Mengunjungi Kampung Melo,Tempat Pertunjukan Tarian Caci di Mabar

Mabar - Kampung Melo, Desa Liang Ndara, Kecamatan Mbeliling adalah sebuah kampung di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) sebagai tempat pertunjukan tarian Caci, sebuah tarian adat Manggarai yang mempertujunkan ketangkasan sepasang laki-laki, di mana sepasang lak-laki tersebut saling cambuk secara bergantian sambil diringi bunyian gong dan gendang (alat musik tradisional).
Kampung yang berada di bawah lereng gunung Mbeliling ini harus menempuh 30 Kilo Meter dari Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Mabar.
Di Kampung ini, ada Tiga Sanggar (kelompok) yang menyajikan tarian Caci setiap hari. Tiga sanggar itu bernama Sanggar Riang Tana Tiwa, Compang Toe dan Nipu Ceki.
Nama dari Tiga sanggar itu diambil dari bahasa Kempo, Bahasa Kempo merupakan bahasa mayoritas masyarakat Kecamatan Mbeliling.
Ketua Sanggar Riang Tanah Tiwa, Kristo Nison, Rabu (17/4) menjelaskan sangarnya berdiri sejak tahun 2009 lalu. Riang Tanah Tiwa berarti menjaga warisan yang diberikan leluhur.
Sanggarnya beranggotakan 20 orang. Dimana Laki-laki bertugas untuk mementaskan tarian caci sedangkan perempuan bertugas untuk memainkan alat musik gong dan gendang untuk mengiring permain caci.
Menurutnya, rata-rata satu sanggar di Melo dikunjungi oleh dua sampai empat Kelompok wisatawan manca negara dan wisatawan domestik setiap harinya, sehingga kadang pementasan tarian caci dari pagi sampai sore hari.
Wisatawan yang datang bukan saja menyaksikan tarian caci tetapi juga menyaksikan keindahan alam Kampung Melo. Apalagi letak Kampung Melo berada di puncak sehingga pemandangan yang indah dapat dilihat dari atas tempat pertunjukan.
"Yang datang berkunjung bukan hanya datang menyaksikan tarian caci. Ada juga wartawan dari Luar negeri dan wartawan media nasional yang datang suting permainan caci di sanggar kami untuk diberitakn di media mereka masing-masing " ungkapnya.
Ia menyampaikan, yang datang meliput tarian caci, pihaknya mengucapkan terimah kasih karena mereka juga mempromosikan budaya dan sanggar ke masyarakat lain, sehingga setiap tahunnya tamu yang datang berkunjung di Sanggar Riang Tanah Tiwa meningkat.
Dia mengatakan awalnya anggota kelompok sanggar Niang Tanah Tiwa berpofesi sebagai petani. Disaat membentuk sangar ini akhirnya anggota kelompok jarang turun ke kebun.
Dengan melakukan pementasan tarian caci, anggota sanggar Riang Tanah Tiwa mampu membiaya anak-anak untuk bisa sekolah dan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari anggota sanggar.
Berkat keseriusan Sanggar Riang Tanah Tiwa dalam mempertunjukan tarian Caci, sangar tersebut sering mempertunjukan tarian caci di Jakarta dan Kota Labuan Bajo saat penyelenggaraan Event-even nasional serta kunjungan pejabat negara di Labuan Bajo.
"Kami sering dipakai oleh pantia untuk pertunjukan tarian caci di Labuan Bajo,jika ada kunjungan orang penting," ujarnya.
Dia mengatakan sebelum tamu atau wisatawan menyaksikan tarian caci terlebih dahulu melakukan ritual adat penyambutan tamu di pintu gerbang tempat pertunjukan.
Setelah acara penyambutan, tamu atau wisatawan wajib di berikan minuman khas penerima tamu masyarakat setempat yakni Sopi. Dikarenakan ini perjamuan bagi tamu maka tamu wajib meminumnya sebelum menyaksikan pementasan tarian Caci.
Tarian Caci menjadi tarian pertama yang dipertunjukan sebelum tarian adat Manggarai lain nantinya. Dalam tarian Caci diiringi bunyian gong dan gendang.
Dalam tarian Caci itu ada enam pasang laki-laki yang nantinya saling bergantian mencambuk. Dalam permaian Caci ada bagian tubuh yang tidak boleh di cambuk.
Ketua Sanggar Nipu Ceki, Primus Hatta mengatakan pertunjukan caci di Kampung Melo merupakan sebuah pekerjaan oleh anggota sanggar. Masyarakat sudah menganggap pertunjukan Caci sebagai mata pencarian.
Satu kelompok tamu yang ingin menyaksikan tarian Caci harus membayar Rp 2 Juta sampai Rp 3 Juta. Uang tersebut nantinya di bagi rata kepada anggota sanggar. Sedangkan sebagiannya untuk operasional sanggar dan pembelian alat-alat pementasan jika ada yang rusak.
Menurutnya, Kampung Melo memang di juluki Desa wisata saat ini. Letaknya yang strategis berada di bawa kaki Gunung dan pemandangan yang indah diamati dari Kampung Melo membuat Tamu atau wisatawan selalu berdatangan di Kampung Melo untuk menyaksikan tarian Caci.
Untuk Sanggar Nipu Ceki, sudah tiga kali ikut dalam iklan berbagai produk di Indonesia, seperti Sindo Muncul, Kuku Bima dan iklan lainya.
Wisatawan yang datang tidak hanya datang di Mabar untuk melihat binatang Purba Komodo tetapi mereka juga datang menyaksikan tarian Caci di Kampung Melo. Bagi tamu yang berkunjung di Pulau Komodo dan Rinca selalu datang berkunjung di Melo. Apalagi saat ini, tarian Caci di Melo masuk dalam paket tujuan kunjungan wisatan di Labuan Bajo," tutur Primus (FP-
