Konten Media Partner

Kisah Rius Purab, dari Penjual Daging Babi ke Penyedia Jasa Angkutan

florespediaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Rius Purab bermodalkan mobil pick up miliknya, dia menjajakan jasa angkutan ke beberapa tokoh bangunan di Kota Lewoleba. Foto : Teddi Lagamaking
zoom-in-whitePerbesar
Rius Purab bermodalkan mobil pick up miliknya, dia menjajakan jasa angkutan ke beberapa tokoh bangunan di Kota Lewoleba. Foto : Teddi Lagamaking

LEWOLEBA - Jika pandemi COVID-19 membuat aktivitas masyarakat terhambat, maka virus ASF menyebabkan peternak dan penjual daging babi kewalahan.

Hal itu nyata dalam keseharian masyarakat di NTT, termasuk salah satunya para peternak babi di Kabupaten Lembata.

Bayangkan saja, sejak awal Januari hingga akhir Maret 2021 sebanyak 6873 ekor babi di Kabupaten Lembata mati terserang virus Africa itu.

Akibatnya, banyak peternak babi merugi hingga ratusan juta rupiah, termasuk para penjual daging babi kiloan di Kota Lewoleba.

Tidak sampai disitu, rupanya kondisi ini juga membuat peternak/pedagang babi harus membanting stir mencari pekerjaan lain. Mereka akhirnya beralih profesi.

Sebelum virus ASF menyerang ternak babi di kabupaten Lembata, Rius Purab menekuni usaha sebagai penjual daging babi kiloan. Foto : Teddi Lagamaking

Hal ini sama seperti yang dialami Rius Ladopurab. Awalnya, ayah dua anak ini menekuni pekerjaan sebagai peternak sekaligus penjual babi.

Pekerjaan yang sudah berjalan sejak 2018 silam itu terpaksa harus terhenti lantaran Lembata dilanda Demam Babi Africa.

"ASF memang mematikan, tidak ada vaksin sampai sekarang. Saya rencananya mau piara lagi tapi masih trauma", ungkap Rius kepada wartawan di kediamannya di Wangatoa, Minggu (6/6).

Rius menceritakan, jauh sebelum virus African Swine Fever masuk Lembata dirinya mampu meraup untung hingga belasan juta rupiah.

Dari keuntungan itu, menurutnya, sebagian untuk modal beli babi dan jual, sebagian lagi disimpan, sementara sisanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

"Kita beli yang harga dua jutaan per ekor, kita potong, leis baru jual lagi, harga 75.000 per kilo. Sehari paling top satu ekor untuk 100 kilo", ujar pria 35 tahun ini.

Kendati demikian, usaha yang dirintisnya sejak 2019 itu tidak bertahan lama. Bisnisnya harus gulung tikar alias merugi lebih cepat dari yang diharapkan.

Padahal salah satu targetnya yakni membentuk kelompok peternak babi sekaligus menyiapkan pasar khusus daging babi di kota Lewoleba.

Menyikapi gejolak tersebut, pria lulusan Politeknik Negeri Kupang ini terpaksa beralih profesi.

Kalau dulu dirinya adalah penjual daging babi, kini ia harus bekerja sebagai penyedia jasa angkutan kendaraan.

Ia diuntungkan dengan sebuah mobil Pickup miliknya. Bermodalkan itu dirinya nekat.

Rupanya, Rius mulai berjudi. Bermodalkan mobil pick up miliknya dia menjajakan jasa ke beberapa tokoh di dalam kota Lewoleba.

Alhasil, pria 35 tahun itu mampu menjalin kerja sama dengan beberapa tokoh yang khusus menjual material bahan bangunan.

"Saya komunikasi dengan pemilik toko, muncul ide, bisa tidak barang mereka saya ambil jual tapi saya ambil frak kendaraan saja, nah akhirnya mereka (bos tokoh) bersedia", paparnya.

Sebagai akibatnya, ayah dua anak ini mampu menemukan lapangan kerja baru. Dia bisa kembali bekerja normal meski harus ekspansi profesi.

"Saya minta, kalau bisa dinas segera siapkan bibit anak babi supaya kami beli, piara dan bisa jual lagi", harap lelaki perawakan hitam ini.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Lembata, Kanis Tuaq sudah memberi keleluasan kepada masyarakat untuk kembali memelihara babi.

Asalkan, protokol kesehatan hewan harus selalu diterapkan dengan benar. Jika tidak bisa berakibat fatal.

"Sudah bisa piara lagi, tapi ada syarat, tegakan pro keswan yang ketat, bibit untuk sekarang belum bisa bawa dari luar, cukup beli bibit dari warga yang masih punya stok di kandang", tukas Kanis beberapa waktu lalu.