Kemenpar Dorong Sinergi Nasional demi Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan 2026
ยทwaktu baca 3 menit

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kembali menegaskan komitmennya dalam mempercepat transformasi sektor pariwisata nasional melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pariwisata 2026 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (20/5). Forum ini menjadi ajang konsolidasi strategi antarunit kerja Kemenpar bersama para pemangku kepentingan, untuk mencapai target pembangunan pariwisata nasional dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai arah kebijakan dipaparkan, guna memperkuat ekosistem pariwisata Indonesia agar lebih adaptif terhadap perubahan global, sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi yang merata bagi daerah.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar, Rizki Handayani, menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan investasi pariwisata nasional mencapai Rp 63,5 triliun pada 2026. Fokus investasi diarahkan pada destinasi prioritas dan kawasan regeneratif, yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang.
Menurut Rizki, saat ini distribusi investasi masih terpusat di sejumlah wilayah utama, seperti Bali dan Jakarta. Karena itu, pemerintah mendorong daerah lain untuk meningkatkan kesiapan proyek wisata, agar lebih menarik di mata investor.
"Kesiapan infrastruktur, konektivitas, serta kualitas layanan wisata menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang sehat dan kompetitif. Pemerintah juga tengah menyiapkan forum khusus yang mempertemukan pemerintah daerah dengan calon investor, guna mempercepat realisasi proyek pariwisata," kata Rizki.
Selain investasi, Kemenpar juga menyoroti perubahan tren wisata global yang kini lebih mengarah pada wisata alam, petualangan, kesehatan, kuliner, hingga pengalaman budaya yang autentik. Tren tersebut dinilai dapat menjadi peluang besar bagi daerah untuk mengembangkan produk wisata berbasis potensi lokal.
Di sisi pemasaran, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengungkapkan bahwa dinamika geopolitik dunia memang memengaruhi mobilitas wisatawan internasional. Meski begitu, Indonesia tetap optimistis terhadap pertumbuhan sektor pariwisata.
"Kemenpar kini memperkuat strategi promosi dengan fokus pada pasar regional Asia dan negara-negara tetangga yang dinilai lebih stabil. Wisata jarak dekat atau short-haul tourism menjadi tren yang terus berkembang di kawasan Asia," ujar Made Ayu.
Untuk mendukung promosi digital, pemerintah juga memperbarui platform promosi wisata nasional dengan menghadirkan teknologi berbasis kecerdasan buatan, yang dapat membantu wisatawan mencari inspirasi perjalanan hingga menyusun rencana wisata secara lebih praktis.
Sementara itu, aspek keamanan dan kualitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian utama. Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar, Martini Mohamad Paham, menekankan pentingnya peningkatan standar keselamatan wisata, terutama untuk aktivitas berisiko tinggi, seperti wisata gunung dan wisata air.
"Kemenpar telah menjalankan berbagai pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi profesi bagi pelaku wisata di berbagai daerah. Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan," katanya.
Di bidang pengembangan destinasi, pemerintah tengah menyusun Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS) hingga tahun 2045. Dokumen tersebut akan menjadi panduan utama dalam menentukan arah pembangunan pariwisata Indonesia secara jangka panjang.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenpar, Reza Fahlevi, menjelaskan bahwa pengelolaan destinasi harus dilakukan secara terintegrasi dengan mengutamakan keberlanjutan, pengalaman wisatawan, serta mitigasi risiko.
"Kolaborasi antarlembaga dan penguatan manajemen destinasi menjadi faktor penting dalam menciptakan kawasan wisata yang mampu bersaing di tingkat global," ungkap Reza.
Selain pengembangan destinasi, sektor event juga disebut memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi pariwisata nasional. Sepanjang 2025, berbagai event pariwisata berhasil menciptakan dampak ekonomi puluhan triliun rupiah dan menyerap ribuan tenaga kerja kreatif.
Kemenpar menilai tren event berkelanjutan kini menjadi tuntutan pasar global. Oleh sebab itu, penyelenggaraan event di Indonesia didorong untuk lebih ramah lingkungan dan memiliki dampak sosial yang positif.
"Melalui Rakornas Pariwisata 2026 ini, Kemenpar berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bergerak bersama dalam membangun pariwisata Indonesia yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan mampu menjadi penggerak ekonomi nasional di masa depan," pungkas Rizki.
