Mengunjungi Namata, Kampung Megalitik di Sabu Raijua, NTT

SABU RAIJUA - Indonesia memiliki kekayaan adat istiadat serta budaya yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Beberapa daerah di Indonesia, masih memegang teguh adat istiadat serta budayanya. Bahkan, ada beberapa daerah di Indonesia, hingga saat ini masih tetap terjaga keasrian dan belum tersentuh peradaban modern.
Salah satunya yakni Perkampungan Megalitik Namata yang terletak di Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi NTT yang berjarak 2-3 kilometer dari Bandara Terdamu-Sabu dengan jarak tempuh sekitar 15 menit perjalanan.
Kampung Namata dikenal sebagai kampung adat di Kabupaten Sabu Raijua yang masih memegang teguh adat istiadat, budaya serta memiliki sejarah sebagai desa penganut agama Jingitiu atau pemujaan dewa-dewa leluhur masyarakat Sabu.
Pada Jumat (4/9/2020), florespedia berkesempatan mengunjungi Kampung Megalitik Namata ditemani Ketua Relawan Berbagi Inspirasi (Relasi) Community, Echonk Pareira sekeluarga yang sekaligus bertindak sebagai pemandu.
Ketika memasuki area perkampungan megalitik Namata, nuansa peradaban zaman megalitik menyambut setiap tamu yang datang.
Di tengah-tengah kampung Namata, terdapat bebatuan sebagai tempat pemujaan kepada para dewa yang dipercaya bebatuan tersebut ada dengan sendirinya di perkampungan Namata.
Selain bebatuan, terdapat 7 buah rumah adat yang tidak bisa ditambahkan dan tidak bisa dikurangi.
Di tengah Kampung Namata, terdapat batu-batu besar yang menjadi tempat pemujaan atau altar persembahan bagi leluhur yang dipercaya menjaga kampung adat tersebut. Terdapat 9 buah batu bulat dan altar persembahan dengan fungsinya masing-masing.
Namun, tidak semua rumah adat bisa di masuki oleh pengunjung. Begitu pula dengan bebatuan yang berada di tengah kampung. Ada beberapa batu yang tidak diperbolehkan mengambil gambar atau duduk di atasnya.
Kampung Namata merupakan salah satu Kampung Adat yang juga merupakan kampung megalitik yang berada di wilayah Habba. Selain itu, Namata juga merupakan salah satu suku besar yang ada di Kabupaten Sabu Raijua.
Berdasarkan cerita yang diperoleh florespedia dari penjaga Kampung Namata, Beni Keina yang ditemui di Kampung Namata pada Jumad (4/9/2020) sore, sebelum ada agama yang masuk ke Pulau Sabu, warga perkampungan ini memegang teguh pada agama Jingitiu atau pemujaan kepada dewa dan leluhur.
Agama mulai dikenal masyarakat setempat sekitar tahun 1970-an yakni Katolik dan Protestan. Dengan masuknya dua agama besar itu, masyarakat perlahan mulai meninggalkan agama Jingitiu.
Kampung Namata sendiri dibentuk dan didirikan oleh salah seorang tokoh terkenal Sabu Raijua pada zaman dahulu yakni Robo Aba yang memiliki 4 orang anak. Konon, dari ke 4 anak inilah awal mula terbentuknya 4 suku besar yang ada di Sabu Raijua khususnya di Kecamatan Sabu Barat.
Anak Robo Aba terdiri dari Tunu Robo yang kemudian menurunkan Udu (red : Suku) Namata, Pilih Robo yang kemudian menurunkan Udu Nahoro, Hupu Robo yang kemudian menurunkan Udu Nahupo dan Dami Robo yang kemudian menurunkan Udu Nataga.
Pada sore hari itu, tampak beberapa pengunjung berdatangan hanya untuk sekadar berfoto ria dengan menggunakan pakaian adat Sabu Raijua.
Untuk berfoto ria dengan menggunakan pakaian adat Sabu Raijua itu, pengunjung harus merogoh kocek kurang lebih 50 ribu rupiah per orang untuk satu model pakaian adat.
Kampung Megalitik Namata kini masuk dalam salah satu nominasi Kampung Adat Terpopuler dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020.
Kontributor : Albert Aquinaldo
