Konten Media Partner

Mengenal Toilet Literasi di PAUD Restorasi, Patisomba, Sikka, NTT

florespediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Proses gambar di PAUD Restorasi Patisomba. Foto : Albert Aquinaldo
zoom-in-whitePerbesar
Proses gambar di PAUD Restorasi Patisomba. Foto : Albert Aquinaldo

MAUMERE - Setelah sukses dengan metode belajar sambil menabung yang telah dijalankan selama 2 tahun, kini pengelola PAUD Restorasi, Remigius Nong kembali melakukan sebuah ide yang mungkin akan dibilang aneh dan belum pernah terdengar sebelumnya.

Ide itu adalah Toilet Literasi. Toilet yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai tempat yang kotor, kumuh dan jorok akan di desain sedemikian rupa sehingga menjadi salah satu tempat menimba ilmu pengetahuan.

Ditemui florespedia di PAUD Restorasi, Patisomba, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT pada Rabu (28/10/2020) sore, Remi Nong mengatakan bahwa ketika berbicara soal perpustakaan maka orang akan langsung tertuju pada buku bacaan atau tulisan-tulisan berbentuk digital.

"Tapi sebenarnya tidak, semua pengetahuan bisa dipajang dimana saja termasuk di toilet. Awalnya mau kampanye literasi turap hanya saja turap kita kecil dan tidak bisa menyebar," tutur Remi Nong.

Remi Nong kemudian mencoba membagikan ide tersebut kepada teman-temannya pada salah satu kesempatan sharing webinar dan ternyata mendapat respon positif.

"Mereka bilang justru dimana saja asalkan harus dilihat spot itu dikunjungi usia mana saja, dominasinya usia mana, level pendidikan dominasi atau level apapun sehingga kata-kata yang kita isi disitu yang bisa dinikmati," ujarnya.

Konsep Toilet Literasi yang akan dilakukan Remigius Nong di PAUS Restorasi yakni dengan melihat dominasi usia dan level yakni, murid di PAUD Restorasi sendiri, para guru, orang tua murid dan juga para tamu.

Persiapan pembangunan Toilet Literasi di PAUD Restorasi Patisomba. Foto : Albert Aquinaldo

"Sehingga di toilet itu kita tulis itu palingan huruf, angka, dan dibuat ragam model, bisa dibuat dalam bentuk binatang misalnya dan dia menunjukkan ini huruf A, huruf B dan seterusnya. Terus kita selip dengan kata-kata untuk level orang tua, karena disini banyak petani, kita konsepkan dengan kata-kata pertanian," jelas Remi.

Tulisan-tulisan itu nantinya akan ditulis di dalam ruangan toilet dan di luar toilet yang akan didesain semenarik mungkin sehingga menarik minat pengguna toilet untuk membaca.

"Di sekitar toilet juga kita akan buat tempat tongkrongan. Jadi orang datang karena dia liat toilet itu bagus, dia tidak buang air pun dia akan akan pergi kesana dan orang disitu juga akan rajin membersihkan karena tempat itu banyak yang nikmati. Sehingga toilet tidak lagi dianggap jorok, kumuh dan lain sebagainya," kata Remi.

Untuk konsep Toilet Literasi sendiri sejauh ini belum banyak dilakukan.

Sementara itu, Remi Nong menjelaskan bahwa tujuan dari Toilet Literasi dirinya mau menyampaikan bahwa toilet juga sebenarnya adalah perpustakaan.

"Tulisan-tulisan itu juga sebenarnya perpustakaan lebih tepatnya perpustakaan dinding," kata Remi.

Dirinya berharap agar pengetahuan harus disebarkan lewat berbagai media termasuk di toilet.

Terkait budaya literasi di Kabupaten Sikka, salah satu pegiat literasi itu mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat Kabupaten Sikka memiliki budaya literasi yang baik. Hanya saja belum banyak orang yang tahu bahwa membaca bisa dilakukan dengan cara dan melalui media yang berbeda-beda.

"Model yang ditampilkan untuk orang baca itu yang beragam sehingga tidak kelihatan bahwa literasi ini jalan," ujarnya.

Saat ini, Remi Nong yang dibantu oleh beberapa orang teman dan keluarga sedang menyelesaikan design Toilet Literasi di PAUD Restorasi yang letaknya tepat disamping kanan bangunan sekolah yang berdekatan dengan toilet sekolah.

Kontributor : Albert Aquinaldo.