Kumparan Logo

Jakarta Dessert Week 2026 Angkat Meriahnya Kolaborasi Kuliner dan Dangdut

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Event peluncuran Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 bertema kuliner dan dangdut. Foto: JDW 2026
zoom-in-whitePerbesar
Event peluncuran Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 bertema kuliner dan dangdut. Foto: JDW 2026

Event untuk para pencinta kuliner pencuci mulut, Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 resmi dibuka mulai Selasa (1/9). Menjadi menarik karena tahun ini mengangkat tema paduan dessert dan musik dangdut.

Dangdut dipilih karena memiliki karakter yang sangat Indonesia, dekat dengan masyarakat, kuat secara budaya, dan terus berkembang mengikuti zaman. Tema ini sekaligus menunjukkan bahwa suatu budaya dapat diterjemahkan dalam pengalaman yang baru. Kolaborasi ini juga menjadi bagian dari upaya JDW memperkuat narasi soft power Indonesia.

“Soft power tidak akan tumbuh jika setiap subsektor bergerak sendiri-sendiri. Musik, kuliner, fesyen, film, desain, dan berbagai ekspresi budaya lainnya harus bisa saling terhubung dan memperkuat. Tahun ini kami mencoba menerjemahkan semangat itu secara sederhana melalui pertemuan antara dangdut dan dessert,” ujar Gupta Sitorus, Co-Founder Jakarta Dessert Week, seperti dikutip dari siaran resminya yang kumparan terima, Kamis (3/9).

Melalui tema tersebut, para peserta JDW akan menghadirkan menu edisi terbatas yang menerjemahkan dangdut ke dalam rasa, tekstur, visual, hingga pengalaman dessert.

Pada tahun ini beberapa program menarik turut memeriahkan JDW 2026. Misalnya program City Takeover yang  berlangsung sepanjang 1–20 September 2026 dan melibatkan 42 brand dengan puluhan outlet yang tersebar di Jakarta. Pastry shop, bakery, restoran, hingga berbagai F&B brand akan menghadirkan menu spesial.

Melalui format ini, maka JDW tidak hanya akan berlangsung di satu tempat melainkan beberapa titik lokasi. Konsep ini memungkinkan pengunjung bisa melakukan dessert-hopping dan menemukan hidangan-hidangan dessert berbeda dari tema dangdut.

Apresiasi Talenta dan Industri Dessert Jakarta Melalui Gelaran Golden Swirl Awards 2026

Event peluncuran Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 bertema kuliner dan dangdut. Foto: JDW 2026

Beberapa tahun terakhir JDW juga memberikan apreasiasi kepada para talenta di industri dessert khususnya Jakarta. Begitu juga tahun ini, Golden Swirl Awards kembali diselenggarakan. Para juri yang akan terlibat berasal dari lintas industri, hal ini sekaligus menggambarkan bahwa perkembangan industri dessert tidak hanya ditentukan oleh rasa dan teknik, tetapi juga oleh bisnis, kreativitas, desain, pengalaman konsumen, dan relevansi budaya.

Tahun ini Golden Swirl Awards juga menghadirkan kategori baru. Salah satunya adalah Branding of The Year, dengan proses penilaian yang dilakukan bekerja sama dengan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Kategori ini melihat bagaimana sebuah dessert brand membangun identitas, komunikasi visual, dan pengalaman merek secara keseluruhan. Kategori baru lainnya adalah Tiramisu of The Year, dengan proses penjurian yang dilakukan bekerja sama dengan Istituto Italiano di Cultura Jakarta.

Dessert sebagai Bagian dari Ekosistem Kreatif

Event peluncuran Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 bertema kuliner dan dangdut. Foto: JDW 2026

Sejak awal, Jakarta Dessert Week tidak hanya dibangun sebagai festival makanan. JDW berkembang sebagai platform yang mempertemukan kuliner, kreativitas, desain, komunitas, bisnis, dan budaya. Tahun ini, melalui Dangdut, JDW ingin melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bagaimana kolaborasi antar-subsektor dapat menciptakan pengalaman budaya yang lebih relevan dan kontemporer.

“Kalau kita ingin bicara mengenai soft power Indonesia, yang kita perlukan bukan hanya lebih banyak promosi budaya. Yang kita perlukan adalah lebih banyak koneksi antarbudaya dan antarindustri. Dangdut bertemu dessert mungkin terdengar sederhana, tetapi prinsip di belakangnya besar: bagaimana satu kekuatan budaya bisa membantu kekuatan budaya lainnya menjadi lebih hidup, lebih relevan, dan akhirnya lebih dikenal,” tutup Gupta.