Konten Media Partner

Melihat Usaha Anyaman Tali Straping di Manggarai

florespediaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pasangan suami-isti yang menganyam tali straping. Foto: Engkos Pahing
zoom-in-whitePerbesar
Pasangan suami-isti yang menganyam tali straping. Foto: Engkos Pahing

RUTENG - Puluhan hasil anyaman dari tali straping dengan beraneka warna nampak terlihat bergantung rapi di dinding rumah sepasang suami istri di Kampung Bung, Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini sepasang suami-istri tersebut adalah Nikolaus Ndarung (48) dan Yustina Guner (47).

Sebagian anyaman tersebut masih dalam proses anyam.

Tangan yang begitu mungil dari pasutri ini tampak lincah menganyam straping.

Keduanya begitu sibuk, seperti sedang melakukan anyaman mbere (tas), sedu (caping), dan roka (keranjang) yang berciri khas Manggarai.

Dalam hasil anyaman itu terdapat banyak motif maupun gambar rumah adat Manggarai seperti dalam capling.

"Kami coba membangkitkan kembali motif orang tua dulu yaitu motif ndoreng," kata Nikolaus sambil memegang sebuah tas ndoreng hasil dari anyamannya.

Nikolaus mengisahkan, awal tahun 2019, mereka menggunakan bahan dari bambu untuk menganyam. Namun karena proses pengelolaannya panjang, pada awal tahun 2020 mereka memulai dengan cara baru yakni menganyam dari straping.

"Dulu pakai bambu. Tapi prosesnya lama, misalkan menebangnya terus jemur dan lain-lain. Beda kalau pakai straping," ketusnya.

"Tapi untuk pengadaan straping ini kami masih kendala di modal," tambahnya.

Dalam sehari, kata Nikolaus, mereka bisa menghasilkan 4 buah hasil anyaman.

Biaya Pendidikan

Meskipun menganyam adalah pekerjaan sampingan dari pasutri asal Bung itu, mereka merasa terbantu untuk membiayai pendidikan anak mereka.

Kata dia, putra sulungnya saat ini sedang mengenyam pendidikan di salah satu Universitas di Kota Kupang.

Kemudian satunya lagi hendak masuk salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Manggarai.

"Semuanya rasa terbantu. Walaupun tidak seberapa," terangnya.

Selain itu, mereka juga sering melatih anak-anak untuk mewariskan keterampilan mereka sebagai orangtua.

"Mereka juga sering latih menganyam," ketusnya.

Proses Pemasaran

Menurut Nikolaus, proses pemasaran saat ini masih menggunakan sistem pemesanan. Namun, jika itu tidak cukup, mereka akan melakukan jualan di pasar-pasar di Manggarai.

"Proses pemasaran melalui pesanan," terangnya.

Nikolaus dan istrinya berharap, usaha kreatif mereka diperhatikan oleh pemerintah. Ia menyebutkan, misalkan bantuan modal pengadaan straping.

"Kami berharap kepada pihak pemerintah untuk mendukung melalui bantuan modal," tutupnya.