Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.1
Konten dari Pengguna
Online Disinhibition Effect: Diri 'Online' Kita yang Bertolak Belakang
23 November 2021 12:05 WIB
·
waktu baca 5 menitTulisan dari Florine Averina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Pastinya kalian pernah mendengar bahwa masyarakat Indonesia terkenal dengan keramahtamahan dan kesopanannya.
ADVERTISEMENT
Perilaku tersebut dapat kita lihat di dalam kehidupan sehari-hari seperti adanya budaya gotong royong, penggunaan bahasa daerah dengan sopan, hormat terhadap orang yang lebih tua, dan seterusnya. Namun, apakah kalian juga telah mendengar bahwa netizen Indonesia merupakan netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara?
Berdasarkan riset Digital Civility Index mengenai tingkat kesopanan di dunia maya, Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang menjadi objek riset. Wah, sangat bertolak belakang bukan? Di mana di dunia nyata merupakan seseorang yang sopan, namun di dunia maya dapat melontarkan komentar-komentar kasar. Seseorang yang di dunia nyata merupakan pemalu dapat menjadi sangat aktif berbagi di dunia maya, atau bahkan sebaliknya. Pernahkah kalian bertemu dengan orang yang seperti itu?
ADVERTISEMENT
Di dalam dunia psikologi, fenomena tersebut dikenal sebagai Online Disinhibition Effect. Menurut John Suller (2004), Online disinhibition effect adalah suatu fenomena kondisi di mana perilaku seseorang di dunia maya tidak seperti apa yang biasanya mereka lakukan ketika berinteraksi secara langsung. Saat berada di dunia maya mereka merasa lebih bebas dan lebih terbuka untuk dapat mengekspresikan diri sendiri karena tidak adanya identitas pribadi atau anonimitas (Ching, Wu, & Shih, 2017)
Online disinhibition effect dapat dibagi menjadi dua arah yang berlawanan, yaitu benign disinhibition dan toxic disinhibition. Benign disinhibition adalah ketika seseorang lebih terbuka untuk membagikan hal personal tentang dirinya, membagikan perasaan emosi yang sedang ia rasakan, dan menunjukkan aksi kebaikan serta kemurahan di dunia maya, meskipun di kehidupan nyata ia bukanlah orang yang seperti itu.
ADVERTISEMENT
Contohnya, ketika individu belum tentu mampu memulai percakapan di kehidupan nyata, tapi di dunia online ia dapat nyaman berbagi emosi melalui kata-kata. Orang dengan tipe ini menunjukkan adanya usaha untuk lebih memahami dan mengembangkan diri, untuk menyelesaikan masalah interpersonal.
Di sisi lain, toxic disinhibition adalah suatu kondisi di mana seseorang menggunakan kata-kata kasar, menunjukkan perilaku kebencian, menunjukkan kemarahan, bahkan memberikan ancaman di dunia maya. Selain perilaku tersebut, kegiatan mengunjungi dark web dan sejenisnya juga termasuk dalam toxic disinhibition.
Contoh perilaku yang sering kita lihat adalah cyberbullying, bentuk kekerasan dan penghinaan melalui media sosial atau tindakan bullying yang dilakukan di dunia maya (Vandebosch & Van Cleemput, 2018). Orang dengan tipe ini hanya menjadikan dunia maya sebagai tempat pelampiasan emosi atau keluh kesah saja. Kegiatan yang dilakukan oleh pelaku cenderung tidak bermanfaat, sehingga tidak menunjukkan adanya perkembangan pribadi.
ADVERTISEMENT
Dalam beberapa kasus, perbedaan antara benign disinhibition dan toxic disinhibition cukup kompleks dan ambigu. Contohnya penggunaan kata kasar dalam suatu percakapan dapat memberikan rasa terapeutik bagi beberapa orang. Di satu sisi, ketika seseorang dengan cepat membagikan informasi personal, setelahnya akan merasa menyesal dan malu karena menganggap dirinya terlalu terbuka.
Benign disinhibition, toxic disinhibition, maupun campuran keduanya, apakah yang menyebabkan online disinhibition ini? Elemen apa dari dunia maya yang menyebabkan lemahnya batasan psikologis yang menghalangi perasaan dan kebutuhan tersembunyi?
Menurut Suller (2004), terdapat 6 faktor yang saling berkaitan dalam terjadinya fenomena online disinhibiton. Yuk, kita simak!
1. Dissociative anonymity
Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memisahkan tindakan mereka secara online dari kehidupan nyata, ia akan merasa aman dari terungkapnya identitas asli mereka. Ia dapat menyembunyikan beberapa atau keseluruhan identitas. Mereka juga dapat mengubah identitas mereka menjadi orang yang berbeda di dunia maya. Seperti pada kata ”Anonymous”, seseorang dapat tidak memiliki nama atau setidaknya tidak menggunakan nama asli mereka.
ADVERTISEMENT
2. Invisibility
Ketika menggunakan media online, biasanya kita tidak dapat melihat lawan bicara kita. Ketakterlihatan atau invisibility ini membuat orang memiliki keberanian untuk mengunjungi websites dan melakukan hal-hal secara online yang biasanya tidak berani mereka lakukan di dunia nyata.
3. Asynchronicity
Percakapan asinkron sering terjadi saat sedang berkomunikasi secara online. Maksudnya, akan ada jarak waktu untuk menjawab seperti beberapa menit atau bahkan berjam-jam. Hal tersebut dapat mengubah cara berpikir seseorang dengan cepat ke arah benign disinhibition atau toxic disinhibition.
4. Solipsistic introjection
Saat sedang membaca pesan lawan bicara, tentunya penerima pesan tidak dapat mendengar lawan bicara mengatakan pesan tersebut secara langsung. Maka dari itu, ia akan mengimajinasikan bagaimana suara dan wujud lawan bicara pada saat itu juga seperti membayangkan suatu karakter fantasi.
ADVERTISEMENT
5. Dissociative imagination
Secara sadar maupun tidak sadar, seseorang akan mengimajinasikan dirinya di dalam dunia maya berbeda dengan dirinya di dunia nyata. Hal ini membuat norma dan aturan dari dunia nyata tidak diterapkan pada saat di dalam dunia maya.
6. Minimization of status and authority
Di dunia maya, status atau kekuasaan yang biasanya tampak pada ciri fisik dan lingkungan sosial tidak dapat kita lihat. Dengan minimnya perbedaan yang terlihat pada status dan kekuasaan, mereka akan memiliki kesempatan yang sama untuk dapat mengekspresikan diri.
Online disinhibition effect dapat diartikan sebagai perubahan perilaku seseorang saat online akibat dari terhambatnya perasaan seperti rasa bersalah, kecemasan, dan sejenisnya sebagai bagian dari self di dunia nyata yang berbeda dengan pribadi di dunia maya. Self atau pribadi ini tidak terpisah dari lingkungan di mana kita mengekspresikan diri, di dunia maya maupun dunia nyata.
ADVERTISEMENT
Berbagai media komunikasi online dan lingkungan dapat memberikan kesempatan untuk mengekspresikan self yang beragam pula. Dengan adanya keadaan yang beragam, kita juga dapat melihat perspektif yang berbeda terhadap identitas diri. Intinya adalah diri kita di dunia nyata dan di dunia maya sama-sama merupakan diri kita yang sebenarnya, hanya terkondisikan dengan lingkungan sekitar pada saat itu.
Dalam segala lingkungan atau keadaan, kita harus tetap menjaga dan bertanggung jawab atas kata-kata serta perbuatan yang akan kita lakukan. Dalam menggunakan media online, segala tindakan yang kita lakukan akan meninggalkan jejak. Jadi, bijaklah dalam menggunakan media online.
Daftar Pustaka:
Ching, T., Wu, L. S., & Shih, J. F. (2017). Examining the Antecendents of Online Disinhibition. Emerald Insight: Information Technology & People, 30(1), 1-26. https://doi.org/10.1108/ITP-07-2015-0167
ADVERTISEMENT
Suller, John (2004). The Online Disinhibition Effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321–326. https://doi.org/10.1089/1094931041291295
Vandebosch, H., & Van cleemput, K. (2018). Defining cyberbullying: a qualitative research into the perceptions of youngsters. CyberPsychology & Behavior, 11(4), 499– 503. https://doi.org/10.1089/cpb.2007.0042