Setiap Tahun, Abrasi Pantai di Kabupaten Lembata Alami Peningkatan

LEWOLEBA - Abrasi Pantai terjadi di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, ditengarai terjadi sejak 1975.
Panjang abrasi atau air laut masuk ke daratan di wilayah itu kurang lebih 87,30 meter.
Namun sejak saat itu, tidak ada upaya berbagai pihak untuk menahan laju abrasi yang kian meluas tersebut.
Titik terparah abrasi pantai di Lembata, terjadi di pantai SGB Bungsu hingga lebih dari 3 km ke arah Barat.
Pantai itu merupakan ruang bermain publik setempat, pada era 1980 an sampai saat ini. Namun, lokasi di bibir pantai kota Lewoleba itu lambat laun mulai dikapling oleh pemilik lahan.
Abrasi yang terus melaju setiap tahun itu mengancam rumah tinggal, tanah, kebun komoditi, jalan, pekuburan, rumah walet, Sumur, Kebun hortikultura, Kandang ternak babi.
Adapun ternak Sapi kini tidak punya lagi tempat peliharaan dan kehilangan pakan ternak.
Menjelang peringatan hari Konservasi Alam Nasional, 10 Agustus 2021, Forum Penanggulangan Resiko Bencana (FPRB) Kabupaten Lembata, menunjukan perhatian serius dengan menggelar sejumlah kegiatan di lokasi abrasi terbesar di Lembata itu.
Ketua Forum PRB Lembata, Andris Koban, Senin (9/8) menjelaskan, hasil asesmen yang dilakukan Divisi Diklitbang Forum PRB Lembata, menemukan abrasi di pantai SGB Bungsu ini terjadi sejak 1975.
Laju abrasi pun semakin masif sejak tahun 1990, seiring pesatnya pembangunan di bagian pantai Timur Kota Lewoleba, selain faktor alam.
"Proses konservasi di pantai SGB Bungsu sendiri membutuhkan biaya relatif besar dengan suport sumber daya yang besar. Tetapi belajar dari pengalaman, beberapa hal-hal besar yang dicapai oleh kita, selalu harus dimulai dengan hal kecil dengan cinta yang besar," ujar Andris Koban, Ketua Forum PRB Lembata.
Sementara itu, Ketua Divisi Diklitbang Forum PRB Kabupaten Lembata, Hyasintus Lama menjelaskan, abrasi pantai yang terjadi di daerah SGB Bungsu mencapai lebih dari 3 Km.
Abrasi tersebut terhitung dari Pantai SGB Bungsu di pantai Lewoleba ke arah Barat hingga ke Desa Pada.
"Abrasi Pantai di Pantai SGB Bungsu disebabkan oleh meningkatnya permukaan air laut, angin, gelombang, arus, pasang surut dan sedimentasi dan juga oleh aktivitas manusia yaitu pengambilan batu pantai dan penambangan pasir. Meningkatkan Abrasi juga oleh karena penggunaan dan pemanfaatan wilayah pantai di area yang lain yang menyebabkan air laut mengisi ruang yang lain," katanya.
Disebutkan, panjang abrasi atau air laut masuk ke daratan, kurang lebih 87,30 meter.
"Pada salah satu sisi kebun dari darat kami coba menghitung kearah pantai dengan meter, sisa tanah yang ada dari arah selatan ke Utara kurang lebih 42 m," ujarnya.
Karena itu, pihaknya menawarkan model konservasi dengan pola swadaya,dengan mengerahkan berbagai komunitas warga.
"Ada tiga agenda Kegiatan memperingati hari Konservasi yakni, Seremonial Launching Demplot Benteng Hidup, Penanaman tanaman pencegah abrasi, Startup Hybrid Engineering," paparnya.
Pihaknya berharap, upaya konservasi alamiah ini diikuti pula pendekatan Engineering (Konstruksi maupun Hybrid) untuk jadi water break/pemecah atau peredam gelombang.
"Sangat penting karena di wilayah itu pusaran arus dan turbulensi airnya sangat kuat sehingga menyebabkan abrasi yang cepat dan masif," tutupnya.
