kumparan
KONTEN PUBLISHER
20 Juni 2019 15:53

Jembatan di Flores Ambruk: Anak-anak SD Meniti Sungai Tiap Bersekolah

WhatsApp Image 2019-06-20 at 09.57.04.jpeg
Murid SD Satu Atap Nanga Lanang, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, menyeberangi Sungai Pinarangkat saat pergi sekolah, Rabu (19/6). Foto: florespedia/kumparan.com
BORONG - Jembatan darurat di Desa Lidi, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur, ambruk akibat dihantam banjir usai hujan deras selama 2 pekan terakhir. Padahal jembatan itu sehari-hari digunakan anak-anak Desa Lidi untuk menyeberangi Sungai Pinarangkat kala berangkat dan pulang sekolah.
ADVERTISEMENT
Dengan ambruknya jembatan yang terbuat dari kayu tersebut, anak-anak Desa Lidi kini terpaksa menyeberangi Sungai Pinarangkat yang cukup dalam.
"Di sini ada jembatan darurat yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Tetapi tanggal 13 Juni kemarin ambruk dihantam banjir. Sekarang anak-anak ke sekolah harus bertaruh nyawa di Sungai Pinarangkat ini," ungkap Theodorus Pamput, tokoh masyarakat Desa Lidi dalam keterangan tertulis yang diterima florespedia, Kamis (20/6). 
"Tidak hanya anak-anak, para guru juga harus menyeberangi air sungai yang besar menuju sekolah," sambungnya. 
Theodorus mengatakan anak-anak itu diantarkan oleh orang tua mereka saat menyeberangi sungai agar bisa sampai di sekolah.
"Kalau tidak seperti ini, anak-anak kami tidak bisa ke sekolah. Kasihan, kan, kalau anak-anak tidak bisa ke sekolah," kata Theodorus.
ADVERTISEMENT
Dia berharap Pemerintah Daerah (Pemda) Manggarai Timur segera membangun jembatan yang baru. Menurut Theodorus, ini bukan pertama kalinya anak-anak Desa Lidi harus menyeberangi sungai itu untuk bersekolah.
"Kalau musim kering masih bagus. Tetapi kalau sudah hujan begini, nyawa anak kami pun terancam karena air sungai terlalu deras," tutur Theodorus. 
WhatsApp Image 2019-06-20 at 09.57.04 (1).jpeg
Arus sungai biasanya cukup deras ketika musim hujan, sehingga murid SD dan SMP Satu Atap Lanang harus menunggu arus mengecil untuk menyeberang, baik saat berangkat maupun pulang sekolah. Foto: florespedia/kumparan.com
Sementara itu, Kepala Sekolah Menengah Pertama (SMP) Satu Atap Nanga Lanang, Silvester Jhon, mengatakan ambruknya jembatan yang membuat murid dan guru harus menyeberangi sungai mengakibatkan aktivitas pendidikan SD dan SMP Satu Atap Nanga Lanang terganggu.
"Air laut pasang di sungai atau muara tersebut. Siswa dan guru akan bergerak pulang sekolah harus menunggu air surut. Untuk pagi, anak-anak dan orang tua menyeberangi sungai. Ada juga yang bisa menyeberang sendiri," ungkap Jhon. 
ADVERTISEMENT
Jhon menjelaskan Sungai Pinarangkat merupakan akses penghubung sekaligus pembatas antara Desa Lidi dengan Desa Beangencung. Sebagian besar murid SD dan SMP Satu Atap Nanga Lanang berasal dari Desa Beangencung, sedangkan lokasi sekolah itu ada di Desa Lidi.
"Kami tidak minta yang lain (kepada Pemda Manggarai Timur), cukup bangun jembatan saja. Kasihan anak-anak dan para guru setiap musim hujan harus melawan arus sungai menuju sekolah," ujarnya. (FP-01).
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan