Konten Media Partner

Warga Timor Tengah Selatan secara Swadaya Bangun Kantor Desa Megah

florespediaverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto 1 : Gedung Kantor Desa Toi di Kantor Desa Megah di NTT Ini Dibangun dengan Swadaya Murni Masyarakat. Foto : Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto 1 : Gedung Kantor Desa Toi di Kantor Desa Megah di NTT Ini Dibangun dengan Swadaya Murni Masyarakat. Foto : Istimewa

SOE - Sangat jarang terjadi pemerintahan desa memiliki gedung kantor desa yang mewah dan megah.

Apalagi, sumber dana pembangunan kantor desa itu bersumber swadaya murni masyarakat.

Pemerintah Desa Keca, di Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Provinsi NTT ini malah menapik anggapan itu.

Dibawah kepemimpinan Jidro Hendrik Nikodemus Lakapu, mereka berhasil membangun sebuah kantor desa yang megah dan sumber dana dilakukan secara swadaya dan gotong royong bersama warga desa Toi.

Hebatnya lagi, pembangunan kantor desa itu tanpa adanya desain perencanaan seorang arsitek.

Kantor desa yang sementara dalam tahap penyelesaian itu ternyata sudah mulai direncanakan pada tahun 2019 silam, namun pengerjaannya baru dimulai 10 Januari 2021, karena panitia pembangunan banyak yang pergi merantau mencari kehidupan yang layak di daerah orang.

"Memang dalam perencanaan kantor desa ini harus dibangun dua lantai, namun dalam perjalanan karena pengerjaan secara gotong royong oleh masyarakat sesuai keahlian masing-masing dan tanpa gambar, makanya hanya satu lantai," ungkap Kepala Desa Toi, Jidro Hendrik Nikodemus Lakapu, kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Foto 2 : Taman yang dibangun di Kantor Desa Toi, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Foto : Istimewa

Diungkapkan bahwa, yang beredar di media sosial bahwa Kantor Desa Toi itu berlantai tiga, namun Jidro membantahnya dan menjelaskan bahwa kantornya hanya satu lantai, tetapi dibuat trap sehingga menyerupai gedung berlantai tiga.

"Kantornya dibangun trap sehingga kelihatan lain. Selain itu dibangun juga dengan tempat untuk foto-foto, seperti taman yang dihiasi lampu warna warni, juga tangga yang dibaluti lampu juga sehingga kelihatan lain," ungkap Jidro.

Dijelaskan bahwa warga Desa Toi mengumpulkan uang sebesar Rp 250.000/KK yang pembayarannya bisa dicicil dari dana bantuan pemerintah kabupaten maupun pusat.

"Saya pikir begini, dari kantor desa lama yang sudah buruk ini lah kita dalam hal ini masyarakat mendapatkan banyak bantuan, sehingga apa salahnya jika kita rubah kantor ini jadi lebih baik, sehingga per kepala keluarga itu Rp 250.000 dan itu pun dicicil hingga lima sampai enam kali," ujarnya.

Khusus bahan-bahan bangunan non lokal seperti beton, paku, seng dan semen itu dibeli. Namun semua bahan-bahan lokal itu atas swadaya masyarakat. Bahkan taman untuk spot foto pun dibangun sendiri oleh Jidro, bermodalkan pengalamannya saat merantau di Bali.

"Ini murni swadaya, tidak pakai tukang dari luar bahkan gedung ini pun dikerjakan tidak pakai gambar. Ketika kita sudah mulai bekerja, ada saja ide positif yang dimasukkan oleh masyarakat, ini kalo menurut orang arsitek ya tidak percaya tapi ini yang terjadi," ungkap Jidro.

Motivasi Jidro membangun kantor desa megah itu karena sepulang dari tanah rantau di Bali selama 9 tahun, dirinya melihat kondisi kampungnya yang tidak banyak berubah.

"Saya pulang kampung dan melihat kok kampung saya kumuh, diam, tenang dan tidak ada perubahan. Mulai dari situ saya libatkan diri dalam rapat yang digelar di balai desa, saya selalu protes karena kondisi kampung yang tidak berubah," beber Jidro.

Sebelum menjadi Kepala Desa Toi, Jidro dipercayakan menjabat sebagai Sekretaris Desa (Sekdes).

Sejak saat itu, suasana desa mulai bergeliat hingga dirinya dipercayakan masyarakat Desa Toi untuk memimpin Desa Toi hingga berhasil membangun kantor desa yang megah tanpa menggunakan sedikit pun dana desa.

Foto 3 : Beberapa warga Desa Toi sedang bergotong royong menyelesaikan pekerjaan Kantor Desa Toi. Foto : Istimewa

"Saya minta untuk diperiksa karena saya takut ada kecurigaan orang kalo bangun pake dana desa. Karena secara regulasi itu tidak diperbolehkan menggunakan dana desa bangun kantor desa. Kami swadaya, karena desa di udik begini mau ambil uang dari mana?," tegasnya.

Selain membangun kantor desa, Jidro bersama warganya membangun Balai Pelatihan Desa.

Balai ini nantinya digunakan untuk tempat latihan menenun, menganyam dan latihan kerja lainnya bagi pelajar SMP maupun SMA.

"Kami juga lembur sampai malam untuk selesaikan pekerjaan ini semua. Kami juga bangun jalan setapak menggunakan batu warna Kolbano, membuat spot foto, memasang lampu hias dengan harapan menjadi lokasi wisata baru di Kabupaten TTS," tandasnya.

Pembangunan kantor desa tersebut segera rampung sehingga direncanakan kantor desa itu akan diresmikan pada bulan April 2022 mendatang, dengan harapan gubernur NTT bersama Bupati TTS dapat menghadiri sekaligus meresmikan Kantor Desa Toi.

Kontributor : Albert Aquinaldo