Kembali ke Masa Lalu Menyusuri Kawasan Pecinan Terbesar dan Tertua di Indonesia

Keberadaan Glodok tidak terlepas dari sejarah panjang etnis Tionghoa di Jakarta. Perkembangannya berakar dari kebijakan kolonial Belanda (wijkenstelsel) pasca-tragedi 1740 yang mengisolasi komunitas ini, yang kemudian tumbuh menjadi pusat budaya dan perdagangan Pecinan terbesar di Indonesia.
Pasca-peristiwa pembantaian 1740, pemerintah Hindia Belanda memaksa warga Tionghoa bermukim di luar tembok kota Batavia untuk memudahkan pengawasan. Kebijakan pemisahan inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya kawasan pecinan tersebut.
Menurut Founder Sana Kenal Kota, Abimantra Pradhana, peristiwa itu dikenal sebagai 'Geger Pecinan'. Dan tempat bermukim orang Tionghoa itulah yang kini disebut Glodok.
"Kota tua ini, Batavia selama 200 tahun bentuknya adalah Kota Benteng yang boleh tinggal di dalam sini hanyalah orang Belanda dan Tionghoa. Orang Pribumi tidak boleh tinggal di dalam karena dikhawatirkan ada pemberontakan. Nah, di bagian bawah Batavia ini dikenal sebagai Chinese Camp atau yang dikenal sebagai Glodok," ujar Abimantra dalam acara konferensi pers Jalan Jajan yang digelar pada Kamis (25/6).
Menurut dia, Kawasan Glodok juga memiliki peran penting dalam proses berdirinya kota Batavia hingga berkembang menjadi Kota Jakarta.
"Keberadaan komunitas Tionghoa ini tidak dapat dipisahkan dan bagaimana Jakarta berkembang menjadi kota yang beragam dan dijaga keberagamannya itu bukan lain karena keberadaan Glodok. Kalau Glodok engga ada enggak mungkin keberagaman ini ada di Jakarta. Jadi ini harus kita rayakan dan lestarikan," lanjutnya.
Dalam acara Jalan Jajan "Petak ke Petak, Nyok!" yang digelar Gojek, kumparan berkesempatan untuk menyusuri Glodok yang jadi salah satu kawasan bersejarah di Jakarta.
Menurut Head of Marketing Gojek, Marsela Renata, lewat program Jalan Jajan, Gojek ingin mengajak traveler untuk enggak hanya mengunjungi tempat-tempat wisata tapi juga menemukan hidden gem menarik lain seperti kuliner dan lain sebagainya dari tempat tersebut, yang bisa ditemukan di dalam aplikasi Gojek.
"Jalan Jajan ini merupakan rekomendasi jalan-jalan, rekomendasi wisata, rekomendasi jajan atau rekomendasi kuliner-kuliner yang ada di dalam aplikasi Gojek dan terintegrasi dengan layanan seperti Go-Ride, Go-Car, dan juga Go-Food. Jadi, ada berbagai macam rekomendasi di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali, dan Jogja. Di mana di dalam lima kota itu ada berbagai tempat destinasi wisata yang memang ikonik banget di kota tersebut," ujar Marsela.
Lalu, seperti apa keseruannya? Simak selengkapnya.
Tur Menyusuri Kawasan Bersejarah Glodok
Menurut Abimantra yang juga menjadi pemadu kami, tur ini akan berjalan menyusuri kawasan Glodok sejauh sekitar 2 km. Adapun, tur dimulai dari kawasan Pantjoran Glodok.
"Pusat kehidupan Glodok, Pecinan tuh ada di sini. Nanti kita akan jalan masuk ke pasar dan nemu sesuatu yang enggak nyangka ada di situ dan semua yang kita lihat di sini sudah berevolusi dan fasilitasi warganya kita bisa, jadi udah berbagai generasi," ujar Abimantra.
Di awal tur kami diajak untuk melihat salah satu bangunan bersejarah yang ada di Glodok yaitu gedung Tian Liong.
Bangunan dan Toko Tian Liong di kawasan Glodok, Jakarta, telah menjadi pusat perkakas dapur legendaris sejak tahun 1935 yang dibangun oleh mendiang Tian Woen Liong dan istrinya, Lioe Kang Njong, yang merantau ke Batavia pada era 1920-an. Menariknya bangunan dan toko ini ternyata juga bisa kamu temukan di daerah Blok M tepatnya di kawasan Fatmawati yang juga menjual perkakas dapur.
Dari gedung Tian Liong, kumparan kemudian melanjutkan perjalanan ke Gang Gloria di mana tempat ini jadi salah satu gang yang terkenal akan kuliner legendarisnya.
"Karilam itu kari daging dengan kentang cuma ada di sini, ada juga otak-otak dan ada nasi hainan dan sambil kita jalan ada pangkas rambut yang mungkin sudah ada beberapa generasi di sini. Sambil kita jalan juga di dalam gedung atau ritel ada beragam sekali," ujar Abimantra.
Menariknya, kawasan Glodok juga tidak hanya terkenal sebagai pusat grosir atau barang-barang antiknya, kawasan ini juga memiliki banyak apotek atau tempat yang menjual obat-obatan tradisional China.
"Zaman dulu rumah sakit itu di Kota Benteng (dulu Glodok) hanya untuk orang Belanda. Jadi, warga Tionghoa atau pribumi itu kalau enggak ke tabib ke dukun. Nah orang Tionghoa itu terkenal dengan obat tradisionalnya. Jadi kalau kita ke Petak 9 itu enggak hanya kuliner tapi juga banyak toko obat," lanjutnya.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke salah satu tempat paling ikonik yaitu gerbang atau pintu masuk kawasan Pecinan Glodok. Menurut Abimantra, dari sini masih bisa dilihat sisa-sisa peninggalan di masa lampau. Gloria di kawasan Glodok Jakarta awalnya merupakan gedung bioskop bernama Cung Hua yang berdiri sekitar tahun 1950-an. Tak hanya itu, di sekitar Jalan Gajah Mada juga ditemukan trem lintas Jakarta yang pernah beroperasi sekitar tahun 1920-an.
Menurut Abimantra, jalur-jalur trem tersebut ditemukan setelah Proyek MRT Fase-2 dikerjakan.
Toko Roti Tersembunyi
Tidak hanya itu, kami juga diajak menyambangi salah satu destinasi kuliner tersembunyi yang ada di kawasan ini. Yang lokasinya berada di area dalam pasar Glodok. Ialah LIT Bakehouse toko roti ini didirikan pada Maret 2020 oleh Lalita Setiandi, warga lokal Glodok sekaligus lulusan Le Cordon Bleu Sydney.
Bermula dari dapur rumahan dan toko daring saat pandemi, kedai ini berkembang menjadi artisan bakery di dalam gang Glodok, memadukan teknik pastry Prancis dengan sentuhan rasa lokal. Ada beberapa menu di sini yang terdiri dari pastry savory hingga manis.
Fokus utama sajian Lit Bakehouse adalah pastry, khususnya croissant. Saat ini, Lit Bakehouse menawarkan 20 varian croissant dengan harga bervariasi.
Klenteng Tertua hingga Gereja Katolik
Perjalanan kami dilanjutkan dengan mengunjungi salah satu klenteng tertua di Jakarta yaitu Klenteng Dharma Bakti. Vihara Dharma Bhakti, yang juga dikenal dengan nama Kim Tek Ie atau Klenteng Petak Sembilan adalah klenteng tertua di Jakarta.
Didirikan pada tahun 1650, tempat ibadah bersejarah ini telah melewati berbagai peristiwa besar, termasuk rekonstruksi besar pasca-kebakaran.
"Biasanya di setiap area di Jakarta itu kalau kita mengenali area tertua itu ada viharanya, kenapa? Karena biasanya itu di dekat stasiun atau di area melting pot. Nah, aktivitas perdagangan itu biasanya dilakukan oleh komunitas Tionghoa dan komunitas Tionghoa butuh beribadah. Oleh karena itu, misal di Glodok sudah pasti ada vihara, di Palmerah ada, di Tanah Abang ada, di area Senen, Jatinegara ada, jadi di situ lah kita bisa mengenali area-area itu dibangun dan vihara ini sudah ratusan tahun," ungkap Abimantara.
Yang enggak kalah menariknya lagi adalah adanya bangunan Gereja Katolik St. Maria De Fatima yang dulunya pernah menjadi tempat tinggal dari Kapitan China di Batavia yang bermarga Tjioe. Keunikan dari gereja ini adalah bangunannya yang memiliki sayap atau wing yang ada di sisi timur dan barat.
"Kedua wing ini dulunya menjadi tempat tinggal yang di sisi barat adalah tempat tinggal para asisten rumah tangga dan di sisi timur menjadi tempat tinggal para selir. Karena dulu Kapitan China memiliki istri lebih dari satu," ujarnya.
Kami juga diajak menyusuri kawasan Glodok yang punya ciri khas nama jalannya yang terdiri dari nama-nama kebaikan seperti Kemenangan, Kesehatan, Kebahagiaan. Orang Tionghoa percaya, pemberian nama yang bagus akan mengantarkan mereka ke kehidupan yang lebih bagus.
Tur ditutup dengan mengunjungi salah satu bangunan atau area pemukiman di Glodok yang teretak di Jalan Toko Tiga. Abimantra menjelaskan bahwa di sini masih ada rumah masyarakat yang masih mempertahankan arsitektur Tionghoa.
"Jadi bisa dikenali dari pertemuan atap. Atapnya itu namanya pelana tapal kuda. Kenapa tapal kuda karena yang membawa kita pergi jauh adalah kuda. Dengan adanya rumah yang dinaungi tapal kuda, diharapkan rezeki kita, perjalanan kita, perjalanan manusia bisa sejauh kuda membawa kita. Jadi, itu filosofinya," tutup Abimantra.
Bagi kamu yang tertarik ikut tur ini, kamu bisa mengikutinya bersama komunitas SANA Kenal Kota yang biasanya menghadirkan beberapa rute walking tur di Jakarta.
