Pencarian populer

Penenun di Cibal Hasilkan Songke Manggarai Aneka Motif

Selendang songke hijau yang dihasilkan oleh ibu - ibu penenun di Kampung Lujang, Desa Welu. Foto oleh: Elvis,florespedia/kumparan.com
RUTENG - Penenun songke, di Kampung Lujang, Desa Welu, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai menghasilkan kain songke dengan motif yang beragam. Kain Songke yang ditenun oleh kaum ibu di kampung tersebut itu biasanya dijadikan selendang, sarung, serta bahan dasar untuk baju serta jas.
ADVERTISEMENT
Pada setiap kain tenunan yang dihasilkan Ibu-Ibu di Kampung Lujang, terdapat berbagai motif dengan sarat makna dan merupakan warisan turun temurun leluhur orang Manggarai.
Adapun motif tersebut diantaranya motif ranggong (laba-laba), motif Ntala (Bintang), motif Wela Kawu (bunga kapuk) serta motif lain dengan makna yang berbeda.
Setiap corak atau motif yang terdapat pada kain songke pada dasarnya memiliki makna. Motif Ranggong (laba-laba) misalnya, motif ini bagi orang Manggarai dipercaya sebagai simbol kerja keras dan kejujuran, sementara motif Ntala (Bintang) dimaknai sebagai harapan agar senantiasa sehat, diberikan umur yang panjang.
Wakil ketua PKK Desa Welu, Karolina Dete mengatakan, para penenun di kampung lujang selama ini dibekali pelatihan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI). Adapun pelatihan penenun bersama WVI, kata dia, seperti pelatihan membuat motif serta pelatihan untuk memperkaya warna pada tenunan songke.
Seorang ibu di Kampung Lujang sedang menenun kain songke. Foto oleh: Elvis.florespedia/kumparan.com
"Selama ini penenun disini dibekali pelatihan yang didukung penuh oleh WVI. Mereka (penenun) mendapatkan pelatihan motif tenun, warna tenun dan pelatihan-pelatihan lain yang sangat berguna bagi penenun kami disini", ujar Karolina Dete.
ADVERTISEMENT
Senada dengan Karolina, Ketua Kelompok Tenun Wae Nenu, Erwina Sem mengaku, melalui pelatihan yang dilakukan WVI, dia bersama penenun lain mendapatkan banyak hal baru dan menjadi bekal bagi mereka untuk terus menghasilkan banyak kain songke dengan harga jual tinggi.
Tenunan mereka, kata Erwina selama ini telah dijual ke berbagai tempat bahkan pernah dibeli oleh istri Gubernur NTT, Julia Laiskodat saat ia berkunjung kesana.
"Ibu Gubernur pernah datang lihat langsung hasil tenun kami, dia juga membeli kain yang kami hasilkan. Waktu itu dia memberi masukan agar pemasaran kami ditingkatkan",tutur Erwina.
Proses menghasilkan satu tenunan,jelas dia, paling lama satu bulan. Biasanya tergantung jenis produk apa yang mau dihasilkan.
"Satu selendang dihasilkan dalam 2 Minggu, untuk sarung biasanya 1 bulan kalau kita fokus", ujarnya.
ADVERTISEMENT
Harga hasil tenunan juga bervariasi, untuk selendang biasanya dijual dengan harga 100 ribu hingga 250 ribu rupiah. Sementara untuk kain songke jenis sarung biasanya diganjar dengan harga Rp 800 ribu. Harga tenunan yang mereka jual dipertimbangkan denga biaya produksi serta proses yang masih konvensional tanpa bantuan tekhnologi.(FP-06).
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86