Apakah Beras Bisa Kedaluwarsa? Begini Kata Ahli
·waktu baca 3 menit

Pasti kamu sering mendengar kalimat “bukan orang Indonesia kalau belum makan nasi” bukan? Ya, ungkapan memang bukan tanpa alasan, karena nasi sendiri sudah lama menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia.
Tak heran, banyak orang memilih untuk selalu menyimpan beras di rumah. Ada yang membeli dalam jumlah besar untuk stok, ada juga yang memilih membeli secukupnya sesuai kebutuhan. Tapi, pernah nggak sih terlintas di pikiran, sebenarnya beras bisa kedaluwarsa nggak, sih?
Apalagi jika kita membeli beras secara eceran di pasaran. Tidak seperti produk kemasan yang mencantumkan tanggal kedaluwarsa, beras curah sering kali tidak memiliki informasi tersebut. Hal ini membuat sebagian orang ragu apakah beras yang disimpan dalam waktu lama masih aman untuk dikonsumsi.
Menjawab hal tersebut, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Prof. Dr. Feri Kusnandar, menjelaskan bahwa beras pada dasarnya tidak memiliki masa kedaluwarsa. Namun, bukan berarti kualitasnya akan selalu sama.
"Jadi kalau kita bicara expired untuk produk yang misalkan beras itu, biasanya expired itu terkait dengan mutu. Jadi, mutunya mulai menurun tapi itu tidak langsung terkait dengan safety atau keamanan pangan," jelas Prof. Feri seperti dikutip dari kanal YouTube IPB TV, Jumat (1/5).
Menurutnya, semua bahan pangan akan mengalami penurunan mutu seiring waktu penyimpanan. Penurunan ini bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam bahan itu sendiri maupun dari lingkungan penyimpanannya. Misalnya, komposisi beras, kadar air, hingga kondisi kemasan.
Secara umum, beras memiliki kadar air yang cukup rendah, yaitu di bawah 14 persen. Kondisi ini membuat beras relatif lebih tahan lama karena tidak mudah ditumbuhi mikroba. Meski begitu, jenis beras juga mempengaruhi daya simpannya. Beras putih, beras merah, dan beras hitam memiliki komposisi yang berbeda, sehingga ketahanannya pun bisa berbeda.
Menurut Prof. Feri, beras yang sudah lama disimpan mungkin akan mengalami perubahan kualitas, seperti aroma, rasa, atau tekstur, tetapi belum tentu langsung berbahaya saat dikonsumsi.
"Yang penting sebetulnya kita lihat dari tanda-tanda tadi apakah misalkan berasnya, warnanya udah berubah apa belum, tengik atau tidak, atau misalkan akibat adanya pertumbuhan kutu beras itu jadi kayak bubuk atau misalkan teksturnya udah mulai lunak gitu,” jelas Prof. Feri.
Meski begitu, Prof. Feri menyarankan agar kita tetap memperhatikan kondisi beras sebelum diolah. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah munculnya kutu. Jika beras sudah berkutu, sebaiknya tidak digunakan, karena serangga tersebut dapat membawa kotoran atau menghasilkan zat tertentu yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Menurut dia, kondisi penyimpanan juga sangat penting untuk diperhatikan. Beras yang disimpan di tempat lembap lebih mudah ditumbuhi kutu dan mengalami kerusakan. Oleh karena itu, penting untuk menyimpan beras di tempat yang kering, tertutup rapat, dan memiliki sirkulasi udara yang baik.
