Ini Pesan Uskup Agung Kupang Dalam RAT KSP TLM - GMIT

KUPANG - Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat (KSP TLM) - GMIT, Sabtu (4/5) menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) VIII tahun buku 2018. Yang menarik, selain pengurus Majelis Sinode GMIT, Uskup Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dan tokoh agama lainnya juga diundang dalam kesempatan itu. Bahkan, Uskup Turang juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan 'Suara Gembala' tentang ekonomi koperasi.
Uskup Turang menyebutkan, perayaan usaha koperasi atau pelaksanaan RAT merupakan suatu batu sendi yang penting dan tidak bisa berlalu begitu saja sebab RAT adalah soko guru dari kerja sama suatu koperasi. Koperasi menghadirkan suatu perjalanan dengan rasa syukur atas hasil yang dicapai demi kesejahteraan bersama.
Koperasi, kata Uskup Turang, adalah wirausaha dari cinta kasih. Pelaksanaan cinta kasih secara efektif dalam perjuangan sejahtera bersama dari masyarakat, khususnya keluarga-keluarga ekonomi lemah.
Kesejahteraan hidup bersama mencakup suatu sikap hidup yang terungkap dalam kerja sama saling percaya dan saling melengkapi di dalam upaya untuk memenuhi pemberdayaan hidup manusiawi yang berkelanjutan.
Alumni Universitas Gregoriana Roma itu mengatakan, model dari KSP adalah satu sektor baru dimana koperasi memusatkan pemikiran, karena usaha koperasi memadukan logika perusahaan dan logika solidaritas. Dengan demikian, orang tidak boleh lupa bahwa paradigma dari usaha koperasi yang berdasarkan antar hubungan dan tidak pada keuntungan, berjalan berlawan arah dengan arus pemikiran ekonomi dewasa ini.
"Saya dengar dari sambutan Ketua Pengurus KSP TLM, (Pdt. Emeritus Semuel Victor Nitti, red) bahwa kopersi ini akan diubah menjadi koperasi jasa. Saya hanya bilang dari pengalaman saya, hati-hati," kata mantan Ketua Komisi Sosial Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) itu.
Kekayaan sejati koperasi, sebit Uskup Turang, adalah antar hubungan. Bukan pada barang-barang material dan finansial atau suatu berhala yang membawa dampak terus-menerus dengan coraknya yang tidak manusiawi dan tidak adil, yang pada akhirnya memiskinkan.
"Dengan berjalan dan bekerja sama kita mengalami suatu keajaiban yang besar dari pengharapan. Semua menjadi mungkin. Dalam hal ini usaha koperasi merupakan sebuah cara efektif yang membuat pengharapan menjadi nyata dalam perjalanan hidup orang-orang yang terhimpun di dalamnya," kata uskup yang lama bergelut sebagai fasilitator Credit Unit sejak tahun 1979-1996 itu.
Menurut Uskup Turang, dalam koperasi yang paling penting adalah anggota. Tidak ada yang lebih tinggi dari anggota. Jika kebijakan koperasi hanya ditentukan oleh pengurus, maka koperasi tersebut tidak akan bertahan lama. Apalagi koperasi yang terlalu sering mendapatkan bantuan modal dari luar dan salah mengelolanya.
"Di republik ini pemerintah terlalu baik dengan memberi modal bagi koperasi. Tapi kadang manajemen mulai kelola sesuka hati. Ini yang bahaya," tandasnya.
Usaha koperasi yang benar dan waras, lanjut Uskup Turang, harus menjadi wadah yang terbuka, dimana semua orang yang berkehendak baik bergerak bersama untuk mewujudkan keseimbangan antar hubungan serta mendorong keuntungan bersama.
Untuk itu, kerja sama yang profesional mudah-mudahan tumbuh dan berkembang dalam perjalanan usaha koperasi dengan mengandalkan keterlibatan seluruh anggota dalam menetapkan kebijakan usaha koperasi.
Selanjutnya, manajemen koperasi harus menjadi sarana untuk menggerakan keterlibatan semua pihak agar antar hubungan dalam bentuk tabungan, pinjaman dan pengembalian dapat berjalan dalam bingkai sikap hidup yang saling percaya, saling membantu, saling melengkapi dan saling memberdayakan. Dengan demikian kelumpuhan sosial dapat mengalami perubahan karena koperasi dibangun antar hubungan yang sederhana, efektif kreatif dan inklusif.
"Saya ucapkan selamat kepada KSP TLM atas pelaksanaan RAT ini. Semoga usaha anda berjalan dengan baik. Tidak usah takut cari anggota dari Gereja Katolik untuk memperkuat KSP TLM, karena dalam uang tidak ada tertulis Katolik, Protestan, Islam, Hindu dan Budha. Uang juga tidak berbau Protestan, Katolik, dan agama-agama lainnya," tutup Uskup Turang.(FP-05).
