Jembatan Tambatan Perahu Nangahale Alami Pendangkalan, Nelayan Sulit Berlabuh
·waktu baca 3 menit

MAUMERE - Jembatan Tambatan Perahu (JTP) Nangahale di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang dibangun tahun 2010 dari sumber dana Kementrian Perhubungan melalui Dirjend Perhubungan Laut dalam mendukung akses transportasi laut mengalami pendangkalan.
Akibatnya, sejumlah kapal motor nelayan dan perahu motor sarana transportasi tradisional antar pulau, dari Nangahale menuju Kojadoi, Kojagete, Dambila, dan Perumaan sulit untuk berlabuh.
Demikian dikeluhkan oleh para pemilik perahu motor di Nangahale kepada florespedia, Kamis (18/11), terkait kondisi JTP Nangahale yang rusak dan mengalami pendangkalan.
"Kami sulit berlabuh di dermaga karena sudah penuh dengan material pasir. Kalau air surut kering di depan dermaga. Jadi sama sekali tidak bisa sandar. Terpaksa kami berlabuh di tengah," kata Juanda (50), salah nelayan saat ditemui.
Menurut Juanda, kondisi JTP yang dibangun tahun 2010 lalu, selain mengalami pendangkalan juga sudah mengalami kerusakan sejak tahun 2015 yang lalu. Dimana sebagian sisi JTP itu ambruk diterjang gelombang pasang.
Hal itu diperparah lanjut Juanda pada saat musim barat atau musim tenggara setiap tahun. Dimana terjadi ombak besar selain menghantam JTP juga membawa material berupa pasir dan batu berukuran kecil.
Zubaidah (38) salah seorang warga setempat yang ditemui di JTP Nangahale menuturkan bahwa ambruknya sebagian JTP Nangahale karena ulah beberapa kapal motor berkapasitas 30 GT ke atas yang sering bongkar barang.
"Banyak kapal besar yang bongkar barang di sini. Truk besar yang berbeban berat lalu lalang sehinggal jebol. Ada kapal yang bongkar kayu, bongkar beras dan bongkar pakaian bekas," kata Zubaidah.
Pantauan media ini di JTP Nangahale Kamis (18/11) siang, JTP Nangahale ambruk di beberapa bagian. Selain itu dibagian tengah JTP jebol, diduga karena dilalui kendaraan yang berbeban berat.
Selain di sisi bagian barat JTP Nangahale dpenuhi pasir yang membuat dangkal JTP tersebut. Sebuah lubang berdiameter dua meter itu di bagian tengah JTP, oleh warga sekitar menimbun material batu dan sampah.
Solahudin (42) seorang nelayan tangkap mengatakan setiap hari membeli es batu di pabrik es Nangahale DKP Sikka. Akibat tidak bisa sandar di JTP terpaksa menggunakan perahu kecil untuk angkut es batu dari pantai ke kapal.
"Kalau air pasang, kami pakai titian dari papan panjang sehingga bisa langsung kasih naik ke kapal. Tapi kalau air surut, kami harus angkut dengan perahu dari pantai ke kapal," kata Solahudin.
Nelayan dan pemilik kapal motor berharap pemerintah perhatikan JTP Nangahale untuk diperbaiki. Dimana JTP itu merupakan satu-satunya sarana pendukung akses transportasi menuju pulau Kojadoi, Pulau Besar, Pulau Dambila dan Pulau Perumaan.
Secara terpisah Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka Us Minggo kepada media ini menjelaskan terkait kondisi JTP Nangahale belum mendapat laporan terkat kerusakan dan pendangkalan.
Kendati demikian, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Sikka berjanji akan segera turun ke JTP Nangahale untuk melihat kondisi yang ada, agar bisa diusulkan kepada pemerintah pusat.
"Besok saya akan turun ke JTP Nangahale, untuk melihat kondisi JTP Nangahale. Kami akan buatkan laporan ke pemerintah pusat agar bisa dianggarkan di tahun anggaran berikutnya," ujarnya.
Kontributor : Athy Meaq
