Konten Media Partner

Roko Molas Poco; Tradisi Unik Membangun Rumah Adat di Manggarai

florespediaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Prosesi roko molas Poco di Ruteng. Sumber foto: Manggarai fotografer.
zoom-in-whitePerbesar
Prosesi roko molas Poco di Ruteng. Sumber foto: Manggarai fotografer.

RUTENG -Flores khususnya Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur memang kaya akan tradisi unik dan khas. Selain keindahan alam yang memesona, Kabupaten Manggarai dan beberapa Kabupaten di Flores juga terkenal dengan beberapa warisan budaya berbeda setiap daerahnya.

Di Manggarai, salah satu tradisi unik itu bernama Roko Molas Poco. Tradisi adat ini merupakan pertanda pada sebuah kampung akan dibangun rumah adat yang oleh Manggarai menyebutnya "Mbaru Gendang". Tradisi ini juga terdapat di Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur.

Roko Molas Poco terdiri dari tiga kata, Roko berarti Pikul atau memikul bersama, Molas yang berarti cantik atau menawan dan Poco berarti Gunung atau hutan. Secara harafiah tradisi ini diartikan sebagai memikul secara bersama-sama kayu terbaik dari gunung atau hutan.

Sebelum upacara Roko Molas Poco ini berlangsung, rentetan proses berlansung di rumah adat atau "Mbaru Gendang". Proses itu mulai dari merencanakan pembangunan rumah adat yang melibatkan warga kampung hingga pembagian tugas untuk mempersiapkan kelompok khusus yang akan menebang serta mengambil pohon terbaik di hutan.

Dalam kebiasaan orang Manggarai semua bentuk musyawarah yang terjadi di rumah adat dilakukan dengan sebutan "lonto leok" atau duduk melingkar dengan posisi tu'a golo (kepala kampung) dan tu'a teno berada di tengah lingkaran.

Proses Menuju Roko Molas Poco

Tiang Penyangga/siri bongkok tengah diberkati oleh toko agama dan toko adat sebelum dipancangkan.Sumber foto: Dok.Humas Pemkab Mabar

Setelah rembug bersama di "Mbaru Gendang", selanjutnya warga kampung akan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok Roko Molas Poco yang bertugas ke hutan menebang pohon. Sedangkan kelompok kedua adalah kelompok "Curu Molas Poco" yang bertugas akan menjemput molas poco tersebut.

Sebelum menuju hutan, kelompok yang ditugaskan ke hutan terlebih dahulu mengikuti doa kepada leluhur yang berlangsung di Compang (altar tempat sesajian) di halaman rumah adat. Di tempat ini doa dipimpin lansung kepala kampung. Sesajian juga diletakan disana.

Setelah ritus di halaman rumah adat lama usai, barulah kelompok Roko Molas Poco bersama tu'a golo bergegas menuju hutan (Poco/puar). Kelompok ini membawa serta dengan bahan persembahan untuk ritus adat sebelum pohon ditebang.

Bahan persembahan itu diantaranya, Ayam Jantan, tuak, kapak (cola), Parang (Kope) serta peralatan lain yang dibutuhkan saat tiba di hutan.

Saat tiba di hutan, kelompok ini akan duduk menghadap pohon yang akan di tebang. Pohon yang dipilih biasanya pohon terbaik dan tentu kuat. Dihadapan pohon itu, tu'a golo dan anggota kelompok kembali mendaraskan doa pada leluhur agar kiranya mereka ikut merestui.

Setelah doa didaraskan, barulah pohon ditebang. Selanjutnya, kelompok ini akan memikul pohon yang telah di buat seperti balok besar berbentuk bulat tersebut dipikul secara bersama menuju gerbang kampung. Disana, kelompok curu (penjemput) telah menunggu untuk prosesi adat dimulai.

Gambar 3: Tu'a adat (kepala kampung) menyiram darah hewan kurban yang telah didoakan pada dasar siri bongkok/tiang penyangga sebelum dipancangkan. Sumber foto: Dok.Humas Pemkab Mabar

Kelompok penjemput yang berada di gerbang kampung (Pa'ang Beo) dilengkapi dengan kostum putih tak ketinggalan kain songke Manggarai membalut badan mereka bagian bawah serta destar di kepala. Disana mereka juga ditemani para penari yang akan mengiring pohon besar itu diarak hinga dipancangkan sebagai tiang sentral yang berada ditengah rumah ada dengan posisi vertikal.

Menariknya, diatas kayu yang telah disiapkan jadi tiang penyangga rumah adat, seorang gadis remaja duduk dan diarak menuju rumah gendang. Dara cantik itu diarak ratusan pria dengan tarian serta bunyi gendang dan gong yang saling bersahutan. Tak hanya tarian, lagu-lagu adat pun dinyanyikan.

Sementara di tengah kampung telah duduk bersila ratusan tokoh adat termasuk petinggi suku yang diundang dari tempat lain. Mereka menyambut tamu agung Molas Poco di gerbang kampung. Kayu suci yang telah didoakan itu pun diturunkan. Namun, dua gadis cilik tetap berada di atas batang kayu hingga sejumlah prosesi adat tuntas dilakukan.

Ucapan selamat datang bagi tamu istimewa pun meluncur dari kepala suku. Deretan mantra diucap berentetan seperti menyanyi. Suasana hening, nyaris membuat badan merinding. Getaran mistis begitu terasa menandakan roh para leluhur telah hadir.

Mengiringi prosesi, seekor babi disembelih. Darahnya ditumpahkan di depan kayu berukuran jumbo tersebut. Begitu prosesi inti kelar, barulah dua dara cantik itu turun dari atas batang kayu. Gong dan gendang kembali ditabuh. Kelompok penari kemudian beraksi memutari si kayu sakral.

Makna Roko Molas Poco

Tiang dipancangkan di tengah rumah adat (Siri Bongkok) adalah kayu yang diarak saat Roko Molas Poco. Sumber foto: Arka Dewa.

Vinsen Maju, salah satu sepuh adat kampung Tenda di Ruteng, Kabupaten Manggarai menjelaskan makna ritus adat tersebut. Menurutnya, Roko Molas Poco dilakoni hanya untuk satu kegiatan yakni pada saat membangun rumah adat.

Vinsen lalu mendedah secara harafiah acara adat itu. Roko diartikan membawa pergi dan Molas Poco sebagai bidadari hutan yang dimanifestasikan dalam wujud batang pohon. Sementara, keberadaan dua gadis cilik merupakan lambang kesucian.

“Batang pohon merupakan kayu pilihan. Sebelum ditebang kayu itu didoakan kemudian ditugur selama tiga pekan di dalam hutan sampai penunggu kayu tersebut meninggalkanya,” kata Vinsen.

Dua gadis diarak di atas kayu. Rupanya mereka juga tak sembarang menggunakan kayu. Ada pemilihan khusus yang juga bermakna khusus.

Rumah Adat Manggarai yang telah rampung dikerjakan.

“Kayu yang diarak tadi merupakan tiang utama atau siri bongkok yang akan menyangga seluruh bagian rumah adat yang akan dibangun,” kata dia menambahkan.

Lebih lanjut, Tu’a Golo (kepala) kampung Tenda, Agustinus Palu Baru mengatakan, dalam struktur rumah adat Manggarai tiang pancang (Siri Bongkok) merupakan tiang paling sakral dari sejumlah tiang yang ada.

Siri Bongkok merupakan simbolisasi seorang Ibu pembawa kesuburan dan kemakmuran. Dalam konteks kelembagaan adat, Siri Bongkok berfungsi sebagai pusat penyelesaian masalah.

“Dalam budaya Manggarai setiap persolan sosial kemasyarakatan tak lantas diserahkan kepada lembaga penegakkan hukum. Persoalan itu terlebih dahulu dibicarakan dan diselesaikan di dalam rumah adat. Kalau tidak ada kesepakatan barulah dilanjutkan ke tingkat penegakkan hukum,” ucap Agustinus.(FP-06).