Konten dari Pengguna

Kesadaran Masyarakat: Kunci Meningkatkan Kunjungan Wisatawan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ubaidillah Amin Moch tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi desa wisata di Lombok. Foto: Said Safri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi desa wisata di Lombok. Foto: Said Safri/Shutterstock

Perkembangan pariwisata Indonesia sepanjang 2026 menunjukkan arah yang positif. Namun, peningkatan jumlah wisatawan tidak semata-mata ditentukan oleh promosi, keindahan alam, maupun pembangunan infrastruktur. Ada faktor yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari di destinasi wisata, yakni kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan, keamanan, dan kenyamanan.

Ketiga aspek tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun pengalaman wisata. Destinasi yang memiliki pemandangan indah belum tentu mampu menarik wisatawan secara berkelanjutan apabila lingkungan tidak terjaga, wisatawan merasa tidak aman, atau pelayanan masyarakat di sekitarnya belum memberikan rasa nyaman.

Karena itu, upaya meningkatkan kunjungan wisatawan perlu dimulai dari kesadaran masyarakat setempat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa aktivitas pariwisata Indonesia sepanjang 2026 terus bergerak. Hingga Juli 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) mencapai 8.978.626 kunjungan, meningkat 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2020.

Pada Juli 2026 saja, jumlah kunjungan wisman mencapai 1.525.037 kunjungan. Angka tersebut meningkat 9,99 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 2,95 persen dibandingkan Juli 2025. Capaian itu juga menjadi jumlah kunjungan wisman bulanan tertinggi sejak 2021.

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa Indonesia memiliki daya tarik yang terus berkembang di mata wisatawan internasional. Malaysia, Australia, Tiongkok, India, dan Singapura menjadi sejumlah negara sumber utama kunjungan wisatawan ke Indonesia.

Namun, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mempertahankan bahkan meningkatkan tren tersebut?

Jawabannya tidak cukup hanya dengan memperbanyak promosi. Wisatawan yang datang untuk pertama kali harus memperoleh pengalaman yang baik agar memiliki alasan untuk kembali dan merekomendasikan destinasi tersebut kepada orang lain.

Di sinilah kebersihan, keamanan, dan kenyamanan menjadi faktor yang sangat penting.

Keindahan Alam Harus Diikuti Lingkungan yang Terjaga

Indonesia memiliki keunggulan berupa keragaman destinasi yang sangat luas. Dari kawasan pesisir, kepulauan, hutan tropis, danau, air terjun, hingga kawasan pegunungan dan dataran tinggi, hampir setiap daerah memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan.

Keindahan sejumlah destinasi Indonesia bahkan memiliki karakter yang dapat disandingkan dengan destinasi wisata di berbagai negara.

Desa Wisata Dieng Kulon, misalnya, memiliki lanskap dataran tinggi dengan hamparan perbukitan dan panorama alam yang memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Konsep "Negeri di Atas Awan" atau "Negeri Nirwana" yang melekat pada kawasan dataran tinggi tersebut menunjukkan bahwa wisatawan tidak selalu harus pergi ke Swiss atau Kanada untuk mendapatkan pengalaman menikmati panorama pegunungan.

Akan tetapi, keindahan alam hanyalah modal awal. Pemandangan seindah apa pun akan kehilangan daya tarik jika kawasan wisata dipenuhi sampah. Begitu pula destinasi yang memiliki panorama luar biasa akan sulit berkembang apabila wisatawan merasa tidak aman atau tidak mendapatkan kenyamanan selama berada di lokasi.

Karena itu, menjaga destinasi bukan hanya menjadi tugas pemerintah atau pengelola wisata. Masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi merupakan garda terdepan dalam menjaga kualitas pariwisata.

Kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan, menjaga fasilitas umum, merawat lingkungan, menghormati wisatawan, serta menciptakan suasana yang aman dan ramah merupakan bagian dari investasi jangka panjang bagi destinasi tersebut.

Kebersihan sering kali dipandang sebagai persoalan sederhana. Padahal, dalam industri pariwisata, kebersihan berkaitan langsung dengan kualitas pengalaman wisatawan. Wisatawan akan menilai sebuah destinasi sejak pertama kali tiba. Kondisi jalan, tempat parkir, toilet, tempat makan, kawasan pedagang, hingga lingkungan sekitar objek wisata ikut membentuk persepsi mereka. Karena itu, kebersihan harus ditempatkan sebagai kebutuhan dasar dalam pengembangan destinasi.

Kesadaran tersebut harus dimulai dari masyarakat. Pengelola destinasi dapat menyediakan tempat sampah, pemerintah dapat membangun sistem pengelolaan sampah, tetapi tanpa kesadaran masyarakat untuk menggunakannya dengan benar, persoalan kebersihan akan tetap muncul.

Hal yang sama berlaku bagi pelaku usaha. Pedagang makanan, pengelola penginapan, pelaku UMKM, dan penyedia jasa wisata memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan lingkungan. Ketika kebersihan menjadi budaya bersama, destinasi akan memiliki nilai tambah yang lebih kuat.

Rasa Aman dan Nyaman Menentukan Pengalaman Wisatawan

Selain kebersihan, keamanan dan kenyamanan merupakan dua unsur yang tidak kalah penting.

Wisatawan ingin menikmati perjalanan tanpa merasa khawatir. Mereka membutuhkan lingkungan yang tertib, masyarakat yang ramah, informasi yang jelas, serta pelayanan yang tidak menimbulkan rasa tidak nyaman.

Dalam konteks tersebut, masyarakat setempat memiliki posisi strategis. Interaksi pertama wisatawan dengan masyarakat lokal sering kali menjadi bagian dari pengalaman mereka selama berada di suatu destinasi.

Keramahan, kesediaan membantu, tidak melakukan tindakan yang merugikan wisatawan, serta menghormati ruang pribadi wisatawan merupakan bentuk sederhana yang dapat memberikan kesan positif.

Pengalaman sejumlah destinasi di Bali memperlihatkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan pariwisata memiliki arti penting. Ketika masyarakat ikut menjaga keamanan dan kenyamanan kawasan, wisatawan dapat menikmati destinasi dengan lebih tenang.

Prinsip tersebut sebenarnya dapat diterapkan di seluruh daerah Indonesia. Kebersihan, keamanan, dan kenyamanan tidak seharusnya menunggu datangnya wisatawan. Ketiganya harus menjadi budaya masyarakat sebelum wisatawan datang.

Pentingnya menciptakan destinasi yang bersih, aman, dan nyaman semakin terlihat dari besarnya potensi wisatawan domestik. BPS mencatat perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada Juli 2026 mencapai 107.439.213 perjalanan. Jumlah tersebut meningkat 0,23 persen dibandingkan Juni 2026 dan tumbuh 7,23 persen dibandingkan Juli 2025.

Secara kumulatif, perjalanan wisnus pada Januari-Juli 2026 mencapai 737.853.599 perjalanan, meningkat 3,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Besarnya mobilitas tersebut menunjukkan bahwa pasar pariwisata Indonesia tidak hanya berasal dari wisatawan mancanegara. Masyarakat Indonesia sendiri merupakan pasar yang sangat besar bagi destinasi domestik.

Karena itu, menjaga kualitas destinasi bukan semata-mata untuk menarik wisatawan asing. Masyarakat daerah juga perlu menciptakan lingkungan wisata yang membuat wisatawan nusantara merasa nyaman dan ingin kembali berkunjung.

Semakin baik pengalaman wisatawan, semakin besar kemungkinan destinasi memperoleh kunjungan berulang. Pada akhirnya, hal tersebut dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Pariwisata Harus Memberikan Manfaat kepada Masyarakat

Meningkatnya kunjungan wisatawan juga harus diikuti pemberdayaan masyarakat dan UMKM. Jangan sampai wisatawan datang dalam jumlah besar, tetapi manfaat ekonominya hanya dirasakan oleh sebagian kecil pelaku usaha.

Destinasi wisata seharusnya menjadi ruang tumbuh bagi masyarakat lokal.

Wisatawan yang datang membutuhkan makanan, minuman, transportasi, penginapan, oleh-oleh, jasa pemandu, hingga berbagai produk ekonomi kreatif. Seluruh kebutuhan tersebut dapat menjadi peluang bagi masyarakat setempat.

Dengan demikian, peningkatan kunjungan wisatawan dapat mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.

BPS mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel bintang pada Juli 2026 mencapai 54,54 persen, meningkat 0,26 poin dibandingkan Juni 2026 dan naik 1,75 poin dibandingkan Juli 2025.

Bali mencatat TPK hotel bintang tertinggi sebesar 67,29 persen, disusul Banten 58,89 persen dan DI Yogyakarta 58,51 persen.

Data tersebut memperlihatkan adanya aktivitas yang kuat dalam sektor perjalanan dan akomodasi. Namun, manfaat ekonomi pariwisata dapat diperluas apabila masyarakat sekitar destinasi mampu mengambil bagian dalam rantai ekonomi tersebut.

Pemerintah Daerah Perlu Memperkuat Kesadaran Masyarakat

Membangun kesadaran masyarakat tentu tidak dapat dilakukan sendirian. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung. Kebijakan anggaran daerah perlu diarahkan untuk memperkuat potensi pariwisata masing-masing wilayah.

Pemerintah daerah dapat mendukung penyediaan fasilitas kebersihan, pengelolaan sampah, akses transportasi, penerangan, keamanan, sanitasi, serta sarana pendukung lainnya.

Pada saat yang sama, program pemberdayaan masyarakat juga perlu diperkuat. Masyarakat dapat diberikan pelatihan mengenai pelayanan wisatawan, pengelolaan UMKM, kebersihan destinasi, pengelolaan lingkungan, hingga promosi wisata melalui media digital.

Promosi destinasi juga tetap penting. Namun, promosi seharusnya berjalan beriringan dengan kesiapan destinasi.

Jangan sampai promosi berhasil mendatangkan wisatawan dalam jumlah besar, tetapi destinasi belum siap memberikan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman. Dengan kata lain, promosi mendatangkan wisatawan, tetapi kualitas destinasi membuat mereka ingin kembali.

Menjadikan Kesadaran sebagai Modal Pariwisata

Indonesia tidak kekurangan destinasi wisata. Potensi alam dan budaya tersebar dari Sabang hingga Merauke. Persoalannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dikelola sehingga mampu memberikan pengalaman wisata yang berkualitas sekaligus manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Data BPS hingga Juli 2026 menunjukkan bahwa aktivitas pariwisata Indonesia memiliki momentum pertumbuhan. Kunjungan wisman meningkat, perjalanan wisnus bertambah, dan tingkat hunian hotel menguat.

Momentum tersebut perlu dijaga melalui pendekatan yang lebih komprehensif.

Meningkatkan kunjungan wisatawan bukan hanya persoalan membangun objek wisata dan melakukan promosi. Fondasinya adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan, menciptakan keamanan, dan memberikan kenyamanan.

Masyarakat perlu menyadari bahwa menjaga destinasi sama artinya dengan menjaga sumber penghidupan mereka sendiri. Sampah yang dibuang sembarangan, lingkungan yang rusak, pelayanan yang tidak ramah, atau kondisi yang tidak aman pada akhirnya dapat mengurangi daya tarik destinasi.

Sebaliknya, destinasi yang bersih, aman, nyaman, dan dikelola bersama akan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kunjungan berulang.

Karena itu, pengembangan pariwisata Indonesia harus menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dari ekosistem wisata. Pemerintah menyediakan kebijakan dan anggaran, pelaku usaha menciptakan layanan dan produk, sementara masyarakat menjaga lingkungan sekaligus menjadi tuan rumah yang baik bagi wisatawan.

Pada titik inilah pariwisata dapat berkembang secara berkelanjutan.

Kebersihan, keamanan, dan kenyamanan bukan sekadar pelengkap destinasi. Ketiganya adalah modal utama untuk membangun kepercayaan wisatawan. Dan modal tersebut harus dimulai dari kesadaran masyarakat.