Konten dari Pengguna

Pasar yang Menunggu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: Boas Sababang

Sumber: Canva
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Canva

Lorong yang Lengang

Pagi itu, Jumat, lorong Pasar Condongcatur lengang. Orang-orang yang lewat bisa dihitung dengan jari. Di kios-kios, sayur tergolek tanpa ada yang menjamah. Para pedagang menata kembali dagangan yang sebenarnya sudah tertata, sebab tangan yang menganggur mudah membuat orang gelisah. Yang lain duduk bercakap dengan tetangga kios. Tawar-menawar tak terdengar, dan pasar tanpa tawar-menawar tak ubahnya rumah tanpa penghuni.

Perempuan Tujuh Puluh Empat Tahun

Di salah satu kios duduk seorang perempuan bernama Trianti. Umurnya tujuh puluh empat tahun. Dua puluh dua tahun ia hidup di tempat itu. Pada 2004 ia membeli dua kios dengan uang yang tentu dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Ia pikir, dengan memiliki, ia akan aman.

Dagangannya kini sedikit saja: tiga buah labu siam, dua ikat kacang panjang, dua kilo terong, beberapa sayur hijau. Minyak goreng dalam keranjang tak sampai dua puluh bungkus, kecap dan saus tak sampai sepuluh. Bawang setengah keranjang. Ia tak lagi berani menimbun. Orang yang modalnya kecil belajar bahwa barang yang tak laku adalah uang yang membusuk.

"Sepi sekarang," katanya.

Terong yang Tak Lagi Habis

Ia mengenang terong. Dahulu sehari bisa lepas sepuluh sampai lima belas kilo. Kini satu atau dua kilo pun belum tentu habis. Yang tersisa sering ia bagikan kepada orang lain, sebab membuangnya lebih menyakitkan daripada memberikannya.

Setengah Kilo Kacang Tanah

Dua perempuan mendekat dan bertanya harga kacang tanah dalam bahasa Jawa yang halus. Trianti menjawab: empat puluh delapan ribu sekilo. Ia menambahkan bahwa sekarang segalanya mahal, seakan meminta maaf atas harga yang bukan ia yang menetapkan. Kedua perempuan itu terdiam. Trianti membuka plastik pembungkus, tetapi matanya sudah membaca keraguan di wajah mereka. Akhirnya pembeli itu mengangguk: jadi, tetapi setengah kilo saja.

Begitulah rakyat kecil berbelanja pada zaman ini. Mereka tidak lagi membeli apa yang mereka butuhkan, hanya sebanyak yang sanggup mereka tanggung.

Untung Seribu Rupiah, Pungutan Seratus Ribu

Trianti tak banyak mengambil untung. Bila harga di atas naik, modalnya ikut membengkak dan untungnya menipis. Kadang, katanya, modal pun tak kembali. Sebungkus bumbu ketumbar saset memberinya seribu rupiah per renteng kalau dijual eceran, dan lima ratus kalau diambil sekaligus. Dengan hitungan sekecil itu ia bertahan.

Namun ada satu hal yang tidak pernah tipis, yaitu kewajiban. Tiap bulan ia membayar lima puluh ribu untuk tiap kios, jadi seratus ribu untuk dua, sudah termasuk uang kebersihan. Kios itu miliknya, tetapi retribusi tetap harus dibayar. Pasar ramai atau sepi, pungutan datang pada waktunya, setia seperti matahari.

Dari Pandemi hingga Layar Gawai

Menurut Trianti, kemerosotan ini bukan kemarin dimulai. Ia berawal dari pandemi, ketika orang diperintahkan tinggal di rumah dan pasar lumpuh. Orang lalu belajar membeli lewat layar. Kebiasaan yang lahir dari keterpaksaan itu tidak mati ketika keterpaksaan berlalu. Kini, katanya, program makan bergizi gratis turut membuat pasar bertambah sepi.

Ramai Tak Bisa Diperintahkan

Pada Agustus lalu, pemerintah kabupaten menggelar gerakan untuk meramaikan pasar rakyat. Namun ramai tak bisa diperintahkan. Ia lahir dari kantong yang berisi. Menurut kabar yang dikutip dari CNBC Indonesia, daya beli masyarakat September ini hanya tumbuh 1,4 persen secara tahunan, turun dari 1,8 persen bulan sebelumnya. Angka itu dingin, dan baru terasa bobotnya ketika kita melihat seorang nenek menunggui terong di kiosnya.

"Dulu, apa-apa dijual bisa laku," kata Trianti. "Sekarang apa-apa dijual tidak laku."

Dalam kalimat itu tersimpan seluruh persoalan, tanpa hiasan dan tanpa teori.