Konten Media Partner

Jalan Rusak Diterjang Abrasi, Rumah-Sekolah di Nangahale, Sikka juga Terancam

florespediaverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keterangan foto: Kepala Desa Nangahale Solahudin yang ditemani kepala Dusun saat melihat kondisi abrasi di Nangahale, Senin (19/12/2022). Foto: Athy Meaq.
zoom-in-whitePerbesar
Keterangan foto: Kepala Desa Nangahale Solahudin yang ditemani kepala Dusun saat melihat kondisi abrasi di Nangahale, Senin (19/12/2022). Foto: Athy Meaq.

MAUMERE-Jalan lingkar luar pemukiman Nangahale putus diterjang abrasi. Puluhan rumah warga, dua sekolah, belasan rumah produksi garam serta pekuburan umum terancam abrasi.

Demikian dikatakan Kepala Desa Nangahale, Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka NTT, Solahudin, kepada media ini Senin (19/12/2012) siang.

"Kalau jalan ini putus tahun lalu. Ada puluhan rumah, 2 sekolah, belasan rumah produksi garam, dan pemakaman umum terancam abrasi," kata Kepala Desa Nangahale.

Dua sekolah yakni MI dan SMP Al-fatah Nangahale. Di mana setelah jalan di depan kedua sekolah itu putus diterjang abrasi pantai, apabila air pasang, maka air laut masuk dalam halaman sekolah bahkan dalam kelas.

Kondisi ini lanjut Solahudin tentu sangat mengganggu kegiatan belajar dan mengajar baik oleh tenaga pendidik maupun anak didik serta ruang guru dan perpustakaan.

Hal yang sama untuk puluhan rumah warga di pesisir, di mana 7 rumah sering kemasukan air laut dan lainnya menggenangi halaman rumah warga.

Sedangkan belasan rumah produksi garam, tidak bisa beraktifitas apabila kondisi air laut pasang. Karena air laut masuk sampai ke perapian untuk masak garam.

"Kalau air laut pasang, apalagi di musim tenggara atau musim barat, kasih mereka tidak bisa masak garam. Sedangkan mereka tidak punya kebun," kata Solahudin.

Fasilitas lainnya yakni pemakaman umum umat muslim di Nangahale, yang selalu terendam air laut saat musim tenggara. Kondisi ini membuat sejumlah kubur rusak akibat abrasi.

"Selama saya jadi kepala desa, sudah dua kubur yang ambruk akibat abrasi. Ini sangat memprihatinkan kita bersama," kata Solahudin.

Menurut Solahudin, di zaman Kepala BPBD Sikka Daeng Bakir, sudah dilakukan pengukuran sepanjang 300 meter. Bahkan lanjut Solahudin oleh kontraktor pemenang tender sudah drop material.

"Kalau saya tidak salah kontraktornya Dewi Sartika, sudah drop material dan sudah mulai kerja. Tapi kemudian dihentikan katanya tidak ada anggaran," kata Solahudin.

Ia berharap kepada Dinas Teknis terkait bersama DPRD Sikka untuk memperjuangkan pembangunan tanggul penahan gelombang di Nangahale untuk menyelamatkan puluhan warga dan fasilitas umum.

Anggota DPRD Sikka dari Fraksi Golkar, Frans Parera, kepada media ini berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas Teknis terkait, agar bisa di anggarkan di tahun anggaran berikutnya.

"Sebagai wakil rakyat, kami akan koordinasikan dengan pemerintah untuk menjadi perhatian serius," kata Frans Parera.

Kontributor : Athy Meaq.