kumparan
25 Mar 2019 8:06 WIB

Kisah Guru Honorer di SMPN 3 Waigete, Digaji Rp 85-125 Ribu Sebulan

Salah seorang guru honorer sedang memberikan pelajaran Agama Katolik kepada siswa kelas 7 di SMPN 3 Waigete, Desa Watudiran, Kecamaan Waigete, Kabupaten Sikka. Foto: Mario WP Sina, florespedia/kumparan.com
Desa Watudiran adalah sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka. Desa ini terdiri dari tiga dusun dengan letaknya berjauhan antara satu dusun dengan dusun lainnya. Sebagian besar penduduk desa berada di bawah garis kemiskinan dengan mata pencaharian dominan adalah petani yang mengolah pertanian lahan kering.
ADVERTISEMENT
Sebagian besar lahan pertanian ditanami dengan tanaman hortikultura dan tanaman komoditi. Hasil pertanian seperti padi lahan kering, kacang tanah, kemiri, dan asam menjadi andalan masyarakat dalam mempertahankan hidup dan membiayai pendidikan anak-anak.
Di tengah keterbatasan, warga Desa Watudiran, secara swadaya berusaha untuk menghadirkan sebuah sekolah menengah pertama (SMP) agar anak-anaknya dapat sekolah lebih dekat. Jarak antara pemukiman penduduk dengan SMP yang terdekat berkisar 15-20 kilometer. Dengan jarak yang jauh, disertai dengan medan yang berat, dan ketiadaan transportasi, memicu masyarakat untuk tidak menyekolahkan anaknya, sehingga angka anak putus sekolah cukup tinggi.
Berhadapan dengan fakta di atas, pada Juli 2017, pemerintah desa didukung oleh pemerintah Kecamatan Waigete, Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka dan warga mewujudkan hadirnya SMP Negeri 3 Waigete yang berlokasi di Kampung Klahit, Dusun Kloangaur, Desa Watudiran.
ADVERTISEMENT
Tak Ada Guru PNS, Hanya Ditopang Guru Honorer Sejak Awal Berdiri
Kepala Sekolah SMPN 3 Waigete, Hendrikus Seda, mengatakan sejak awal berdirinya, sekolah tersrebut tak mempunyai guru kelas yang berstatus guru Pegawai Negeri Sipil (PNS). Satu-satunya PNS adalah guru sekolah dasar yang diminta menjadi kepala sekolah di SMPN tersebut, yang tak lain adalah Hendrikus sendiri. Jumlah guru kelas dan guru mata pelajaran yang sebanyak delapan orang berstatus honorer.
Ia mengatakan, tahun pertama keberadaan sekolah, delapan orang guru honorer setiap bulannya diberi gaji--atau lebih tepatnya insentif--oleh pihak sekolah sebesar Rp 85 ribu. Jumlah insentif yang diberikan memang terbilang sangat kecil.
“Tahun pertama 2017, para guru diberi insentif Rp 85 ribu. Sebab kalau disebut gaji tentu tidak layak. Ini lebih tepatnya 'uang sabun'. Kalau hanya berpikir gaji pasti bapak ibu guru tidak akan mau mengajar di tempat ini," ungkap Hendrikus Seda.
ADVERTISEMENT
Terkait penggajian guru, kata Hendrikus, semuanya dia sampaikan secara transparan di hadapan para guru dan semua orang tua murid. Pihaknya memang menginginkan ada kenaikan, tetapi harus ada pembicaraan dan kesepatakan dengan orang tua siswa dan komite sekolah.
Ia melanjutkan, memasuki tahun kedua usia sekolah, pihaknya sudah membayar gaji guru sebesar Rp 125 ribu per bulan. Jumlah ini memang masih sangat kecil, tetapi kondisi keuangan sekolah yang hanya berharap dari pembayaran uang sekolah oleh orang tua siswa membuat pihak sekolah belum bisa menggaji para guru lebih baik.
Salah seorang guru, Mari Yuliwati, mengungkapkan dirinya tetap merasa senang mengajar, walaupun gaji yang diterima dapat dikatakan tidak layak untuk hidup sebulan.
ADVERTISEMENT
“Kami tetap merasa senang mengajar di sekolah ini meski dengan gaji yang bisa dikatakan sangat tidak layak. Bukannya kami tidak menginginkan gaji yang besar, tetapi pendidikan anak-anak harus diutamakan,” tutur Maria Yuliwati.
Maria mengakui, awal mengajar tahun 2017, ia bersama guru honorer lainnya hanya digaji Rp 85 ribu. Tahun 2019 sudah ada peningkatan menjadi Rp 125 ribu sebulan. Uangnya pun berasal dari iuran yang dibayarkan orang tua murid sekolah.
“Dengan gaji sebesar itu tentu sangat tidak mencukupi kebutuhan kami setiap hari. Untuk beli bedak saja tidak cukup apalagi untuk makan,”kata Maria seraya tertawa terbahak-bahak.
Maria mengaku, dirinya bersama guru lainnya tetap semangat dalam menjalankan tugas sebagai guru. Pendidikan anak-anak di desanya jauh lebih penting, sehingga membuat mereka tetap semangat mengajar, meski di dalam hati merasa kecewa saat menerima gaji.
ADVERTISEMENT
“Terkadang memang kami merasa kecewa karena pengabdian kami tidak dihargai dengan bayaran yang sesuai. Namun, semua itu tidak menjadi halangan bagi kami untuk setia menjalani profesi sebagai guru,” ungkapnya.
Keluhan senada juga disampaikan oleh Hilarius Teta, guru matematika. Ia mengungkapkan, saat pertama kali disampaikan gajinya hanya Rp 85 ribu, ia sempat kecewa. Kendati demikian, ia diingatkan oleh kepala sekolah dan ketua komite kalau gaji yang kecil ini pelan-pelan akan dinaikkan.
Ia pun memberanikan diri mengajar sejak awal berdirinya sekolah dan sampai hari ini memasuki usia sekolah di tahun kedua, ia tetap bertahan. Ia mengaku sudah mencintai para siswa sekolah dan bersedia mengabdi dengan keterbatasan yang ada.
Kendati demikian, ia sungguh berharap ada perhatian dari Dinas PKO terhadap gaji guru honor agar dapat lebih layak lagi.
ADVERTISEMENT
Guru lainnya, Alfonsus Bradison, mengaku masih menerima gaji Rp 85 ribu sebulan karena masih berstatus guru yang belum setahun mengajar. Guru Pendidikan Jasmani ini tetap komit memberikan pelajaran yang baik bagi anak didiknya, walaupun dengan gaji yang sungguh minim.
Guru PNS yang Dimutasi ke SMPN 3 Waigete Belum Masuk Mengajar
Ketua Komite Sekolah SMPN 3 Waigete, Barnabas Kornelis, mengakui setiap siswa dipungut biaya sebesar Rp 400 ribu setahun untuk membayar honor para guru.
“Memang kami telah berpikir untuk menaikkan biaya uang iuran tersebut, namun hal ini perlu dibicarakan kembali dengan pihak orang tua murid. Rata-rata orang tua murid hanya berprofesi sebagai petani,” ungkapnya.
Barnabas Kornelis berharap agar Dinas PKO Kabupaten Sikka bisa membantu biaya gaji para guru. Ia pun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para guru yang setia mengabdi di sekolah ini.
ADVERTISEMENT
Ia juga berharap dua orang guru PNS yang menurut informasi dari kepala sekolah akan mengajar di SMPN 3 Waigete untuk berkomitmen dalam mengajar di sekolah tersebut.
“Saya dengar sudah satu bulan lalu mutasi ke sekolah ini, tapi sampai hari ini (dua) guru PNS itu belum masuk mengajar. Semoga guru PNS ini komit dan mau mengabdi untuk mendidik anak-anak Desa Watudiran," ungkap Barnabas Kornelis. (FP – 01).
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·