Pedagang di Nagekeo Keluhkan Pasokan Barang Melimpah Tapi Sepi Pembeli

MBAY-Situasi pasar lokal di beberapa tempat di Kabupaten Nagekeo, Provinsi NTT, pengunjung atau pembeli sangat kurang sehingga mengakibatkan banyak barang jualan yang tidak terjual.
"Lihat saja kondisi pasar sekarang sepi, tidak ada pembeli karena corona. Beda dulu sebelum covid, hasil jualan kami cepat laku," ujar salah satu pedagang Roslin Supa.
Ia menuturkan, sejak munculnya kabar penyebaran wabah COVID-19, kemudian diberlakukannya larangan warga keluar rumah, menyebabkan aktivitas pasar menjadi sepi, dampaknya tidak ada pembeli.
Sedangkan pasokan barang berbagai jenis sayuran maupun rempah-rempah dari berbagai daerah, kata dia, cukup banyak, bahkan sebagian terpaksa harus ditolak karena khawatir tidak terjual.
"Jadi daya belinya sekarang lemah, barang tidak susah justru banyak, tapi pembelinya tidak ada," katanya.
Ia menyebutkan, jenis barang yang cukup melimpah yakni berbagai jenis sayuran, termasuk berbagai jenis bawang, cabai, bahkan jahe dari petani lokal Mbay sangat banyak.
Sebagian barang yang dipasok petani, lanjut dia, terpaksa tidak semuanya dibeli untuk meminimalisasi kerugian selama kondisi pasar sepi pembeli.
"Contohnya sayur, sekarang stoknya banyak, bahkan ditolak pasokannya, karena terlalu banyak, kalau dibeli semua nanti bisa busuk, ini saja sebagian sudah busuk," katanya.
Penjual sayuran lainnya, Meri Mija mengatakan, sejak munculnya wabah COVID-19, jumlah pembeli menurun drastis, bahkan orang yang berbelanja hanya membeli barang dengan jumlah sedikit.
Biasanya, kata dia, setiap pagi situasi pasar sudah ramai oleh pembeli untuk berbelanja memenuhi kebutuhan restoran besar, maupun rumah makan dan pedagang eceran lainnya.
"Biasanya kalau pagi-pagi itu sudah ramai oleh pembeli untuk restoran, rumah makan, tapi sekarang sepi, yang beli paling untuk kebutuhan rumah tangga," pungkasnya.
Pihaknya berharap Pemerintah Kabupaten Nagekeo untuk segera memperhatikan hal ini. Apabila tidak, akan banyak warga yang jatuh miskin di Kabupaten Nagekeo.
Mengenai situasi ini, salah satu tokoh muda Nagekeo, Seravinus Mena, menyarankan baik pemerintah pusat maupun kepada pemerintah daerah untuk mengoptimalkan kembali pasar lokal dengan cara mengintegrasikan dengan pasar online.
Cara pasarnya diatur dalam fitur fitur teknologi yang tidak mempersulit masyarakat untuk mengaksesnya.
"Anggaran-anggaran yang digelontorkan kepada masyarakat dalam bentuk bantuan yang menurut pemerintah itu, tujuannya untuk pemulihan ekonomi masyarakat. Saya pikir itu tidak efisien. Adalah lebih baik jika anggaran itu didesain dalam bentuk program peningkatan pasar online," ujarnya.
Menurutnya, pemerintah bisa menyiapkan toko-toko online yang bekerja sama dengan pemilik modal di daerah masing-masing. Dimana sistem kerjanya, petani atau penyedia barang hanya bermitra dengan pemilik toko online.
Kepada pemerintah daerah optimalkan bank-bank daerah. Ketika sistem ini berjalan, bank daerah lebih all out mensuport pemerintah daerah dengan menyuplai modal kerja dalam bentuk penyaluran kredit kepada masyarakat dan kepada para pemilik toko online," ungkapnya.
