Konten dari Pengguna

Eksistensi Wayang Timplong Sebagai Kesenian Kabupaten Nganjuk di Era Gen Z

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nia Putri Permatasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Wayang Timplong" mungkin asing di telinga gen z?

Foto koleksi wayang timplong : Bapak Suyadi, Pace Nganjuk
zoom-in-whitePerbesar
Foto koleksi wayang timplong : Bapak Suyadi, Pace Nganjuk

Kesenian yang diperkirakan telah lahir sejak tahun 1910 ini hampir terancam punah, karena tersingkir dengan kebudayaan baru? atau... karena generasi sekarang yang enggan melestarikan?

Mari kita membedah sejarah wayang timplong bersumber dari bapak suyadi yang merupakan generasi keenam dari mbah Bancol.

Foto Bapak Suyadi : generasi keenam penerus wayang timplong

Wayang timplong diperkirakan telah lahir sejak tahun 1910 di Desa Jetis, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Kesenian ini diciptakan oleh seorang seniman bernama Mbah Bancol.

Sebutan "timplong" ternyata berasal dari alat musik kenong yang mengiringi pagelaran. Apabila kenong dimainkan akan menghasilkan bunyi "plong-plong" dari bunyi sederhana ini kemudian diadaptasi menjadi penamaan wayang timplong.

Perkembangan dan eksistensi wayang timplong

Wayang timplong pernah mengalami masa kejayaan pada era Mbah Tawar, karena pada masa ini wayang timplong memiliki penerus terbanyak sepanjang peradaban wayang timplong. Pada masa ini fungsional wayang timplong sangat erat dengan masyarakat, hampir setiap desa di Kabupaten Nganjuk selalu mementaskan wayang timplong untuk acara bersih desa, hajatan, dan bahkan pada era penjajahan wayang timplong menjadi salah satu media masyarakat untuk menyampaikan kritik sosial.

Sangat disayangkan, wayang timplong kini berada pada era kemunduran. Kondisi yang terancam punah karena tergerus oleh perkembangan zaman, dan bahkan di Kabupaten Nganjuk sendiri sekarang jarang dijumpai pementasan wayang timplong, tetapi bukan berarti wayang timplong telah musnah begitu saja. Di beberapa desa di Kabupaten Nganjuk hingga kini masih ada yang melestarikan pertunjukkan wayang timplong untuk tradisi tahunan seperti nyadran.

Kini gen z perlu dipertanyakan, mau melestarikan atau mengabaikan?