Desa di NTT: Krisis Air Bersih, Tak Ada Listrik, 24 Balitanya Stunting

Konten Media Partner
5 Februari 2020 14:21
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Salah satu sumber air yang kotor dan berbau yang dikonsumsi oleh warga Desa Odaute, Kabupaten Nagekeo. Foto: Arkadius Togo.
zoom-in-whitePerbesar
Salah satu sumber air yang kotor dan berbau yang dikonsumsi oleh warga Desa Odaute, Kabupaten Nagekeo. Foto: Arkadius Togo.
ADVERTISEMENT
MBAY - Kurang lebih satu bulan terakhir warga Desa Odaute, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami krisis air akibat kemarau yang berkepanjangan. Sumur yang menjadi andalan warga sebagai kantung air ini debitnya terus menurun.
ADVERTISEMENT
Selain sumur, sungai di perkampungan terpencil ini juga terus menyurutz debit airnya.
Sekretaris Desa Odaute, Servasius Noe, kepada florespedia, Rabu (5/2/2020) mengungkapkan selama ini untuk mencukupi kebutuhan air bersih sehari-hari, desa yang dihuni oleh sekitar 120 jiwa ini cukup bersandar pada salah satu sumur. Selain itu, mereka juga bertumpu pada pasokan air dari sungai setempat.
Selama ini, Desa Odaute memang tidak terakses pasokan air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Terlebih lagi, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) juga belum efektif untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga Desa Odaute.
Lanjutnya, kondisi pun menjadi memprihatinkan saat hujan belum juga mengguyur pedesaan ini. Warga benar-benar berada dalam situasi terpuruk akibat darurat air bersih. Para warga harus bersusah payah mengambil air dari Mata Air Aegogo, dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km.
ADVERTISEMENT
"Untuk mencapai Mata Air Aegogo, masyarakat perlu berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer. Jalannya licin, terjal dan curam. Sesampai di sana, masyarakat juga perlu mengantri minimal dua jam untuk memperoleh giliran mengambil air," ujar Servasius Noe.
Dikatakan Servasius Noe, warganya terpaksa menggunakan air dari sumber tersebut untuk minum dan memasak. Kondisi ini sungguh ironis dikarenakan Desa Odaute adalah satu desa dengan angka stunting yang tinggi di Kabupaten Nagekeo.
"Sayang sekali, sebab desa kami adalah salah satu desa lokus stunting. Ada 24 balita penderita stunting, 6 orang ibu hamil, dan anak-anak. Tentu harusnya seluruh masyarakat, terutama ibu hamil dan anak-anak, mengkonsumsi air bersih. Tetapi kenyataannya, kami harus mengkonsumsi air kotor. Bagaimana mau berantas stunting, bagaimana masyarakat mau sehat, jika krisis air bersih ini selalu terjadi," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Servasius Noe mengatakan bahwa pemerintah desa telah melaporkan keadaan tersebut kepada Pemda Nagekeo pada Oktober 2019 yang lalu. Pada Desember 2019, sudah mendapatkan bantuan air sebanyak 3 tangki, namun ini tidak mencukupi.
"Pada akhir Bulan Desember, ada bantuan air 3 tanki datang ke desa kami. Diantar oleh Forum Pengurangan Resiko Bencana. Air tersebut kami bagi ke 3 dusun, 1 dusun tidak kebagian. Dan karena dipakai oleh hampir seluruh warga, air tersebut habis dalam waktu dua hari saja," tuturnya.
Servasius mengharapkan agar Pemda Nagekeo dapat memberikan perhatian kepada warga desanya.
"Semoga ada perhatian Pemda Nagekeo terhadap kami. Masyarakat sudah sangat kesulitan, terlebih untuk air minum dan masak. Tahun lalu, 10 orang warga saya kena penyakit gatal-gatal karena mandi air kotor. Dan jika sekarang harus minum air kotor juga, apa yang akan terjadi, saya khawatir sekali. Tolong bantu dan perhatikan kami," harapnya.
ADVERTISEMENT
Keluhan senada juga disampaikan Wenslaus Nenga, salah seorang warga Desa Odaute. Ia menuturkan bahwa keadaan di desanya sudah mengalami krisis air bersih.
"Selama tidak ada hujan, kami minum air kotor. Kami jalan jauh-jauh pergi timba di Aegogo, air dapat hanya sedikit untuk mandi dan sisanya bawa ke rumah untuk masak,"katanya.
Wenslaus menyatakan bahwa kenyataan tersebut terpaksa dijalaninya, sebab dirinya tidak mampu membeli air bersih.
"Satu tanki air harganya Rp 700.000 rupiah. Siapa yang sanggup bayar uang banyak begitu banyak untuk beli air, apalagi di dalam desa kami hanya ada 6 bak penampung air hujan. Jadi warga yang ada bak penampung dan ada uang, bisa beli air. Kami yang lain bertahan dengan air Aegogo saja," tuturnya.
ADVERTISEMENT
Wenslaus melanjutkan bahwa karena ketiadaan bak penampung, saat hujan tiba, dirinya bersama ratusan warga lainnya hanya menampung air pada wadah-wadah yang ada.
"Saya tampung di gentong, di ember, di jeriken. Warga lain juga begitu. Karena itu, air cepat habis. Yang senang adalah yang punya bak air besar, mereka bisa tampung banyak air," katanya.
Wenslaus meminta perhatian Pemda Nagekeo bagi dirinya dan warga lainnya.
"Tolong bantu kami, Pak Bupati. Kami selalu minum air kotor. Itu Ibu Bidan Desa yang bapak suruh tinggal di sini, dia tiap hari mandi air kotor dan bau. Padahal orang kesehatan. Habis mau bagaimana, kenyataan kami di sini memang menyedihkan. Air susah, listrik tidak ada, jalan masih darurat," katanya.
ADVERTISEMENT
Wenslaus mengharapkan agar Pemda Nagekeo tidak menunda memberikan bantuan.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020