Makanan yang Sebaiknya Dikonsumsi dan Dihindari demi Menjaga Kesehatan Usus
·waktu baca 2 menit

Kesehatan usus memang menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan. Tidak hanya berperan dalam sistem pencernaan, usus juga berkaitan dengan daya tahan tubuh hingga kesehatan metabolik.
Ahli gizi dr Rita Ramayulis mengatakan, salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap kesehatan usus adalah pola makan sehari-hari, karena di dalam usus terdapat mikrobiota, yaitu kumpulan mikroorganisme baik yang membantu menjaga keseimbangan sistem pencernaan.
“Jadi mikrobiota itu bisa bertahan hidup, bisa memperbanyak diri atau menjalankan fungsinya ketika dia diberi makan, dan makanan itu adalah serat yang berasal dari makanan kita," kata Rita saat berbincang dengan kumparanFOOD, Jumat (15/5).
Menurutnya, serat berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikrobiota usus. Saat tubuh mengonsumsi makanan kaya serat, mikrobiota akan memfermentasi serat tersebut dan menghasilkan asam lemak rantai pendek yang bermanfaat bagi kesehatan metabolik, sistem imun, hingga membantu menjaga keseimbangan saluran pencernaan.
"Jadi ketika kita mengonsumsi makanan yang rendah serat maka kehidupan mikrobiota itu akan terganggu,” jelasnya.
Karena itu, Rita menyarankan untuk mulai menerapkan pola makan yang seimbang demi menjaga kesehatan usus. Menurutnya, protein dan serat menjadi dua nutrisi penting yang perlu dipenuhi setiap hari.
Protein sendiri dibutuhkan untuk membantu membangun dan memperkuat dinding usus agar dapat bekerja optimal dalam menyerap nutrisi sekaligus melindungi sistem pencernaan. Sementara itu, serat membantu memberi asupan bagi mikrobiota agar dapat berkembang dengan baik di dalam usus.
Selain itu, Rita juga menjelaskan bahwa ada beberapa jenis makanan yang dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama yang tinggi gula, garam, dan lemak jenuh.
“Juga makanan yang mengandung zat-zat bahan tambahan pangan yang berlebihan atau zat-zat kimia yang seharusnya gak ada di makanan tapi ada di makanan, itu juga akan merusak komunitas atau koloni dari mikrobiota,” bebernya.
