CBT (Community Based Tourism) desa wisata tingkat nasional.

Untuk tetap menjaga kelestarian sanggar dimasa pandemi COVID-19, sanggar Doka Tawa Tana memberikan pelatihan dan membantu anak-anak sekolah untuk berlatih dan mengerjakan kain tenun ikat selanjutnya dijual sendiri atau dipakai sendiri.

"Jadi di masa pandemi anak-anak sekolah belajar dari rumah dan memanfaatkan waktu istirahat dengan berlatih tenun ikat. Dari hasil kain tenun ikat ini ada yang dijual dan ada yang untuk dipakai,” kata Cletus.

Dia juga tidak patah semangat menawarkan kain tenun ikat melalui jaringan yang ia bangun sebelum pandemi walaupun harga yang didapatkan tidak sesuai dengan harga sebelum pandemi COVID-19.

"Biar harga murah yang penting bisa menyambung hidup para perajin. Dan Sanggar Doka Tawa Tana tetap hidup," tutup Cletus.

Kontributor : Athy Meaq