Maumere Swimming Club Wadah Bibit Baru Perenang di Sikka
ยทwaktu baca 5 menit

MAUMERE- Sore itu di kolam renang Hotel Pelita, Kota Maumere, dipenuhi anak-anak yang tengah berlatih renang. Kurang lebih ada 15 anak dari rentang usia 6 tahun sampai usia remaja tekun berlatih beragam gaya renang.
Dalam berlatih renang, mereka dipandu oleh seorang pelatih renang bersertifikat nasional, Beatus Lusrin Ben Bara atau akrab disapa Coach Lusri.
Kepada media ini, Senin (23/8) sore, Coach Lusri menuturkan, dirinya mendirikan club renang Maumere Swimming Club karena melihat potensi anak - anak Sikka sangat luar biasa dalam renang, namun tidak memiliki organisasi khusus untuk tempat berlatih dan menempah diri.
Optimisme akan potensi anak-anak Sikka dalam olahraga renang ini berangkat dari fakta geografis bahwa Kabupaten Sikka adalah daerah maritim kepulauan, semestinya bisa menghasilkan perenang yang berprestasi. Dari kecil anak-anak Sikka sudah diajarkan untuk berlatih renang secara alami di laut.
"Kita ini kan daerah kepulauan, pasti ada banyak potensi perenang, hanya kan selama ini tidak ada wadah yang bisa mengakomodir mereka. Dari situ saya berpikir kenapa tidak, saya buatkan satu wadah untuk mereka berlatih," ungkap Coach Lusri.
Ia berharap lewat klub renang yang ia dirikan ini bisa melatih bakat dan minat anak dalam olahraga renang.
Dijelaskan Coach Lusri, klub renang Maumere Swimming Club terbentuk secara resmi di 21 Maret 2016. Namun, aktivitas latihan renang dilakukan sejak 2014.
"Dalam perjalanan saya berpikir harus dikukuhkan segera. Akhirnya 2016 itu terbentuk klub renang Maumere Swimming Club. Puji Tuhan, sampai sekarang masih berjalan," ungkap Coach Lusri.
Lanjutnya, sejak 2014 sampai saat ini, telah banyak anak-anak yang bergabung dan melatih diri di Maumere Swimming Club.
Dalam memberikan pelatihan renang kepada anak-anak, dirinya membagi kelas dalam kategori kelas privat dan kelas prestasi. Untuk kelas privat, diterima mulai dari usia 6 tahun sampai usia dewasa.
Untuk kelas privat, dirinya memberlakukan iuran per 8 kali pertemuan. Namun, untuk kelas prestasi, dirinya membebaskan dari iuran.
Sedangkan kelas prestasi ini dikhususkan untuk anak-anak yang berpotensi untuk mengikuti kejuaraan renang maupun yang telah berprestasi.
"Mereka bermula dari kelas privat. Kalau mereks kita lihat punya potensi iadi atlit, kita dorong dalam kelas prestasi," ungkapnya.
Dalam melatih anak-anak dalam olahraga renang, dirinya selalu menekankan untuk mencintai proses.
Dirinya merass bersyukur mendapat dukungan penuh dari orang tua anak yang tergabung di klub renangnya.
"Saya selalu ingatkan adik-adik harus mencintai proses. Dalam berenang yang penting konsisten. Pasti lama - lama akan jadi bagus," ungkap Coach Lusri.
Ditambahkan Coach Lusri, prestasi yang telah diraih oleh anak - anak Sikka yang mengikuti kejuaraan renang baik regional maupun nasional. Salah satu prestasi membanggakan yang diraih yakni pada tahun 2019 dimana provinsi NTT pertama kali meraih juara di Olimpiade Siswa Olahraga khususnya di tingkat SMK.
"Waktu itu lomba renang tingkat SMK kita memperoleh 2 medali perunggu," ungkap Coach Lusri.
Ditanya terkait tantangan dalam melatih anak - anak dalam menekuni olahraga renang, kata Coach Lusri, tantangannya lebih kepada ketersediaan sarana prasarana.
"Contohnya kolam renang sampai sekarang kita belum ada kolam renang yang standar. Sebenarnya kita mau berprestasi, kita harus berlatih di kolam renang standar, mungkin dengan panjang 50 meter, lebarnya 25 meter. Sejauh ini, kuta berenang disini sebenarnya di dunia renang itu tidak efektif untuk latihan karena panjang kolam hanya 15 meter," ungkapnya.
Namun demikian, jika anak-anak akan mengikuti perlombaan, dirinya melatih anak tersebut untuk berenang di laut. Uji cobanya untuk berenang panjang.
Walaupun dengan keterbatasan yang ada, Coach Lusri mengungkapkan, dirinya bertekad di tahun 2028, paling kurang salah satu anak binaan bisa masuk mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON).
Salah seorang anak yang berlatih di Maumere Swimming Club, Andi Muhamad Akbar Arsul mengatakan dirinya berlatih renang di klub renang ini sejak 3 tahun lalu. Dirinya sudah pernah menjuarai lomba renang gaya dada 50 meter, dimana ia meraih juara 3 dalam Kejuaraan Komodo Open 2019.
Anak lainnya, Joseph Fitzgerald (10 tahun), siswa SDK Bhaktyarsa Maumere mengungkapkan, dirinya sudah pernah mengikuti Komodo Open di Kupang. Dalam lomba tersebut, dirinya meraih perak atau juara 2.
Salah satu orang tua anak, Cristian, menuturkan, anaknya Endro telah berlatih renang di Maumere Swimming Club dari awal Januari 2021.
Dirinya memasukkan sang anak berlatih di klub renang ini karena melihat anaknya yang suka berenang dan menghabiskan waktu berjam-jam berenang.
Menurutnya, dengan berlatih renang selain anaknya bisa berbadan sehat, seiring berjalannya waktu, mungkin ada potensi untuk bisa menjadi seorang atlet.
"Awalnya kita pikir ya lesnya saja supaya bisa tau berenang, bisa berkembang secara peminatan di air. Tetapi kemudian dengang berjalannya waktu kita merasa dia lebih bagus terus -terusan berlatih berenang. Melihat perkembangan berlatih berenangnya itu menjadi lebih baik dengan teknik yang benar sebagai seorang perenang," ungkap Christian.
Ia menuturkan, walaupun mengeluarkan anggaran sebesar Rp.500 ribu per bulan untuk membiayai pelatih maupun kolam renang, namun baginya, biaya tersebut masih terjangkau.
Kendati demikian, dirinya berharap, ada perhatian dari Pemkab Sikka terhadap olahraga renang.
Olaraga renamg ini mungkin tidak populer di kabupaten sikka, tapi kalau kita melihat geografis Kabupaten Sikka ini, kabupaten kepulauan. Potensi untuk olaraga perairan itu bagus sebenarnya. Olaraga renang itu mempunya potensi yang besar terutama untuk menghasilkan prestasi. Dengan potensi yang ada dan pelatih berlisensi nasional, cukuplah kita minta pemerintah untuk mempunyai perhatian lebih untuk olaraga renang," ungkap Christian.
