Konten Media Partner

Melestarikan Wisata Sejarah Sumur Tua Wair Potong di Desa Sikka

florespediaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Keterangan Foto :Sumur Tua Wair Potong di Siba Spot Desa Sikka Minggu (9/1) siang. Foto Athy Meaq
zoom-in-whitePerbesar
Keterangan Foto :Sumur Tua Wair Potong di Siba Spot Desa Sikka Minggu (9/1) siang. Foto Athy Meaq

MAUMERE - Destinasi wisata merupakan sektor yang tidak pernah mati. Keindahan alam, situs religius, situs bersejarah dan budaya adalah potensi wisata yang harus dikelola dan dilestarikan.

Wair Potong yang sudah berusia ratusan tahun di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, NTT, adalah sebuah sumur kehidupan yang menyimpan ribuan misteri dan nilai sejarah yang patut dilestarikan.

Emanuel Laba (40) seorang seniman sebagai putra Desa Sikka merasa terpanggil untuk menata wisata dan melestarikan situs budaya bersejarah sebagai warisan leluhur agar bisa diketahui anak cucu orang Sikka di masa yang akan datang.

Di tahun 2018 Emanuel Laba, mulai menata Sumur Tua Wair Potong di Desa Sikka, yang dipadukan dengan keahlian seni yang dimilikinya, ia mulai menyulap Sumur Tua Wair Potong menjadi destinasi yang diberi nama Siba Spot.

Selain merawat dan membenahi sumur tua Wair Potong dengan tetap mempertahankan keasliannya, juga membangun lopo-lopo yang dilengkapi dengan restoran dan spot spot tempat berswafoto bagi pengunjung.

Pada setiap lopo atau spot diberi nama yang diambil dari tradisi dan budaya orang Sikka, dengan tujuan merangsang generasi muda untuk mengingat kembali tradisi dan budaya warisan leluhur orang Sikka terdahulu.

"Saya mengelola destinasi wisata Siba Spot di Sumur Tua Wair Potong, tidak hanya mengejar uang, tetapi lebih kepada melestarikan situs budaya Sikka agar tidak tergerus arus global budaya modern," kata Emanuel kepada media ini Minggu( 9/1/2022).

Wair Potong dalam terjemahan secara harafiah berarti air timba. Dimana sumur itu adalah merupakan sumur satu-satunya di Desa Sikka sebagai sumber kehidupan sejak ratusan tahun silam.

Dari air kehidupan Sumur Tua Wair Potong telah melahirkan puluhan bahkan ratusan tokoh agama dan pejabat birokrat yang berkiprah di daerah, provinsi, pusat bahkan internasional.

Dimana sekitar tahun 1940-an, berdiri sebuah seminari menengah pertama di Desa Sikka, yang selanjutnya pindah ke Desa Lela dan saat ini pindah menjadi Seminari Mataloko di Kabupaten Ngada.

Keterangan Foto :Sumur Tua Wair Potong di Siba Spot Desa Sikka Minggu (9/1) siang. Foto Athy Meaq

Dari seminari menengah di Desa Sikka, saat ini dua orang tokoh agama yang menjadi Uskup, yakni Mgr. Kerubim Parera, SVD Uskup Emeritus Keuskupan Maumere dan Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD almarhum yang merupakan Uskup Keuskupan Pangkal Pinang.

"Saat itu semua ambil air untuk mandi, masak dan minum dari sumur tua Wair Potong. Sehingga tidak berlebihan kalau sumur itu merupakan sumur kehidupan," kata Eman.

Sumur tua Wair Potong memiliki kedalaman 10 meter dengan struktur batu yang disusun pada sisi sumur. Terdapat sebuah dinamo yang digunakan untuk menyedot air yang akan digunakan untuk menyiram tanaman, masak dan minum di area Siba Spot.

Sumur itu terletak di kaki gunung, yang jaraknya hanya berjarak 30 meter dari bibir pantai pasang tertinggi. Kendati demikian airnya tawar sekali dan terasa dingin dan segar.

Pantai Sikka.

Saat berada di Siba Spot, setiap pengunjung dimanjakan dengan pemandangan laut yang menakjubkan. Hamparan pantai dengan riak gelombang pantai Selatan yang bergulung gulung seakan enggan kembali sebelum menerpa bibir pantai.

Selaku pengelola dan perintis Siba Spot Sumur Tua Wair Potong, Emanuel berharap agar generasi muda Sikka harus mampu melestarikan situs budaya yang ada sebagai warisan dari nenek moyang.

Mari mengunjungi situs sumur tua Wair Potong, dan keindahan pantai Sikka di Siba Spot Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka NTT. 'Uhe Die Dang Hading' (Selamat Datang, Kami Menunggu).

Kontributor : Athy Meaq