Keluarga di Manggarai Ini Tinggal di Rumah Reyot Berlantaikan Tanah

RUTENG - Menempati rumah layak huni tentu menjadi idaman bagi setiap manusia. Kendati demikian, realitasnya masih banyak ditemukan warga yang menempati rumah reyot dengan kondisi serba kekurangan.
Seperti yang dialami satu keluarga asal Desa Ruis, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai, yang tinggal di gubuk reyot, beralaskan tanah dan berdindingkan dari bilah bambu.
Rumah yang ditempati sepasang suami istri dengan 4 orang anak ini, kondisinya sungguh memprihatinkan dan jauh dari kata layak.
Informasi yang dihimpun media ini, Kamis (12/11/2020), rumah petani itu berukuran kecil dengan dinding pelupuh bambu, mempunyai satu kamar tidur, dan sebuah dapur.
Rumah berukuran 5x6 meter ini memiliki perabot rumah yang terbatas. Dinding rumah tampak bolong di berbagai sisi. Jika musim hujan dan angin, dipastikan air bisa memasuki bagian dalam rumah.
Rumah reyot ini juga belum memiliki penerangan listrik. Keempat kakak beradik setiap malamnya belajar dengan penerangan lampu pelita.
Salah seorang tetangga dari keluarga yang tinggal di rumah reyot ini, Herman mengatakan keluarga ini tinggal di tengah kemelaratan.
Sementara Dau Nisan Bolu (45), sang kepala keluarga, hanya bekerja sebagai petani penggarap lahan milik warga lain.
Sebagai seorang perantauan dari Sumba, Dau Nisan Bolu tidak memiliki tanah untuk bertani. Sehingga, ia bekerja serabutan mengolah lahan pertanian milik warga lain.
"Kehidupan keluarga Pak Nisan memang sangat memprihatinkan sehingga perlu mendapat perhatian, terutama pada tempat tinggal yang sangat tidak layak," kata Herman.
Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Manggarai agar memberikan bantuan berupa perbaikan rumah layak huni bagi keluarga ini.
"Semoga dengan diberitakan oleh teman-teman media, maka Pemkab Manggarai mengetahui kalau ternyata ada warganya yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan bantuan," jelasnya.
Sementara itu, Kristina Ince (42) menyatakan, suaminya hanya bekerja sebagai petani dengan penghasilan yang tidak tetap.
Kristina tinggal dengan empat anaknya. Yang tertua masih duduk di SMA dan yang paling kecil berusia tujuh tahun empat bulan.
"Kami tinggal di sini suda puluhan tahun, selama puluhan tahun kami tinggal di tempat ini dengan kondisi seperti ini belum dapat bantuan sama sekali," ungkapnya.
Kristina berharap bantuan dari pemerintah setempat agar mereka bisa menempati rumah yang lebih layak.
"Lihat saja kondisinya pak, mau rehap kami tidak punya biaya, makan setiap hari saja susah, mana lagi biaya anak yang masih di SMA," tutupnya.
Kontributor: Engkos Pahing.
