Bisakah Pesawat Terbang Hanya dengan Satu Mesin? Ini Penjelasannya
·waktu baca 3 menit

Insiden pesawat yang mengalami kegagalan mesin seringkali terdengar menakutkan. Kamu mungkin beranggapan bahwa pesawat akan jatuh ketika salah satu mesinnya mati.
Tapi, anggapanmu tersebut ternyata salah karena di dunia penerbangan modern, kondisi ini sudah diantisipasi dengan sistem keselamatan yang sangat ketat, bahkan pesawat tetap bisa terbang dan mendarat dengan aman hanya dengan satu mesin.
Pada 2003, sebuah pesawat Boeing 777 milik United Airlines yang terbang dari Auckland menuju Los Angeles terpaksa mematikan satu mesin akibat masalah oli dan suhu.
Karena sudah melewati titik tengah menuju Hawaii, pilot memutuskan mendarat darurat di sana. Namun, angin kencang membuat pesawat harus terbang lebih lama dari batas standar ETOPS (180 menit), yakni hingga 192 menit dengan satu mesin.
Meski begitu, pesawat berhasil mendarat selamat di Kona, Hawaii, sekaligus mencetak rekor waktu terbang satu mesin dalam kondisi darurat. Pertanyaanya bisakah pesawat terbang dengan satu mesin? Lalu, apa yang terjadi jika kedua mesin pesawat mati saat penerbangan? Ini penjelasannya.
Apa Itu ETOPS?
Dilansir Sydney Morning Herald, ETOPS (Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards) adalah sertifikasi yang menentukan seberapa lama pesawat bermesin ganda bisa terbang hanya dengan satu mesin.
Seiring waktu, batas ini terus ditingkatkan. Bahkan, Airbus A350-900 kini memegang rekor dengan sertifikasi hingga 370 menit atau lebih dari 6 jam terbang dengan satu mesin.
Artinya, pesawat modern dapat menjangkau hampir semua rute dunia dengan aman, bahkan di atas lautan luas sekalipun.
Saat Dua Mesin Mati Sekaligus
Kasus yang lebih ekstrem terjadi pada 2001, ketika Airbus A330 milik Air Transat kehilangan kedua mesin akibat kebocoran bahan bakar saat terbang dari Toronto ke Lisbon.
Tanpa tenaga mesin, pesawat tersebut meluncur sejauh 121 kilometer sebelum akhirnya mendarat darurat di Azores.
Pilot mengandalkan ram air turbine turbin kecil yang digerakkan angin—untuk menjaga sistem penting tetap berfungsi. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu pendaratan tanpa mesin paling luar biasa dalam sejarah penerbangan.
Apa yang Terjadi Saat Mesin Mati?
Ketika satu mesin mati, pesawat tidak langsung jatuh. Namun, keseimbangan berubah karena dorongan hanya berasal dari satu sisi.
Pilot akan mengoreksi arah dengan kemudi (rudder), menurunkan ketinggian ke level aman (sekitar 20.000–25.000 kaki), dan menyesuaikan konfigurasi sayap untuk pendaratan.
Hal ini pernah terjadi pada penerbangan Qantas QF144 pada 2023, yang mengalami kegagalan mesin dan harus turun dari 36.000 kaki ke 20.000 kaki sebelum mendarat dengan selamat.
Kegagalan mesin pada pesawat komersial tergolong sangat jarang sekitar satu dari sejuta penerbangan. Secara global, hanya ada sekitar 20-30 kasus per tahun.
Bahkan, bagi pilot, kemungkinan menghadapi situasi ini justru lebih sering terjadi di simulator dibandingkan di dunia nyata.
Meski terdengar mengkhawatirkan, teknologi dan standar keselamatan penerbangan saat ini memastikan pesawat tetap bisa beroperasi dengan aman meski kehilangan satu mesin, bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun.
Dengan sistem seperti ETOPS dan pelatihan pilot yang intensif, penerbangan tetap menjadi salah satu moda transportasi paling aman di dunia.
