Bahasa Khek, Pekong Tua, dan Jejak Tionghoa di Batang Tarang

Dosen Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Vinsensius SFil MM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika orang bertanya dari mana saya berasal, saya biasanya menjawab, "Saya lahir di Batang Tarang, Kabupaten Sanggau." Sebagian orang mungkin tidak langsung mengenal nama tempat itu. Namun bagi saya, Batang Tarang bukan sekadar titik di peta Kalimantan Barat. Di sanalah saya lahir, tumbuh, dan mengenal kehidupan yang berwarna. Saya lahir pada tahun 1990 di Pasar Batang Tarang. Ayah saya berasal dari suku Dayak Mali, sedangkan ibu saya keturunan Tionghoa. Sejak kecil saya hidup di lingkungan yang beragam. Orang Dayak, Melayu, dan Tionghoa tinggal berdampingan sebagai tetangga. Mereka bertemu di pasar, di sekolah, di tempat ibadah, maupun dalam berbagai kegiatan sosial. Ketika kecil, saya tidak pernah berpikir bahwa keberadaan masyarakat Tionghoa di Batang Tarang merupakan sesuatu yang istimewa. Bagi saya, mereka adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Baru ketika dewasa saya mulai menyadari bahwa komunitas tersebut memiliki sejarah panjang yang belum banyak ditulis. Salah satu hal yang paling saya ingat adalah Bahasa Khek. Hampir semua orang Tionghoa yang saya kenal saat kecil menggunakan bahasa itu dalam percakapan sehari-hari. Bahkan beberapa orang Dayak juga mampu berbicara dalam Bahasa Khek, meskipun logatnya berbeda. Saya sendiri masih bisa menggunakan Bahasa Khek untuk percakapan sehari-hari, walaupun banyak kosakata yang sudah bercampur dengan bahasa Indonesia dan Melayu. Kini keadaan mulai berubah. Ketika pulang ke Batang Tarang, saya melihat semakin banyak generasi muda yang lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Khek masih ada, tetapi tidak lagi sekuat ketika saya masih kecil. Karena itu, setiap kali mendengar orang tua bercakap-cakap dalam Bahasa Khek, saya merasa sedang mendengar bagian dari sejarah yang masih hidup. Selain bahasa, saya juga masih mengingat berbagai tradisi yang dijalankan masyarakat Tionghoa. Saat Imlek tiba, suasana kampung terasa berbeda. Mercon dibunyikan, keluarga saling berkunjung, anak-anak menerima angpao, dan kue keranjang menjadi hidangan yang mudah ditemukan. Saya juga masih ingat kertas merah bertulisan Cina yang ditempel di pintu rumah-rumah Tionghoa. Jejak lain yang masih membekas dalam ingatan saya adalah keberadaan pekong tua di kawasan Pasar Hilir. Saya memang tidak pernah masuk ke dalamnya, tetapi keberadaan bangunan itu sudah lama dikenal masyarakat setempat. Menurut cerita yang saya dengar, pekong tersebut telah ada sejak generasi kakek dan nenek terdahulu. Di sekitar kawasan yang sama, ibu saya pernah bercerita tentang sebuah sekolah Cina yang dahulu pernah berdiri di sana. Bangunannya kini sudah tidak ada lagi, tetapi kisah tentang sekolah itu masih hidup dalam ingatan sebagian masyarakat. Ibu saya sendiri yang lahir pada tahun 1950-an pernah bersekolah di tempat tersebut. Selain itu, masih ada makam-makam tua bertulisan Cina yang tersebar di beberapa lokasi sekitar Batang Tarang. Ketika kecil, saya pernah melihat makam dengan bentuk khas yang berbeda dari makam pada umumnya. Saat itu saya tidak terlalu memikirkannya. Namun sekarang saya menyadari bahwa makam-makam tersebut merupakan bagian dari jejak sejarah yang masih bertahan hingga hari ini. Berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Tionghoa telah lama menjadi bagian dari kehidupan Kalimantan Barat. Sebagian besar berasal dari kelompok Hakka atau Khek yang datang melalui jalur perdagangan dan kemudian menyebar hingga ke daerah pedalaman. Walaupun belum ditemukan catatan yang dapat memastikan kapan tepatnya orang Tionghoa pertama kali tiba di Batang Tarang, keberadaan pekong tua, bekas sekolah Cina, makam-makam bertulisan Cina, serta penggunaan Bahasa Khek menunjukkan bahwa komunitas ini telah hadir selama beberapa generasi. Yang paling saya syukuri dari masa kecil di Batang Tarang adalah suasana kebersamaannya. Orang Dayak, Melayu, dan Tionghoa hidup berdampingan dengan cukup harmonis. Mereka bekerja sama dalam urusan ekonomi, saling membantu dalam kehidupan sosial, dan saling berkunjung saat hari raya. Ketika Imlek tiba, banyak tetangga datang berkunjung ke rumah keluarga Tionghoa. Sebaliknya, saat Natal, masyarakat juga saling mengunjungi tanpa terlalu mempersoalkan latar belakang etnis. Keluarga saya sendiri menjadi contoh kecil dari perjumpaan itu karena lahir dari perkawinan Dayak Mali dan Tionghoa. Sampai hari ini saya belum menemukan jawaban pasti mengenai kapan orang Tionghoa pertama kali datang ke Batang Tarang. Namun mungkin pertanyaan itu bukan satu-satunya hal yang penting. Yang tidak kalah penting adalah menyadari bahwa jejak mereka masih dapat ditemukan hingga sekarang. Bagi saya, jejak itu bukan hanya pekong tua, bukan hanya makam-makam bertulisan Cina, dan bukan pula cerita tentang sekolah yang sudah lama hilang. Jejak itu juga hidup dalam bahasa yang masih terdengar, dalam tradisi yang masih dijalankan, dan dalam orang-orang yang masih menjadi bagian dari masyarakat Batang Tarang. Karena itulah, ketika mengenang kampung halaman, saya selalu merasa bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di dalam buku. Sejarah juga hidup dalam percakapan sehari-hari, dalam tradisi yang diwariskan, dan dalam kehidupan masyarakat yang terus berjalan dari generasi ke generasi. Catatan Penulis: Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang lahir dan besar di Batang Tarang, wawancara sejarah lisan dengan keluarga dan masyarakat setempat, serta penelusuran berbagai sumber akademik dan historis mengenai Batang Tarang, Sanggau, Kalimantan Barat, serta komunitas Tionghoa dan Hakka di wilayah tersebut.
