Pesona Pondok Wisata Tanjung Watukrus Bola, Sikka
·waktu baca 5 menit

MAUMERE - Pesona wisata Pondok Santai Tanjung Watukrus Bola yang berada di Kampung Baluk, Desa Ipir, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT merupakan satu-satunya destinasi wisata di Kabupaten Sikka yang menyimpan sejuta keindahan alam dan kini semakin ramai dikunjungi para wisatawan baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Betapa tidak, wisata berupa gua batu karang yang menjulang kelaut ini diolah sedemikian rupa menjadi destinasi wisata yang tak kalah menarik dengan wisata pulau Bali dan mulai viral pada awal tahun 2021.
Sebelumnya, akses menuju tempat wisata ini melewati jalan setapak dan jembatan gantung terbuat dari bambu. Kini akses menuju tempat pengunjung bisa melewati jembatan gantung sepanjang 200 meter di atas permukaan laut.
Selain itu, pemilik pondok wisata tanjung watukrus juga menyiapkan homestay bagi para pengunjung yang ingin menginap. Homestay tersebut dilengkapi dengan WC, kamar mandi, tempat tidur dan lemari.
Di Pondok Santai Watukrus, pengunjung juga bisa berjalan menikmati bebatuan karang yang berukuran besar di pesisir pantai saat air laut surut. Dan pengunjung juga bisa melihat warga setempat mencari ikan kecil di sekitar lokasi wisata saat air laut surut.
Di pondok santai Watukrus, pengunjung juga akan dimanjakan dengan pesona terbitnya mentari (sunrise) di ufuk timur hingga terbenamnya di ufuk barat (sunset).
Bagi pengunjung yang ingin menikmati pesona sunrise ,pukul 05.00-06.00 Wita adalah waktu terbaik. Sedangkan yang ingin menikmati sunset, pukul 16.00-18.00 merupakan waktu ideal.
Pemilik pondok santai Watukrus, Vinsensius Ferer atau yang akrab disapa Feri kepada media ini, Minggu (20/6) menuturkan bahwa, dirinya tertarik membuat tempat wisata tersebut karena terinspirasi dari tempat wisata Tanah Lot, Bali.
"Saya pernah merantau 18 tahun di Batam dan melihat tempat-tempat destinasi wisata yang ada di tempat perantauan yang disulap dari tempat biasa menjadi tempat destinasi wisata yang sangat bagus. Sejak 2 tahun saat pulang dari perantuan, saya mulai melihat tempat Tanjung Watukrus ini cocok untuk dijadikan desatinasi wisata yang bisa menghasilkan uang," katanya.
“Setelah saya berada diatas batu karang ini lalu saya berpikir tempat ini harus saya ubah jadi pondok tempat wisata. Dan saat itu saya mulai kerja gali tanah, ratakan tanah, dan pahat tebing. Lalu saya membuat jalan menuju lokasi sepanjang 200 meter.Untuk membuat jembatan ini saya gali malam hari ketika air laut surut,” tambahnya.
Untuk membuat jembatan gantung akses menuju pondok wisata, Fere menggunakan bambu yang diambil dari kebu miliknya. Tali yang digunakan untuk mengikat bambu menggunakan ijuk, karena semua bahan yang dimanfaatkan harus alamiah.
Tetapi melihat risiko gelombang laut pantai selatan yang cukup ganas, akhirnya jembatan yang terbuat dari bambu pun diganti dengan jembatan yang permanen terbuat dari beton.
Ia mengatakan, jalan dan jembatan tersebut dibuat sendiri dan dibantu keluarga dan warga sekitar dengan membuat tiang cor dari semen karena berada di bibir pantai saat air pasang. Kehadiran jalan ini membuat semakin banyak pengunjung berdatangan ke pondok wisata Tanjung Watukrus.
Ferer menceritakan, awalnya dia bekerja sendiri memahat bukit karang menggunakan peralatan seadanya sejak tahun 2015. Fery berpikir, saat melihat Tanjung Watukrus yang cukup bagus untuk dijadikan tempat wisata, akhirnya ia pun mulai mencoba untuk mewujudkan idenya membangun destinasi wisata.
"Awalnya saya kerja tempat wisata ini sendirian mulai dari tahun 2015. Setelah itu, anak-anak, ponakan-ponakan saya dan juga keluarga datang bantu. Mereka bantu angkat semen, batu, pasir, besi, kayu, bawa dari jalan raya antar ke tempat wisata ini. Mereka juga bantu buat penahan di sekeliling batu karang supaya para pengunjung tidak jatuh ke laut,” ungkapnya.
Setelah itu, mereka ,membantunya membangun homestay dan jembatan gantung yang saat ini digunakan untuk jembatan penyeberangan menuju pondok wisata.
Sebelumnya tempat wisata ini dijadikan warga setempat untuk memancing ikan pada saat air laut pasang. Tanah dari bukit di sebelah utara batu karang, digali dan ditimbun di atas batu karang. Lalu tanah itu diratakan sehingga ada tiga susun. Mula dari Lantai 1, 2, 3 dan lantai 4 homestay.
“Bagian atas di lantai tiga, saya padatkan dan ratakan. Saya bangun empat lopo dengan atap alang-alang, lengkap dengan meja dan kursi sebagai tempat bersantai bagi para pengunjung. Dan satu meja panjang dibuat untuk perjamuan bagi pelanggan yang ingin merayakan momen ulangtahun atau arisan. Di lantai tiga disiapkan kamar mandi dan WC ” tuturnya.
Selama ini, banyak wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara sering berkunjung ketempat wisata ini. Banyak masyarakat yang datang merayakan ulang tahun, arisan ibu-ibu, dan kegiatan pemerintahan Kecamatan Bola juga sering di laksanakan di pondok santai ini.
“Setiap sore banyak masyarakat sering datang. Kalau hari Sabtu, Minggu atau hari libur atau hari Natal dan Tahun Baru banyak pengunjung dari luar Kecamatan Bola. Kemarin Natal dan Tahun Baru itu banyak sekali pengunjung dari luar,” kata Feri.
“Di sini saya juga siapkan menu makanan lokal seperti pisang goreng, singkong. Dan minuman kopi, teh dan kelapa muda. Sebelumnya saya merintis usaha rumah makan di dekat jalan raya depan pintu masuk ke tempat wisata,” sebutnya.
Pihaknya juga akan membangun lagi beberapa homestay di destinasi wisata Tanjung Watukrus dengan model yang sama. Untuk tarif penginapan permalam dengan harga Rp 300 ribu.
Feri mengakui hanya memungut bayaran Rp.10 ribu per orang untuk biaya masuk. Sudah banyak wisatawan asing baik dari Jerman, Korea Selatan, Swiss dan Belanda pernah datang ke tempat ini untuk bersantai sambil memandang laut.
“Lumayanlah, hampir setiap hari ada saja pengunjung yang datang. Saya bersyukur kepada Tuhan akhirnya apa yang saya inginkan membangun homestay, jembatan gantung akses menuju lokasi wisata sejauh 200 meter terwujud,"ucapanya.
Di pondok santai Watukrus juga diterapkan standar protokoler kesehatan COVID-19 kepada semua pengunjung seperti jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker. “Bagi pengunjung yang hendak berwisata ke pondok watukrus ini wajib taati protokoler kesehatan untuk.keselamatan kita semua,” jelas Feri.
Sementara itu Yosep Oktovianus salah seorang pengunjung destinasi wisata Tanjung Watukrus mengakui tertarik mengunjungi tempat wisata Tanjung watukrus karena melihat story WA yang di-posting salah satu temannya.
"Setelah melihat story WA akhirnya saya mengajak teman-teman kantor mengunjungi Tanjung Watukrus dan tempat ini sangat bagus untuk sekedar beristirahat melepas lelah sambil menikmati pemandangan laut,” ungkap Oktovianus.
Kontributor : Athy Meaq
