Konten dari Pengguna

Mahal yang Bernama Sunrise

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigid Mulyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Pribadi.

Pagi itu saya kembali ke lokasi tempat saya bisa menyaksikan sunrise. Saya sedikit beruntung karena mendung tidak terlalu menutupi penampakan matahari yang perlahan merangkak naik dari cakrawala.

Pemandangan itu tetap saja menakjubkan, meskipun saya sudah pernah melihatnya. Warna jingga matahari memantul di permukaan laut dan berpendar bersama cahaya yang perlahan memenuhi langit. Di sebelah timur, tepat di atas cakrawala, langit berubah warna. Ada sedikit mendung yang menggantung, tetapi justru membuat pemandangan pagi itu terasa lebih elok.

Saya duduk di pinggir jalan, memandang laut, dan tiba-tiba berpikir: mengapa pemandangan sesederhana ini terasa begitu berharga?

Padahal saya tidak membeli tiket. Tidak ada tempat khusus yang harus dipesan. Tidak ada petugas yang memeriksa karcis. Saya bahkan tidak perlu pergi jauh untuk sampai ke sana.

Tetapi kemudian saya sadar, sunrise memang sebuah pemandangan yang mahal.

Bukan mahal karena harganya, melainkan karena pengorbanan yang dibutuhkan untuk menyaksikannya.

Yang Dibayar Bukan Uang

Tidak semua orang beruntung seperti saya pagi itu. Sebenarnya siapa pun bisa melihat matahari terbit. Matahari terbit setiap hari, dan hampir tidak pernah absen menjalankan tugasnya. Namun fakta bahwa sesuatu terjadi setiap hari tidak otomatis membuat kita mudah menyaksikannya.

Ada jarak antara "matahari terbit setiap pagi" dan "saya melihat matahari terbit pagi ini."

Jarak itu bernama kesediaan.

Sebelum subuh saya sudah bangun dan menyiapkan diri. Rutinitas yang biasanya saya lakukan setelah salat subuh saya kerjakan lebih awal. Saya harus mengatur waktu agar setelah salat bisa langsung bergerak menuju lokasi.

Sebelumnya saya juga harus tahu kapan matahari diperkirakan terbit. Dari sana saya memperkirakan berapa lama perjalanan yang diperlukan. Saya tidak ingin tiba ketika matahari sudah terlalu tinggi. Saya ingin datang beberapa menit lebih awal, ketika langit masih dalam tahap menyiapkan pertunjukannya.

Pagi itu perhitungan saya cukup tepat.

Saya tiba beberapa menit sebelum matahari muncul.

Awalnya tidak ada sesuatu yang istimewa. Langit masih tampak biasa. Laut juga masih seperti laut pada pagi-pagi lainnya. Tetapi kemudian saya mulai melihat sebuah perubahan kecil di cakrawala. Ada bagian yang perlahan menjadi terang. Warna jingga muncul tipis-tipis.

Saya mengarahkan pandangan ke sana.

Lalu menunggu.

Beberapa saat kemudian, matahari benar-benar muncul.

Tidak ada suara tepuk tangan. Tidak ada musik pengiring. Tidak ada sesuatu yang secara khusus memberi tahu bahwa pertunjukan telah dimulai. Matahari hanya bergerak perlahan dari balik cakrawala, sementara warna jingganya memantul di permukaan laut.

Dan mungkin justru karena itulah pemandangan tersebut terasa istimewa.

Alam tidak pernah meminta kita untuk mengaguminya. Ia tidak mengiklankan pertunjukannya. Ia tidak mengirimkan undangan. Ia hanya hadir pada waktunya sendiri.

Kitalah yang harus menyesuaikan diri.

Di tengah kehidupan yang membuat kita terbiasa meminta segala sesuatu hadir sesuai jadwal kita, sunrise mengajarkan hal yang agak berbeda: untuk menikmati sesuatu, kadang-kadang kitalah yang harus datang tepat waktu.

Mengapa Kita Sering Melewatkan yang Indah?

Anehnya, tidak banyak orang hadir di lokasi itu.

Padahal tempatnya mudah dijangkau. Tidak membutuhkan kendaraan khusus. Tidak ada medan berat yang harus dilalui. Siapa pun sebenarnya bisa datang dan menikmati pemandangan yang sama.

Barangkali hanya saya yang kebetulan menyadari bahwa tempat sederhana itu memiliki sudut pandang yang bagus untuk melihat sunrise.

Atau mungkin bagi sebagian orang, matahari terbit memang bukan sesuatu yang penting.

Saya bisa memahami itu. Matahari terbit adalah peristiwa yang terlalu biasa. Ia terjadi setiap hari. Besok pagi matahari akan terbit lagi. Tidak ada alasan untuk terburu-buru menyaksikannya hari ini.

Tetapi justru di situlah persoalannya.

Kita sering menganggap sesuatu tidak berharga karena kita yakin masih akan mendapatkannya nanti.

Kita menunda bertemu seseorang karena merasa masih ada waktu. Menunda membaca buku karena berpikir buku itu tidak akan pergi. Menunda menikmati pagi karena merasa besok pagi masih tersedia. Bahkan mungkin menunda menikmati hidup karena merasa kehidupan akan selalu memberi kesempatan kedua.

Padahal tidak semua kesempatan bekerja seperti itu.

Sunrise memang akan datang lagi besok. Tetapi sunrise pagi ini tidak akan pernah kembali.

Ada sesuatu yang hilang dalam setiap kesempatan yang kita lewatkan: bukan objeknya, melainkan waktunya. Matahari yang kita lihat besok mungkin sama, tetapi pagi ini sudah selesai dan tidak bisa diulang.

Barangkali inilah salah satu alasan mengapa pengalaman sederhana bisa terasa mahal. Nilainya bukan hanya ditentukan oleh apa yang kita dapatkan, tetapi juga oleh kemungkinan bahwa kesempatan itu tidak akan pernah hadir dalam bentuk yang sama.

Alam dan Kepala yang Terlalu Penuh

Belakangan, saya juga mulai memahami bahwa pergi melihat sunrise bukan sekadar mencari pemandangan indah.

Ada sesuatu yang lain yang kita dapatkan ketika berada di luar ruangan pada pagi hari: kesempatan untuk sejenak keluar dari kebisingan kehidupan.

Kita hidup dalam dunia yang hampir tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan ketika tidak sedang berbicara dengan orang lain, kepala kita tetap dipenuhi percakapan. Ada pekerjaan, pesan yang belum dibalas, berita, media sosial, urusan keluarga, target, kekhawatiran, dan berbagai hal kecil yang terus berputar di kepala.

Tubuh kita mungkin sedang duduk diam, tetapi pikiran kita berlari ke mana-mana.

Maka duduk beberapa menit di tepi laut sambil menunggu matahari muncul bisa menjadi pengalaman yang lebih penting daripada sekadar menikmati panorama.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa melihat sunrise adalah terapi untuk segala persoalan. Tentu tidak sesederhana itu. Tetapi penelitian tentang hubungan manusia dengan alam memang memberikan alasan untuk melihat pengalaman semacam ini secara lebih serius.

Dalam kajian psikologi lingkungan dikenal Attention Restoration Theory, yang dikembangkan Stephen dan Rachel Kaplan. Gagasan sederhananya adalah bahwa lingkungan alam dapat membantu memulihkan perhatian yang terkuras oleh aktivitas mental yang terus-menerus menuntut konsentrasi. Alam memiliki apa yang disebut sebagai soft fascination: ia menarik perhatian kita, tetapi tidak memaksa kita mengeluarkan energi mental sebesar ketika kita menghadapi pekerjaan atau lalu lintas informasi.

Mungkin itu yang terjadi ketika saya berdiri menghadap laut pagi itu.

Saya tidak perlu memikirkan apa pun secara khusus. Saya hanya memperhatikan langit yang berubah warna, permukaan laut yang memantulkan cahaya, dan matahari yang perlahan naik.

Tidak ada notifikasi yang harus dijawab.

Tidak ada rapat yang harus disiapkan.

Tidak ada target yang harus dicapai.

Saya hanya melihat.

Dan mungkin kemampuan untuk "hanya melihat" adalah sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan modern.

Menariknya, penelitian terhadap lebih dari 500 ribu peserta UK Biobank juga menemukan hubungan antara lebih banyak waktu berada di luar ruangan pada siang hari dengan sejumlah indikator yang berkaitan dengan suasana hati, tidur, dan ritme sirkadian. Penelitian itu bersifat observasional sehingga tidak bisa begitu saja diartikan bahwa berada di luar ruangan otomatis menyebabkan seseorang lebih bahagia atau lebih sehat. Namun setidaknya ia memberi petunjuk bahwa hubungan manusia dengan cahaya alami dan ruang terbuka bukan sekadar romantisme. Ada aspek biologis yang ikut bekerja di dalamnya.

Penelitian yang lebih baru juga terus mengeksplorasi manfaat aktivitas di alam terhadap perhatian, suasana hati, dan respons stres. Sebuah uji terkontrol yang diterbitkan pada 2026, misalnya, menemukan bahwa aktivitas berjalan di lingkungan hijau selama 30 menit memberikan perbaikan lebih besar pada perhatian dan suasana hati serta beberapa indikator fisiologis stres dibandingkan kelompok yang beraktivitas di dalam ruangan.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu selalu mencari tempat yang jauh untuk mendapatkan pengalaman semacam itu.

Kadang-kadang alam hanya berjarak beberapa langkah dari rutinitas kita.

Persoalannya adalah apakah kita bersedia berhenti sejenak untuk melihatnya.

Kita Terlalu Terbiasa Menunggu Waktu yang Tepat

Ada ironi lain dari pengalaman melihat sunrise.

Untuk menikmati beberapa menit keindahan, saya harus menyiapkan diri jauh sebelumnya.

Saya harus tidur dan bangun pada waktu yang tepat. Saya harus memperkirakan perjalanan. Saya harus tiba sebelum pertunjukan dimulai. Semua itu dilakukan untuk sesuatu yang bahkan tidak berlangsung lama.

Namun bukankah sebagian besar hal yang berharga dalam hidup memang seperti itu?

Pertemuan dengan orang yang kita cintai mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi kita menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai kepadanya. Sebuah perjalanan mungkin hanya berlangsung beberapa hari, tetapi kenangannya dapat bertahan bertahun-tahun. Sebuah percakapan penting mungkin hanya memerlukan beberapa menit, tetapi mampu mengubah cara kita melihat seseorang.

Durasi tidak selalu menentukan nilai.

Sunrise hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi beberapa menit itu cukup untuk membuat saya merasa pagi itu berbeda dari pagi lainnya.

Barangkali kita terlalu sering mengukur sesuatu berdasarkan lamanya ia berlangsung, padahal yang lebih penting adalah apakah kita benar-benar hadir ketika sesuatu itu terjadi.

Kita bisa berada bersama keluarga selama berjam-jam tetapi pikiran kita berada di tempat lain. Kita bisa duduk di sebuah tempat yang indah tetapi sibuk menatap layar. Kita bisa pergi jauh untuk mencari pengalaman baru tetapi tidak benar-benar melihat apa yang ada di depan mata.

Kehadiran fisik ternyata belum tentu sama dengan kehadiran batin.

Dan sunrise, dengan cara yang sederhana, memaksa saya untuk hadir.

Ia tidak bisa dipercepat. Tidak bisa diputar ulang. Tidak bisa disimpan untuk ditonton nanti.

Kalau ingin melihatnya, saya harus ada di sana ketika waktunya tiba.

Pemandangan yang Tidak Bisa Dibeli

Pagi itu saya pulang dengan membawa sesuatu yang sebenarnya tidak bisa saya masukkan ke dalam tas.

Tidak ada oleh-oleh. Tidak ada foto yang benar-benar mampu menangkap seluruh pengalaman. Bahkan jika saya mengambil gambar dengan kamera terbaik sekalipun, saya tahu ada bagian yang hilang: udara pagi, kesunyian, penantian beberapa menit sebelumnya, dan perasaan ketika cahaya pertama akhirnya muncul.

Mungkin karena itu saya menyebut sunrise sebagai pemandangan yang mahal.

Ia tidak membutuhkan uang, tetapi membutuhkan perhatian.

Ia tidak membutuhkan tiket, tetapi membutuhkan kedisiplinan.

Ia tidak membutuhkan perjalanan jauh, tetapi membutuhkan kemauan untuk meninggalkan tempat tidur ketika sebagian besar orang masih terlelap.

Dan yang paling penting, ia membutuhkan kesediaan untuk menerima bahwa tidak semua hal indah akan menunggu kita.

Saya kemudian berpikir, mungkin hidup juga bekerja dengan cara yang sama.

Ada banyak "sunrise" yang muncul di hadapan kita setiap hari. Percakapan yang sebenarnya ingin kita lakukan. Orang yang ingin kita temui. Pagi yang seharusnya kita nikmati. Kesempatan yang datang tanpa banyak suara. Hal-hal kecil yang tampaknya biasa, tetapi ternyata hanya tersedia dalam satu waktu tertentu.

Kita sering melewatkannya bukan karena tidak mampu mendapatkannya, melainkan karena mengira masih ada hari esok.

Padahal hari esok hanya menawarkan sunrise yang lain.

Bukan yang ini.

Maka mungkin kita tidak perlu selalu mencari kehidupan yang lebih besar, lebih mahal, atau lebih jauh untuk menemukan kebahagiaan. Sesekali kita hanya perlu bangun sedikit lebih awal, berjalan keluar, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk melihat sesuatu yang selama ini terlalu biasa untuk kita perhatikan.

Sebab boleh jadi yang membuat sebuah pemandangan menjadi mahal bukan karena alam memberinya harga tinggi.

Kitalah yang sering terlalu sibuk untuk membayarnya.

Dan pagi itu saya kembali diingatkan: ada keindahan yang tidak pernah sulit ditemukan, tetapi hanya bisa dinikmati oleh mereka yang bersedia hadir tepat waktu.