Konten Media Partner

Menengok Endi, ODGJ di NTT, yang Sudah 5 Tahun Tinggal di Gua Batu Penuh Sampah

florespediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto : Endi Pora (40), warga Kampung Pate Kaca, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, sudah 10 tahun menderita gangguan jiwa. Foto: istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Foto : Endi Pora (40), warga Kampung Pate Kaca, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, sudah 10 tahun menderita gangguan jiwa. Foto: istimewa.

BORONG - Endi Pora (40), warga Kampung Pate Kaca, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, sudah 10 tahun menderita gangguan jiwa. 

Sejak mengalami gangguan jiwa, Endi hidup berkeliaran di jalanan. Itu berlangsung selama 5 tahun yakni dari 2010 hingga 2015. 

Sedari tahun 2015 lalu hingga sekarang, ia hidup di gua mungil tepat di tebing kali Wae Musur dekat kampung Pate Kaca. 

Gua mungil itu hampir terisi dengan berbagai jenis sampah. Mulai dari sampah plastik, botol pestisida, kaleng hingga kain bekas. Sampah-sampah itu ia taruh di dasar dan diigantung di langit-langit gua.

Sampah-sampah yang ada itu ia pungut dari pinggir kali Wae Musur. 

Sampah - sampah yang dikumpulkan oleh Endi Pora di dalam gua yang juga sudah lima tahun menjadi tempat tinggalnya. Foto: istimewa.

Di gua penuh sampah  itu juga, Endi masak, makan, minum, dan tidur. Ia masak makanannya menggunakan kaleng bekas. Piring makannya juga ia buat dari kaleng bekas.

Sementara untuk air minum, ia langsung cedok air kali tanpa rebus. 

Sebagian kecil gua itu, ia buat benteng kecil agar saat tidur tidak jatuh ke tebing kali. Ia tidur langsung di atas debu tanpa alas apa pun. 

Di dekat tempat ia tidur, ada tungku api untuk masak dan untuk menghangat badanya usai mandi.

Aneka sampah yang dikumpulkan oleh Endi Pora di dalam gua yang sudah lima tahun menjadi tempat tinggalnya. Foto: istimewa.

Di gua itu, Endi hidup tanpa penerangan. Listrik tidak ada, bahkan lampu pelita. Malam hari Ia hidup tanpa penerangan apa pun. Ia juga tidur tanpa kain selimut. 

Seturut penuturan warga setempat, ia mendapat bahan makanan dari hasil belas kasihan orang-orang. Terkadang pula, ia bekerja membantu orang, khususnya saat tanam dan panen padi. 

Sabtu, 22 Agustus 2020, relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Manggarai Timur, mengunjungi Endi Pora. 

Saat kunjungan itu, relawan membawa periuk, piring, dan sendok untuk Endi. 

Relawan KKI melalui Romo Hermen Sanusi, Kepala SMAK Pancasila Borong menyerahkan langsung ke Endi. Ia pun menerima buah tangan dari para relawan itu dengan senyum semringah sebagai luapan rasa syukur seperti layaknya orang sehat. 

Selai memberikan peralatan masak dan makan, relawan juga memberinya uang untuk membeli beras. 

Sejak saat itulah, Endi memasak menggunakan periuk dan makan menggunakan piring dan sendok. 

Theodorus Pamput, warga setempat yang biasa mengunjungi gua Endi Porat menuturkan, keluarganya Endi sering mengajaknya untuk tinggal di rumah. Tetapi, ia tetap bersih keras untuk menetap di gua kecil itu. 

"Baru-baru ini keluarganya jemput dia bawa ke rumah. Ia bertahan di rumah hanya 1 hari. Ia balik ke sini. Katanya, di rumah dan di sini, sama saja," tutur Theodorus kepada media ini, Sabtu (22/8/2020). 

Theo mengungkapkan, mungkin karena Endi sudah lama menetap di gua itu, sehingga ia merasa nyaman. 

Alat makan dan masak milik Endi Pora seorang ODGJ di Kabupaten Mangarai Timur. Foto: istimewa.

Theo melanjutkan, Endi menetap di gua itu sejak tahun 2015 lalu. Sebelumnya ia hidup tidak jelas di jalanan. 

Sebagai warga satu desa, Theo mengaku bersyukur relawan KKI Manggarai Timur memperhatikan kondisi Endi Pora. 

"Selama ini kami berpikir, tidak akan ada orang yang mau melihat dan peduli dengan penderita gangguan jiwa seperti Endi ini. Terima kasih para relawan sudah berjuang keras agar Endi sembuh," ungkap Theo. 

Theo pun berharap, semoga relawan KKI segera berkoordinasi dengan Pemda Matim untuk menghantar Endi ke panti rehabilitasi jiwa Renceng Mose, Ruteng, Manggarai. 

Koordinator Kelompok Kasih Insanis (KKI) Manggarai Timur, Markus Makur, menjelaskan, pihaknya sudah berkoodinasi dengan pihak Keuskupan Ruteng dan Pemda Matim untuk menghantar Endi ke panti Renceng Mose di Ruteng. 

Namun, saat ini, kondisi panti Renceng Mose saat ini dalam keadaan penuh. Sehingga belum bisa menerima pasien baru. 

"Kita sudah omong langsung di Endi juga. Dia sendiri mau ke panti. Semoga dalam waktu dekat panti bisa kembali menerima pasien baru," jelas Markus.