Demi Cerdaskan Anak Bangsa, Guru SD di Desa Gera, Sikka, Rela Tempuh Jalan Rusak

MAUMERE – Perjuangan para guru di daerah terpencil memang patut diacungi jempol. Demi mencerdaskan anak bangsa, mereka rela menempuh perjalanan ekstrim setiap harinya. Tak peduli, kadang nyawa mereka jadi taruhan.
Begitu pula yang dialami yang oleh para guru di SDN Aebara, Desa Gera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT. Mereka harus menempuh perjalanan jauh setiap harinya dengan kondisi jalan yang rusak parah.
Pantauan florespedia pada Senin (23/11/2020), beberapa orang guru nekat menggunakan sepeda motor dan menyusuri jalan tanah, bebatuan serta melewati sebagian aspal dan rabat yang sudah pecah ketika pulang mengajar.
Dua orang guru lainnya tampak berjalan kaki bersama puluhan anak-anak SDN Aebara. Kepada florespedia, mereka mengaku bahwa kondisi itu sudah lama mereka alami.
Salah satu guru PNS, Royani, kepada florespedia mengaku bahwa kendala yang dihadapi para guru yang bertugas di SDN Aebara yakni sulitnya akses transportasi ke tempat tugas.
“Kami disini ini pertama sekali itu kesulitan akses transportasi, kondisi jalan dari bawah kesini terlalu parah. Ini masih baik karena masih musim panas, tapi kalau sudah musim hujan, itu kami menderita. Ya penderitaan kami ini cukup kami rasakan dengan kondisi jalan yang ade liat sendiri saat naik dari bawah,” ungkap ibu guru yang telah mengabadi selama 6 tahun diwilayah ini.
Bisa dibayangkan, kondisi jalan yang rusak parah dan apabila musim hujan tiba, dengan kondisi tanah merah tentunya akan sangat sulit bagi kendaraan baik roda dua maupun roda empat untuk melewati ruas jalan tersebut.
Sebelumnya, Ibu Royani yang sempat mengajar di salah satu sekolah dasar di Desa Liakutu, salah satu desa di Kecamatan Mego, setelah Desa Gera mengaku kondisi pada saat itu lebih parah dari yang dialaminya saat ini.
Guru PNS SDN Aebara ini mengaku tinggal di Lekebai dan setiap harus menempuh perjalanan 3 atau 4 kilometer untuk pulang dan pergi.
“Saya tinggal di Lekebai. Tiap hari kami harus pergi pulang, kalau suami ada waktu untuk antar jemput, ya dia antar jemput, kalau suami juga ada kesibukan, kami terpaksa jalan kaki. Kami jalan kaki ini kadang sampai di Megekoba, kadang sampai di Polindes ini di Mokekapa, sekitar ¾ kilometer jalan kaki,” ujar ibu Royani yang mengaku suaminya bertugas di salah satu Pustu di Desa Gera, Kecamatan Mego, Kabupaten Sikka.
Dirinya kemudian berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk akses jalan menuju Desa Gera dan beberapa wilayah desa yang meliputi 3 kecamatan tersebut.
Selain sulitnya akses jalan, Ibu Royani juga mengaku bahwa di wilayah tersebut belum ada jaringan listrik termasuk di SDN Aebara. Sehingga, beberapa urusan administrasi sekolah harus dikerjakan di Lekebai atau di Kota Maumere.
Total guru yang mengajar di SDN Aebara sebanyak 10 orang, 3 orang diantarnya memilih menetap di SDN Aebara sedangkan 7 guru lainnya terpaksa pulang pergi mengajar setiap harinya.
Sementara itu, Pejabat Kepala Desa Gera, Antonius Toni yang ditemui florespedia di ruang kerjanya mengaku kondisi jalanan yang rusak parah menuju ke Desa Gera sudah puluhan tahun.
“Setelah buka rabat baru, sampai hari ini jalanannya seperti itu sudah,” ujar Antonius.
Seperti yang disaksikan florespedia pada Senin (23/11/2020), dari pertigaan Dobonualolo di Kecamatan Lekebai, jalanan masih tampak mulus. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 kilometer, tampak jalan rabat yang rusak parah.
Medan yang mendaki ditambah lagi dengan bebatuan yang berada di tengaj jalan dan rusaknya beberapa ruas jalan semakin menambah kesulitan untuk menuju Desa Gera dan beberapa desa lainnya yang berada di wilayah tersebut.
Kontributor : Albert Aquinaldo.
