Inovasi Kerajinan Bambu di Sikka Laku di Pasaran
ยทwaktu baca 3 menit

MAUMERE - Sisi positif dari pandemi COVID- 19 yakni mampu meningkatkan kreativitas pelaku usaha agar tetap berjuang untuk mempertahankan ekonomi keluarga di tengah kondisi yang serba tidak pasti.
Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terus memproduksi aneka produk yang unik dan bernilai ekonomis untuk dijual agar tetap bertahan hidup.
Salah seorang pelaku UMKM di Kabupaten Sikka, Wihelmus Blasius (59) warga Ritat, Desa Manubura, Kecamatan Nele, Kabupaten Sikka, NTT yang ditemui florespedia, Sabtu (7/5) merupakan salah satu contoh pelaku UMKM yang tetap eksis memproduksi aneka kerajinan dari bambu.
Blasius yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu, kini beralih menjadi pengrajin aneka produk yang berbahan bambu yang unik dan bernilai jual tinggi.
Blasius memulai usahanya hanya membuat kursi dan meja dari bambu dengan sarana peralatan sederhana. Setelah usahanya berkembang lalu mencoba inovasi baru.
Dari hasil jualan kursi dan meja dari bambu, Blasius mulai membeli perlengkapan peralatan kerja untuk kelancaran usahanya.
"Awalnya saya buat kursi dan meja. Saya mencoba inovasi baru dengan membuat lampu hias, tempat tidur santai, rak buku, lemari hingga sofa aneka model," kata Blasius.
Blasius mengakui bahwa kelangsungan usahanya itu mendapat dukungan penuh dari pemerintah Desa Manubura. Mulai dari bantuan mesin, mesin potong dan mesin bor.
Blasius mengakui hingga saat ini untuk pemasaran masih sebatas dari mulut ke mulut bagi orang sudah memesan produk dari bambu miliknya.
"Saya jarang promosi, karena lebih banyak orang datang pesan baru saya kerja. Setiap hari saya kerja yang orang sudah pesan," kata Blasius.
Blasius mengakui untuk tempat tidur santai dengan bahan dasar bambu saja, ukuran 60 cm x 200 cm seharga Rp 350.000. Sedangkan yang pakai spon dijual seharga Rp.1.000.000.
Sedangkan ukuran 1,20 cm x 200 cm dijual seharga Rp 500.000. Sedangkan yang menggunakan spon dengan ukuran yang sama dijual seharga Rp.1.500.000
Sedangkan kursi bambu tanpa spon, untuk satu set seharga Rp 2.000.000. Sedangkan kursi sofa
Sudut (menggunakan spon) dijual seharga Rp.3.500.000.
Petrus Yohanes Fernandez, Kepala Desa Manubura mengakui kreatifitas, solidaritas dan semangat gotong royong warganya di masa pandemi COVID-19 sangat tinggi.
Menurut Fernandez, industri kerajinan bambu terdapat beberapa kelompok masyarakat. Selain itu ada kelompok pandai besi, kelompok tenun ikan, kelompok budidaya sayur dengan metode hidroponik dan budidaya ikan lele.
Kepada seluruh usaha kelompok dan industri kecil yang ada desanya menjadi prioritas untuk dicover melalui dana desa. Hal itu agar usaha mereka makin berkembang.
"Kami sangat mendukung usaha kelompok ataupun perorangan melalui alokasi dana desa. Kami mau agar usaha mereka tetap eksis dan berkembang," kata Fernandez.
Apabila usaha kelompok ataupun industri usaha kecil yang tidak bisa tercover melalui dana desa, sebagai kepala desa, selalu berusaha mencari sumber dana dari Dinas Teknis terkait.
"Kalau tidak bisa tercover melalui dana desa, saya mencari dana melalui Dinas Teknis terkait, seperti Dinas Sosial, Dinas Perindustrian dan Dinas Koperasi," jelas Fernandez.
Kontributor : Athy Meaq
