kumparan
13 Oktober 2019 23:51

Renceng Mose Gagas Lomba Menulis Cerpen Bertemakan ODGJ

dr.Ronald Susilo, Direktur Klinik Jiwa Renceng Mose.
RUTENG - Demi menjalankan visi pelayanan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Yayasan Karya Bakti Ruteng menggelar sejumlah kegiatan. Salah satunya, bertepatan dengan perayaan ulang tahun kelima, Klinik Jiwa Renceng Mose memunculkan sebuah gagasan menarik yaitu dengan menyelenggarakan lomba menulis cerita pendek (Cerpen) bertemakan ODGJ.
ADVERTISEMENT
Perlombaan ini dalam rangka meningkatkan kapasitas pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang penderita gangguan jiwa. kegiatan ini turut salah satu Yayasan yang bergerak di bidang pengembangan literasi di Kabupaten Manggarai, yaitu klub Buku Petra untuk bersinergi.
Perlombaan tersebut telah dibuka sejak tanggal 3 September 2019 dan akan berakhir pada 30 Oktober 2019 mendatang. Informasi Selengkapnya tentang Lomba Cerpen ODGJ ini bisa diakses melalui https://www.bacapetra.co/lomba-cerpen-odgj-gambaran-umum/ .
Melalui agenda kegiatan lomba penulisan cerpen ini, dr. Ronald Susilo mengatakan harapannya, jika persoalan atau isu tentang Orang dengan Gangguan Jiwa akan menjadi percakapan yang luas melalui karya-karya para cerpenis.
“Skema harapan yang ingin dibangun adalah, pertama, para penulis yang akan menjadi peserta lomba mengakrabi isu ODGJ (melalui riset). Kedua, para pembaca akan mendapat tambahan pemahaman tentang isu yang sama melalui karya-karya para pemenang. Karena dalam rencana, karya-karya pemenang akan diterbitkan dalam satu buku antologi cerpen,” jelas dr. Ronald Susilo.
ADVERTISEMENT
Penanggung Jawab situs web bacapetra.co ini juga menambahkan, kesadaran bahwa salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menjadikan isu ODGJ sebagai percakapan besar adalah bisa melalui karya-karya sastra. “Dan karena wilayah sasaran adalah NTT, maka para penulis atau peserta lomba yang terlibat adalah yang berada di wilayah NTT juga. Dengan harapan, mereka dapat menghasilkan karya yang sebut saja paham konteks atau tidak tercabut dari kondisi riil daerah ini,” imbuh Ronald.
Pertimbangan lain terkait keputusan membatasi wilayah asal peserta lomba, dikarenakan Klinik Jiwa Renceng Mose berada di NTT, tepatnya di Kabupaten Manggarai. Bahkan sejauh ini, seluruh pasien yang dirawat di klinik tersebut berasal dari area Manggarai dan daratan Flores.
“Dan pada saat yang sama belum banyak yang mengetahui isu ODGJ dengan baik. Sebagai akibatnya, penanganan terhadap orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan tidak dilakukan dengan tepat, bahkan tidak pernah berhasil menjadi percakapan arus utama di NTT,” aku Ronald.
ADVERTISEMENT
Untuk diketahui, selama berjalannya Panti Rehabilitasi Gangguan Jiwa Renceng Mose sejak tahun 2014 sampai dengan saat ini, banyak masyarakat yang antusias dan aktif melakukan konsultasi jika terdapat penderita Gangguan Jiwa di lingkungannya. Total pasien yang menjalani rawat jalan saat ini, sebanyak 585 orang, sedangkan 30 orang mendapatkan perawatan langsung di Panti oleh karyawan-karyawan profesional yang memahami Orang dengan Gangguang Jiwa.
Barangkali jumlah tersebut terbilang sedikit, sesuai dengan kapasitas kamar dan fasilitas pendukung lainnya yang hanya bisa menampung 30 orang saja. Pasien yang keadaannya kembali stabil setelah menjalani rehabilitasi akan dikembalikan ke pihak keluarga sehingga selalu ada pergantian pasien setiap bulannya.
Pasien yang dirawat di Klinik Jiwa Renceng Mose datang dari berbagai daerah di daratan Flores. Dari Maumere, Ende, Bajawa, Nagekeo, dan tentu saja Manggarai Raya. Bahkan beberapa pasien berasal dari luar NTT, seperti Jakarta dan daerah lainnya yang kebetulan mengetahui informasi tentang Klinik Jiwa Renceng Mose.(FP-06).
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan