Konten Media Partner

Cita Rasa dan Khasiat Berbagai Produk Rosella dari Gapoktan Wa Wua Langir, Sikka

florespediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Hasil olahan teh rosela yang telah dikemas dan siap di jual. Foto : Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Hasil olahan teh rosela yang telah dikemas dan siap di jual. Foto : Istimewa.

MAUMERE - Tanaman rosella banyak ditemukan di pekarangan rumah warga di Kabupaten Sikka. Meski jumlah tidak begitu banyak, tanaman dengan nama ilmiah hibiscus sabdariffa ini sering dijumpai tumbuh liar baik dipekarangan atau lahan-lahan milik warga.

Meskipun sering dijumpai, belum banyak warga masyarakat mau membudidayakan dan mengolah tanaman rosella untuk dijadikan produk yang dapat meningkatkan ekonomi.

Selain peningkatan ekonomi, tanaman rosella ternyata memiliki khasiat yang mampu mengatasi berbagai macam keluhan penyakit.

Namun, apa yang dilakukan oleh Ignatius Iking bersama Kelompok Tani Wa Wua di Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT ini, mungkin akan sedikit memberikan gambaran tentang cara pengolahan tanaman rosella dan mengenai khasiatnya.

Tentang khasiat dari tanaman ini, sudah dirasakan langsung oleh Ignatius Iking, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Swadaya Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Hasil olahan kopi rosela dari kelompok tani Wa Wua, Desa Langir. Foto : Istimewa.

Ditemui florespedia di kediamannya di Dusun Magedoa, Desa Langir, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT pada Kamis (5/11/20200) malam, pria yang akrab disapa Iking ini menceritakan awal mula dirinya bersama kelompok binaannya mulai mengembangkan tananam rosella menjadi beberapa jenis produk yang salah satunya adalah teh rosella.

Iking menceritakan bahwa sejak tahun 2009 lalu, dengan berbekal bibit yang ia dapatkan dari salah satu LSM di Kabupaten Sikka pada saat itu, dirinya mulai menanam tanaman rosella di sekitar pekarangan rumahnya.

Pada tahun berikutnya, hasil panen tanaman rosella itu ia jual ke LSM dan selanjutnya dikirim ke Bali. Karena penasaran, ia mencoba mencari tahu kepada salah seorang temannya di LSM tersebut dan mendapatkan informasi bahwa tanaman rosella yang dikirim ke Bali akan diolah menjadi teh rosella.

Rasa penasaran mantan Kepala Desa Langir ini membuat dirinya mengorek informasi lebih dalam mengenai cara pembuatan teh rosella.

Berbagai Olahan dari Tanaman Rosela

Kemasan teh rosela hasil olahan kelompok tani Wa Wua, Desa Langir. Foto : Istimewa.

Setelah mengetahui cara pembuatan teh Rosella, dirinya mencoba melakukan budidaya tanaman rosella dan mengolah tanaman rosella menjadi teh rosella dan beberapa jenis olahan lainnya bersama kelompok tani binaannya.

"Budidaya rosela ini anggap saja dia ini tanaman liar, tidak perlu perawatan. Tidak perawatan saja bisa tumbuh apalagi dirawat. Saya sudah buat uji coba, satu pohon itu bisa menghasilkan 250 ribu rupiah. Dia ini tanaman satu musim, tetapi kalau kondisi cuacanya mendukung, dalam satu tahun itu bisa berbuah terus. Kita bisa panen 3 sampai 4 kali. Setelah panen pertama, dia masih berbunga yang penting situasinya masih mendukung untuk dia bisa bertahan sampai dengan akhir tahun," ungkap Iking.

Ignatius Iking juga menyebutkan sebenarnya tanaman rosela cepat berbuah pada saat musim panas ketimbang pada saat musim hujan.

Untuk hasil olahan dari rosela, kata Iking, bisa diambil dari kelopak buah yang bisa dihasilkan menjadi teh, sirup, selai, dodol, tepung rosela dan juga kopi rosela.

"Untuk selai rosela itu saya pernah bawa ke Puskopdit dan kasih Bapa Romanus Woga untuk coba dan beliau bilang enak sekali, itu lebih enak dari selai strawberry dan waktu itu kami jualnya murah dibandingkan dengan harga selai lainnya," ujarnya.

Dikatakan apabila hendak membuat olahan selai dari rosela, juga bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat.

"Yang pertama, teh dan sirup kita dapat, selainya juga kita dapat, tapi kalau kita hanya buat teh saja berarti hanya teh itu saja, tidak dapat olahan lain karena kita keringkan. Tapi kalau kita buat selai, itukan masih basah, jadi itu kita blender dia, kita kukus dia, airnya itu yang kita dapatkan teh atau sirupnya. Sedangkan daging buah yang sudah lembek yang kita blender tadi untuk olahan yang lain, bisa dodol, bisa selai," terang Iking.

Selain selai rosela, semua hasil olahan dari tanaman rosela yang dihasilkan oleh Gapoktan Wa Wua Desa Langir sudah memiliki Produksi Industri Rumah Tangga (PIRT).

Khasiat Teh Rosela Menurut Iking

Teh rosela hasil olahan kelompok tani Wa Wua Desa Langir. Foto : Istimewa.

Sebelumnya, Ignatius Iking sering mengeluh mengalami sariawan, sakit pinggang dan beberapa keluhan lainnya. Namun, seteleh ia mengkonsumsi teh rosela, tanpa ia sadari, semua keluhannya hilang dengan sendirinya.

"Setelah saya minum itu beberapa kali, sakitnya hilang. Saya juga tidak sadar dia hilangnya kapan dan selama ini saya tidak pernah minum obat kok tiba-tiba sembuh. Lalu saya ini sering kena sariawan kalau sudah mulai minum moke lagi, makan makanan pedas, bibir pasti pecah-pecah bahkan sampai luka, kalau sikat gigi pasti berdarah. Tapi semenjak saya minum teh rosela, yang namanya asam urat, sariawan, gusi berdarah itu hilang. Lalu saya dulu sering sakit pinggang, kalau duduk lama itu saya susah berdiri tapi setelah minum, hilang dengan sendirinya," ungkap Iking menceritakan khasiat yang ia rasakan setelah mengkonsumsi teh rosela.

Selain rasa khas rosela yang bisa dinikmati dari teh rosela, khasiat teh rosela juga ampuh mengatasi beberapa keluhan Ignatius Iking.

Dirinya berharap, selain para petani yang tergabung dalam kelompok tani binaannya, ada petani milenal di wilayah Desa Langir yang mau membudidayakan tanaman rosela kemudian diolah menjadi beberapa jenis olahan yang tidak kalah enak dan nikmat dengan olahan lain yang di jual di swalayan atau toko makanan.

Kontributor : Albert Aquinaldo.