Berakar di Indonesia, Menggapai Dunia
Tulisan dari Eko Yudha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan ini, tepat 21 tahun yang lalu, saya pertama kali menjejakkan kaki di bumi Norwegia. Bermula dari satu paspor, lalu menjadi dua, tiga, empat, dan lima paspor. Alhamdulillah, semuanya masih ‘ijo royo-royo’. Setidaknya hingga saat ini. Kami juga tidak ingin gegabah dan arogan dalam meramal masa depan.
Banyak yang mengira kami sudah menjadi warga negara Norwegia, atau bertanya mengapa kami masih bertahan sebagai warga negara Indonesia. Padahal, setiap lima tahun sekali kami harus mengurus penggantian paspor ke ibu kota, Oslo, yang berjarak sekitar tujuh jam perjalanan dengan mobil. Untuk bepergian ke berbagai negara lain pun, kami harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mengajukan visa, juga ke Oslo. Belum lagi berbagai tantangan dan kesulitan lainnya. Namun, kenyataannya, justru berbagai proses itulah yang dapat menjadi perekat kebersamaan kami.
John F Kennedy pernah berkata, “We choose to go to the moon, not because it is easy, but because it is hard.” Pepatah lain mengatakan, “The harder to get it, the harder to lose it.” Semakin mudah sesuatu diperoleh, biasanya semakin mudah pula ia terlepas.
Setelah lebih dari dua dekade tinggal di luar negeri, saya justru menyadari bahwa paspor bukan sekadar dokumen perjalanan. Paspor adalah simbol kewarganegaraan, dan kewarganegaraan adalah jati diri. Itulah sebabnya, mungkin, banyak orang mengupayakan agar Republik Indonesia mengakui kewarganegaraan ganda, karena jauh di lubuk hati—disadari atau tidak—mereka tidak rela jati diri asalnya digugurkan.
Ada pula sebagian orang yang bersikap pragmatis atau transaksional, memilih paspor dari negara yang paling menguntungkan bagi dirinya, atau mengambil kewarganegaraan ganda. Katanya, masa depan dunia digital akan mengarah pada dunia tanpa batas. Namun, ada juga pandangan sebaliknya: semakin global dan tanpa batas dunia ini, semakin penting pula eksistensi identitas nasional (Fukuyama, 2018). Entahlah. Silakan, itu hak masing-masing, selama keputusan tersebut diambil dengan pertimbangan matang, sebab setiap keputusan memiliki konsekuensi. Setiap hak juga disertai kewajiban.
Di Norwegia dan negara-negara Eropa lainnya, kami juga mengamati generasi imigran seperti kami, atau anak-anak hasil adopsi dari luar Eropa, yang kurang dikenalkan pada asal-usulnya. Pada satu titik dalam kehidupan dewasa mereka, sebagian mengalami krisis identitas, meskipun kehidupannya relatif sejahtera. Ada yang perlahan mampu berdamai dan mengatasinya, tetapi tidak sedikit pula yang terus merasa gamang.
Lalu, untuk apa bersusah payah membela Indonesia, sementara pemerintahnya dianggap korup, tidak amanah, penuh persoalan, dan bahkan disebut-sebut terancam bubar? Bagi saya, membela ke-Indonesiaan kami sebagai bangsa yang merdeka tidak ada hubungannya dengan berbagai persoalan yang melanda negara. Semua negara memiliki permasalahannya masing-masing. Setelah mengamati dunia luar, saya melihat bahwa negara, pemerintah, dan rakyatnya merupakan satu kesatuan. Baik buruknya suatu negara atau pemerintah, menurut saya, juga mencerminkan perilaku rakyatnya. Jangan gusar dahulu; mari kita lihat sekitar dan renungkan bersama. Bagaimanapun, saya bersyukur Indonesia telah memberikan banyak hal. Kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang baik adalah salah satu contoh yang paling menonjol. Dari waktu ke waktu, sebagai pengamat dari luar, saya pun melihat adanya perbaikan di berbagai sektor di Indonesia.
Namun, sejujurnya, saya juga tidak bisa sepenuhnya objektif. Ada "sentimental value" di dalamnya. Kedua orang tua saya, sebagai pegawai negeri sipil, memulai kehidupan mereka dari desa terpencil. Kami pernah menempati ‘rumah dinas’ sementara yang sesungguhnya adalah bekas kandang kerbau. Saya ingat betul, ibu saya, sebagai guru SD Inpres, setiap minggu mengajak saya dan ayah saya berkeliling dari kampung ke kampung untuk mencari anak-anak usia sekolah agar mau menjadi murid di kelasnya. Kakek saya adalah seorang tentara pejuang kemerdekaan. Dari pihak istri saya, orang tuanya adalah salah satu dokter perintis, juga di daerah terpencil, dan terus mengabdi di sana hingga masa pensiun. Jadi, ya, "there is sentimental value in it".
Tentu, kami tetap menghormati bahwa masa depan mereka adalah keputusan mereka sendiri. Kami hanya ingin memberikan perspektif sebagai bahan pertimbangan.
Anak-anak kami adalah generasi yang berbeda dari kami.
Mereka bertutur dalam berbagai bahasa.
Mereka bergaul dalam berbagai budaya.
Mereka menyerap informasi yang nyaris tak terbatas.
Yang dapat kami lakukan adalah memupuk kecintaan mereka pada tanah air, bahasa, dan budaya orang tua mereka.
Untuk menguatkan akar mereka.
Mengokohkan jati diri mereka.
Agar tidak terkoyak oleh badai zaman.
Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia!

