FOMO Keuangan: Saat Generasi Muda Terjebak Investasi Ikut-ikutan dan Paylater

Mahasiswa universitas Pamulang angkatan 2025
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fandy Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lini masa media sosial anak muda hari ini riuh oleh tangkapan layar portofolio saham berwarna hijau, kisah sukses trading, hingga video unboxing belanjaan hasil cicilan paylater. Fear of Missing Out (FOMO), rasa takut tertinggal, tidak lagi berhenti pada urusan tempat nongkrong atau gaya berpakaian. Ia kini ikut menentukan keputusan finansial: ke mana uang ditaruh, dan berapa banyak utang yang berani diambil.
Teknologi keuangan digital memang pisau bermata dua. Membuka rekening, membeli saham, atau mengajukan pinjaman kini cukup lewat layar ponsel. Namun ketika dorongan psikologis FOMO bertemu literasi keuangan yang belum matang, kemudahan itu dapat melukai masa depan finansial generasi muda.
Pemuda: Kelompok Besar yang Menjadi Sasaran Empuk
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda berusia 16–30 tahun pada 2025 mencapai sekitar 66,83 juta jiwa, atau 23,5 persen dari total penduduk. Persentasenya memang menyusut dari tahun ke tahun, tetapi kelompok ini tetap menjadi tulang punggung angkatan kerja sekaligus pasar utama produk keuangan digital
Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dirilis OJK, LPS, dan BPS menunjukkan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan baru 69,57 persen. Keduanya naik dibandingkan 2025 (92,74 persen dan 66,64persen), tetapi jarak antara keduanya masih sekitar 24 poin.
Artinya, jauh lebih banyak orang yang memakai produk keuangan daripada yang memahami cara kerja dan risikonya. Ketua Dewan Komisioner OJK sendiri mengakui bahwa masyarakat kian mudah mengakses layanan keuangan, tetapi belum seluruhnya paham produk yang digunakan.
Dampak kesenjangan itu terlihat pada pinjaman daring (pindar/pinjol). OJK mencatat per Juli 2026 outstanding pembiayaan industri pindar mencapai Rp105,63 triliun, tumbuh 24,76 persen dibandingkan Juli 2025. Tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) berada di 4,32 persen, masih di bawah batas 5 persen, tetapi ada 16 penyelenggara yang sudah melampaui batas tersebut.
Yang paling relevan bagi generasi muda: kelompok usia 19–34 tahun menyumbang 48,22 persen dari total outstanding pindar bermasalah per Juli 2026. OJK menjelaskan bahwa hal ini sejalan dengan tingginya aktivitas penggunaan pindar pada usia produktif sehingga eksposur risikonya lebih besar, dan menilai perlunya penguatan penilaian kemampuan bayar.
Anatomi FOMO Finansial
1. Kecemasan dan tekanan sosial. Melihat rekan sebaya atau influencer memamerkan cuan instan menimbulkan rasa “ketinggalan kereta”. Keputusan investasi akhirnya diambil karena emosi dan tren, bukan riset rasional (do your own research).
2. Kepuasan instan. Paylater memberi pengalaman belanja tanpa “rasa sakit” mengeluarkan uang tunai. Pemakaian berlebihan mengubah persepsi tentang kemampuan finansial, seolah-olah uang yang dimiliki lebih banyak daripada kenyataannya.
3. Stres dan lingkaran utang. Ketika tagihan menumpuk atau nilai portofolio ikut-ikutan anjlok, tekanan psikologis meningkat. Cicilan yang tak sebanding dengan pendapatan sering mendorong praktik gali lubang tutup lubang.
Keuangan sehat bukan soal terlihat kaya di media sosial, melainkan memiliki arus kas yang aman.
