Mbaru Wunut, Ngopi Sore Sambil Bernostalgia Dengan Manggarai Masa Lalu

RUTENG - Di Flores, khususnya di Kabupaten Manggarai, menikmati kopi telah menjadi warisan turun-temurun dari leluhur. Jadi, jangan heran saat sedang menyambangi rumah keluarga atau teman di Manggarai, anda akan disuguhkan kopi. Semuanya gratis tanpa merogoh saku.
Seiring perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup, kini menikmati kopi tak harus di rumah. Banyak orang memilih tempat tongkrongan di luar rumah, mulai dari warkop hingga kafe-kafe dengan spot foto "medsosable".
Di Ruteng, ibukota Manggarai pada beberapa tahun belakangan, kafe-kafe telah banyak berdiri karena tuntutan kebutuhan terutama karena Flores adalah surga Kopi dan destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan baik domestik maupun asing.
Selain itu, di Kota Kecil yang berada di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut, Ruteng memiliki udara yang cukup dingin dan menjadikannya salah satu kota terdingin di Indonesia versi GoodNews From Indonesia. Rasa-rasanya, kopi bisa jadi tameng melawan dinginya kota kecil itu.
Di Ruteng, selain menikmati kopi di kafe-kafe atau warkop pinggir jalan, Mbaru Wunut bisa jadi salah satu rekomendasi untuk habiskan kopimu bersama kolega atau keluarga. Disana, menikmati kopi dengan suasana outdoor ditengah hilir mudik kesibukan warga kota menjadi keistimewaan tersendiri.
Tentang Mbaru Wunut
"Mbaru Wunut" sendiri jika diterjemahkan secara bebas berarti Rumah Ijuk. Mbaru wunut ini merupakan rumah adat simbol sejarah peradaban Manggarai. Pada masa lalu, tempat ini merupakan istana bagi Raja Alex Baroek, pemimpin kerjaan Manggarai sejak tahun 1930 atau 15 tahun sebelum Indonesia merdeka.
Selain sekedar menikmati kopi, tempat ini tentu bisa menjadi cerminan untuk melihat kembali jejak-jejak peradaban masa lampau yang makin terkubur. Di halaman Istana Raja Baroek itu, kini telah berdiri kokoh patung Motang Rua, pahlawan asal Manggarai yang gigih mengusir penjajah saat perang melawan Belanda.
Patung yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai ini sempat menuai polemik karena dinilai tidak relevan dengan asal-muasal Mbaru Wunut sebagai istana Raja Baroek. Penolakan itu datang dari berbagai kalangan, seperti budayawan termasuk politisi di daerah itu.
“MENGAPA TIDAKCMENEMPATKAN PATUNG MOTANG RUA DI LAPANGAN MOTANG RUA???? Dalam polemik soal penempatan Patung Motang Rua, saya berpendapat bhw Patung Motang Rua sebaiknya ditempatkan di Lapangan Motang Rua sebagai pengingat bahwa lapangan itu dinamakan “Motang Rua”, untuk mengenang seorang pahlawan yang pernah berjuang melawan Belanda. Kalau ditempatkan di Mbaru Wunut (apalagi dengan ukuran yang tidak proporsional), maka akan mengerdilkan eksistensi Mbaru Wunut sebagai bekas Istana Raja Manggarai. Hal ini, suka tidak suka, akan melukai hati sebagian kalangan masyarakat, baik yang berhubungan atau hanya karena simpati pada sejarah Manggarai. Mari bersatu untuk menyikapi peletakkan batu Motang Rua. Hati-hati dengan pihak-pihak yg hendak memecah belah masyarakat Manggarai dengan isu yg sangat sensintif ini”, cuit Herybertus Geradus Laju Nabit, Politisi yang juga rival Bupati Deno pada Pilkada Manggarai 2015 lalu melalui akun Facebooknya 17 Januari 2017 lalu.
Kecaman dari berbagai pihak terkait patung Motang Rua selanjutnya mendapat perhatian Pemkab Manggarai. Pembangunan sempat dihentikan sementara sebelum dilanjutkan kembali dan berdiri kokoh hingga kini.
Terobosan "Ca Nai" Melawan Vandalisme
Bangunan bersejarah yang berada tepat di jantung kota Ruteng ini sempat tak terurus dan berantakan. Pada beberapa tahun lalu, tempat ini menjadi sasaran aksi vandalisme dan menjadi pemandangan buruk terhadap keaslian mbaru wunut.
Hal ini menggugah sekelompok orang yang kemudian terhimpun dalam sebuah komunitas bernama "Ca Nai". Nama komunitas ini diambil dari kata bahasa Manggarai yang berarti Satu Hati. Melalui Komunitas ini, mereka selanjutnya menata warisan budaya itu dengan semangat mengembalikan keaslian Mbaru Wunut.
"Semua berawal dari kepedulian. Waktu itu, tempat ini (mbaru wunut) tidak terurus, sampah berserakan dimana-mana, vandalisme juga merusak keindahan pada bagian dindingnya", kata Maria Fransiska Dampung, Sekretaris Komunitas Ca Nai di Ruteng, Jum'at (21/06) sore.
Mey, sapaan akrab wanita itu, mengatakan, melihat kondisi tempat itu yang berantakan, dia bersama teman-temanya mulai melakukan diskusi dan menyiapkan langkah-langkah terbaik menyelamatkan Mbaru Wunut hingga akhirnya upaya mereka mendapat dukungan Bupati Manggarai, Deno Kamelus.
"Dari apa yang kami diskusikan bersama teman-teman waktu itu akhirnya mendapat dukungan bapak bupati , kami pun memulai membersihkan serta menata tempat ini sehingga saat ini bisa bersih dan menjadi tempat tongkrongan bagi semua",ungkapnya.
Setelah ditangani Ca Nai yang kini anggotanya kurang lebih 200, tempat ini disulap menjadi tempat dengan beragam kegiatan, seperti diskusi budaya, live music dan menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas di kota itu.
"Selama ini kita sudah banyak melakukan kegiatan bersama komunitas lain seperti komunitas motor. Kita gelar diskusi budaya dan kegiatan-kegiatan positif lain tanpa ada diskusi politik,"ujarnya.
Dibagian selatan dan timur, Komunitas Ca Nai menyediakan ruang khusus bagi pelaku UKM untuk menjajakan kopi dan makanan ringan. Selain untuk lapak pelaku UKM, tempat itu juga menyediakan ruang bagi pelaku seni untuk menyalurkan bakat dan menampilkan karya seni.
Mey berharap, dia bersama teman-teman di Komunitas Ca Nai kedepan dapat menjadikan tempat itu sebagai wadah menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Manggarai serta destinasi wisata budaya bagi wisatawan yang berkunjung.(FP-06).
