Kuliner Viral Gen Z: Sensasi Saja atau Lahan Bisnis Baru?

Amelia tri wahyuni merupakan Mahasiswa aktif Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Amellia tri wahyuni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi Gen Z, makanan viral bukan lagi soal rasa, melainkan panggung gengsi di media sosial yang tanpa disadari menggerakkan roda ekonomi baru.
Di era serba digital hari ini, pergerakan media sosial tak pernah sepi dari unggahan kuliner unik. Bagi kita sebagai mahasiswa yang terbiasa berseluncur di TikTok atau Instagram, istilah makanan viral sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari keju meleleh yang ditarik panjang, kreasi pastry dengan isian butter, hingga minuman milk tea dengan berbagai campuran toping. Namun, jika dicermati lebih dalam, pola konsumsi makanan viral di kalangan Gen Z memiliki dinamika tersendiri yang berbeda dari generasi sebelumnya, serta membawa dampak ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Beda Gen Z dan Milenial dalam Menikmati Tren Kuliner
Meski sama-sama akrab dengan teknologi, terdapat perbedaan mendasar antara Milenial dan Gen Z dalam memandang tren makanan viral.
Bagi generasi Milenial, keviralan kuliner cenderung berpusat pada tempat dan pengalaman sosial. Milenial memelopori budaya cafe hopping dan fotografi makanan untuk membangun citra gaya hidup. Kehadiran tempat yang nyaman, estetika ruang, serta momen berkumpul bersama teman menjadi nilai utama. Makanan sering kali menjadi pelengkap dari aktivitas sosial tersebut.
Sedangkan bagi Gen Z, makanan viral adalah konten itu sendiri dan ekspresi identitas yang serba cepat. Gen Z tidak selalu menuntut tempat yang mewah atau nyaman untuk nongkrong berjam-jam. Sensasi visual yang snackable (mudah didokumentasikan dalam durasi singkat), keunikan konsep rasa, serta partisipasi langsung dalam tren global melalui audio TikTok menjadi pendorong utama. Kecepatan siklus tren di kalangan Gen Z juga jauh lebih tinggi; sebuah produk bisa mendadak dicari jutaan orang dalam sehari dan meredup dalam hitungan minggu.
Dampak Positif Ekonomi Kreatif
Di balik kritik mengenai budaya konsumtif atau sifat FOMO (Fear of Missing Out), fenomena makanan viral di kalangan Gen Z sebenarnya membawa berbagai dampak positif yang nyata.
Akselerasi UMKM dan Ekonomi Kreatif
Sifat Viralnya suatu produk membuka panggung yang setara bagi pelaku usaha kecil. Dulu, bisnis kuliner membutuhkan modal besar untuk sewa tempat strategis dan biaya iklan. Kini, berkat algoritma media sosial yang diapresiasi Gen Z, kedai kecil di dalam gang pun bisa dipadati pembeli dari luar kota hanya karena konsep produknya unik dan menarik.
Mendorong Inovasi dan Kreativitas Industri Kuliner
Antusiasme Gen Z terhadap hal-hal baru menuntut para pelaku usaha untuk terus berinovasi. Penggabungan cita rasa lokal dengan teknik modern (seperti penggunaan bahan tradisional dalam format kekinian) tumbuh pesat. Hal ini memicu semangat industri kreatif di sektor food and beverage (F&B) untuk tak berhenti bereksperimen.
Membuka Peluang Kerja Lapangan Bagi Anak Muda
Fenomena ini melahirkan ekosistem baru. Munculnya profesi seperti food vlogger pemula, kreator konten kuliner lokal, hingga agensi pemasaran media sosial yang mayoritas dimotori oleh mahasiswa dan anak muda. Banyak mahasiswa yang bahkan memulai bisnis kuliner skala kecil memanfaatkan momen tren ini sebagai sarana belajar berwirausaha secara langsung.
Menatap Kuliner Viral Secara Proporsional
Fenomena makanan viral di kalangan Gen Z bukan sekadar tentang ikut-ikutan tren visual semata, melainkan refleksi dari pergeseran cara berkomunikasi dan berorientasi ekonomi di era digital. Perbedaannya dengan generasi Milenial menunjukkan bagaimana dinamika teknologi membentuk perilaku konsumen yang semakin adaptif dan ekspresif.
Selama diimbangi dengan kesadaran akan kualitas gizi dan pengelolaan keuangan yang bijak, antusiasme Gen Z terhadap kuliner viral dapat terus menjadi bahan bakar segar bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM di Indonesia.
