Jelang Paskah, Pekerja Salon Lembata Gelar Aksi Gunting Rambut Anak Panti Asuhan

LEWOLEBA - Komunitas Salon Lembata (KSL), Provinsi Nusa Tenggara Timur memulai safarinya menjelang hari raya Paskah, Minggu (28/3) petang hingga malam.
Komunitas pekerja ini mengunjungi Panti Asuhan Don Bosko dan Panti Asuhan Wilhelmus Lewoleba, menggunting rambut gratis bagi puluhan anak panti asuhan.
Gunting rambut gratis ini dilakukan belasan pekerja salon yang tersebar di kabupaten Lembata.
Pekerja salon Lembata membawa sendiri peralatan gunting rambut dari salonnya, kemudian mengunjungi dua panti asuhan, menggunting satu per satu rambut anak-anak terkategori terlantar itu.
Sebagaimana disaksikan media di Panti Asuhan Wilhelmus, Kota Baru, wajah anak-anak panti seketika berubah menjadi lebih segar dan terurus karena sentuhan artistik dari para pekerja salon ini.
Meski sudah merubah penampilan anak-anak menjadi lebih segar, komunitas profesional ini tidak meminta sepeser pun uang.
Rini Baguhari, Ketua Komunitas Pekerja Salon Kabupaten Lembata, disela kegiatannya mengatakan, komunitas yang dipimpinnya itu berusaha untuk membantu anak anak panti asuhan sesuai kemampuan yang dimiliki.
"Kita berusaha untuk berbagi dalam memaknai hari raya Paskah yang sebentar lagi dirayakan umat Kristiani. Berbagi itu bisa dalam bentuk karya seni. Contoh salah satunya, gunting rambut gratis di panti asuhan Don Bosko dan Wilhelmus ini," ujar Rini Bangunhari.
Menurut Bangunhari, aksi seperti ini dilaksanakan jelang setiap hari raya. Menjelang hari raya Lebaran pun KSL tetap melakukan aksi serupa.
Komunitas ini dibentuk 14 Februari. Kegiatan bersama pun di gagas dengan melakukan arisan setiap dua minggu sekali. Komunitas ini beranggotakan 31 orang yang tersebar di berbagai wilayah Lembata.
Baguhari berharap komunitas seni rias yang dipimpinnya itu (KSL-red), dapat menjalin kerjasama dalam even-even yang dikerjakan pemerintah.
"Kalau boleh saat event penyambutan tamu maupun acara pembukaan Eltari Memorial Cup nanti, pemerintah percayakan KSL mengerjakan tata rias bagi penari- penari yang akan menyambut tamu undangan maupun dalam opening ceremony. Kami siap bekerjasama," tutur Bangunhari.
Sementara itu Agustina Maing, Pendiri Yayasan dan pelaksana harian Panti Asuhan St.Wilhelmus Lembata, NTT menyambut baik kegiatan komunitas Salon Lembata ini.
Dikatakan, Panti Asuhan yang dipimpinnya memang belum memikirkan biaya untuk menata penampilan anak anak, terutama putri.
Kini panti asuhan tersebut memiliki 7 ruangan serta menampung 12 anak anak dan perempuan dewasa yang terkategori terlantar dan ditelantarkan para suami.
Guna mengatasi kesulitan kamar itu, pihak panti asuhan pun terpaksa merubah gudang menjadi kamar tidur bagi anak anak.
Terhadap aksi dari KSL ini pihaknya memberi apresiasi. Bagi dia, hal yang dilakukan ini selain memberi warna berbeda dari perhatian anak-anak pantinya, namun lebih dari pada itu merupakan wujud kecintaan atas keseharian anak-anaknya.
