Konten dari Pengguna

Festival, Bekakak, dan Ketakutan kepada Simbol

Riswan Hidayat

Riswan Hidayat

Tendik di Prodi Keperawatan FKIK UMY

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Riswan Hidayat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

foto hasil dari gemini ai
zoom-in-whitePerbesar
foto hasil dari gemini ai

Ada sesuatu yang menarik dari kontroversi festival di Pekalongan. Bukan semata-mata soal kostum bertanduk, peti mati, warna gelap, atau properti yang dianggap menyerupai simbol satanik. Yang jauh lebih menarik adalah cara kita bereaksi terhadapnya.

Mengapa sebuah kostum dapat membuat kita panik?

Mengapa sebuah properti panggung dapat segera berubah menjadi persoalan iman?

Dan mengapa kita begitu mudah menyimpulkan bahwa sesuatu yang menyerupai simbol tertentu pasti merupakan keyakinan yang diwakilinya?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kita sedang berhadapan dengan persoalan yang lebih besar daripada sebuah karnaval: cara kita membaca simbol.

Saya tidak melihat pemilihan kostum dan properti dalam sebuah festival sebagai bukti kemiskinan literasi. Sebaliknya, memilih sesuatu yang ganjil, gelap, menyeramkan, bahkan kontroversial justru dapat merupakan bentuk kreativitas. Seni pertunjukan memang sering bekerja dengan cara memperbesar sesuatu yang sehari-hari kita hindari: kematian, ketakutan, tubuh, darah, monster, kegilaan, dan kegelapan.

Persoalannya bukan apakah seniman atau peserta festival boleh menggunakan simbol tersebut.

Persoalannya adalah: apakah kita mampu membedakan simbol dengan kepercayaan?

Seekor naga di atas panggung bukan berarti pemainnya percaya dirinya sedang berhadapan dengan naga. Tengkorak tidak otomatis berarti pemakainya memuja kematian. Tokoh setan dalam film horor tidak otomatis menjadikan pembuat filmnya penyembah setan.

Begitu pula simbol yang secara visual menyerupai ritual tertentu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pertunjukan tersebut adalah ritual keagamaan.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Kritik terhadap sebuah karya tentu sah. Bahkan penting. Jika penggunaan simbol tertentu dianggap tidak sensitif, tidak sesuai dengan nilai masyarakat, atau tidak tepat untuk ruang publik, hal itu dapat diperdebatkan. Tetapi kritik estetis dan kultural berbeda dengan tuduhan teologis.

Yang satu bertanya, “Mengapa simbol itu digunakan?”

Yang lain buru-buru menyimpulkan, “Mereka menyembah apa yang dilambangkan simbol itu.”

Lompatan kedua inilah yang bermasalah.

Ironisnya, masyarakat Jawa sebenarnya memiliki sejarah panjang menggunakan simbol-simbol yang jika dilepaskan dari konteksnya dapat tampak jauh lebih mengerikan.

Lihatlah tradisi Bekakak di Gamping, Sleman. Dalam arak-arakan tradisi tersebut, sepasang pengantin Bekakak dihadirkan dalam prosesi budaya. Pada bagian tertentu, boneka pengantin tersebut kemudian disembelih secara simbolik. Bagi masyarakat yang memahami tradisinya, semua itu mempunyai konteks sejarah, mitologi, ritual, dan kebudayaan sendiri.

Tetapi bayangkan tradisi itu dipotong dari konteksnya.

Ada sepasang manusia dalam pakaian pengantin. Ada arak-arakan. Ada sesaji. Ada prosesi. Ada penyembelihan. Ada darah dalam representasi visualnya.

Apakah orang yang hanya melihat potongan videonya dari media sosial boleh kemudian mengatakan, “Ini pemujaan setan”?

Tentu tidak.

Sebab kita tahu konteksnya.

Kita tahu bahwa simbol tidak berdiri sendirian. Kita membaca keseluruhan sistem kebudayaan yang mengitarinya.

Persoalannya menjadi menarik ketika kita berhadapan dengan simbol yang datang dari luar tradisi kita.

Begitu melihat tanduk, pentagram, peti mati, atau tubuh yang didandani menyerupai makhluk menyeramkan, sebagian orang segera kehilangan kemampuan membedakan antara ikonografi, dramaturgi, fantasi, dan keyakinan.

Padahal kebudayaan kita sendiri penuh dengan praktik semacam itu.

Jathilan memiliki trance. Sintren memiliki dunia simbolik yang berkaitan dengan yang gaib. Wayang menghadirkan raksasa, dewa, roh, perang kosmis, dan dunia makhluk adikodrati. Reog bahkan memiliki kepala singa raksasa yang secara visual tidak masuk akal jika diukur dengan realitas sehari-hari.

Kita tidak serta-merta menyebut semuanya sebagai penyembahan makhluk yang direpresentasikan.

Mengapa?

Karena kita memahami konteks.

Maka persoalan sesungguhnya bukan simbol asing versus simbol lokal. Persoalannya adalah standar ganda dalam membaca simbol.

Simbol yang kita kenal memperoleh hak untuk dijelaskan.

Simbol yang tidak kita kenal segera memperoleh vonis.

Di sinilah internet memperumit keadaan. Kita hidup dalam zaman ketika manusia dapat menemukan ribuan gambar dalam beberapa detik, tetapi sering kali tidak memiliki waktu untuk mengetahui dari mana gambar itu berasal. Bentuk beredar lebih cepat daripada makna. Kostum dapat ditiru sebelum sejarahnya dipelajari. Gerakan dapat disalin sebelum konteksnya dipahami.

Namun kesalahan itu tidak boleh dibalas dengan kesalahan yang sama: mengambil sebuah representasi visual lalu menganggapnya sebagai bukti keyakinan.

Kalau demikian, kita sebenarnya sedang melakukan hal yang sama dengan pembuat kostum: membaca gambar tanpa memahami konteksnya.

Karena itu, kasus Pekalongan seharusnya menjadi pelajaran tentang kedewasaan budaya.

Kepada pembuat pertunjukan, kita dapat mengatakan: kreativitas tidak cukup hanya dengan keberanian mengambil bentuk. Kreativitas juga membutuhkan kesadaran terhadap sejarah dan makna simbol yang digunakan.

Tetapi kepada penonton, kita juga harus mengatakan: jangan mengubah setiap simbol yang mengganggu mata menjadi ancaman terhadap iman.

Sebab kalau ukuran kita hanya kostum, properti, dan bentuk visual, pertanyaan yang lebih menggelikan akan segera muncul:

Kalau kostum bertanduk dianggap satanik, bagaimana kita membaca arak-arakan Bekakak yang menghadirkan penyembelihan simbolik?

Apakah yang satu lebih “setan” daripada yang lain?

Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu dijawab.

Justru pertanyaan itu menunjukkan kelemahan cara berpikir kita.

Sebab kebudayaan tidak pernah dapat dibaca hanya dari satu gambar. Ia harus dibaca melalui sejarah, konteks, niat, fungsi, dan cara masyarakat yang memilikinya memberi makna.

Kita membutuhkan keberanian untuk mengkritik seni tanpa menjadi paranoid terhadap seni. Kita membutuhkan kebebasan berkreasi sekaligus tanggung jawab memahami simbol. Dan yang paling penting, kita membutuhkan kemampuan untuk mengatakan:

tidak semua yang tampak seperti sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.

Barangkali yang perlu kita takuti bukanlah kostum setan di atas panggung.

Yang perlu kita khawatirkan adalah masyarakat yang kehilangan kemampuan membedakan antara gambar, simbol, pertunjukan, kepercayaan, dan kenyataan.

Karena ketika semua itu dicampuradukkan, sebuah kostum tidak lagi sekadar kostum.

Ia bisa berubah menjadi tuduhan.

Dan sebuah festival bisa berubah menjadi pengadilan.