Sanggar Barongan Banaran Dikembangkan Jadi Wisata Edukasi Seni

Dosen Sendratasik UNNES dengan kepakaran Tari Anak usia Dini
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hartono PSDTM tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SEMARANG — Sanggar Barongan Banaran di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, mulai dikembangkan menjadi tujuan wisata edukasi seni. Upaya ini dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) dengan memadukan seni Barongan, promosi digital, dan pengalaman belajar bagi wisatawan.
Program bertajuk “Digitalisasi dan Pengembangan Paket Wisata Edukasi Seni: Strategi Branding Sanggar Barongan Banaran Menuju Desa Wisata Kreatif di Gunungpati Semarang” tersebut dilaksanakan pada 2026. Kegiatan ini melibatkan dosen, tenaga pendukung, dan mahasiswa UNNES bersama pengelola Sanggar Barongan Banaran. Program ini diharapkan dapat memperluas pengenalan seni Barongan sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi masyarakat sekitar.
Tim pengusul program terdiri atas Prof. Dr. Hartono, M.Pd., Prof. Dr. Agus Cahyono, M.Hum., Dr. Wahyu Beny Mukti Setiyawan, S.H., M.H., Dra. Siti Aesijah, M.Pd., dan Kusrina Widjajantie, S.Pd., M.A. Tim juga melibatkan mahasiswa Halimah Agustina, Fitrah Cyntha Dirna, dan Vini Viodita, serta Dr. Saiful Fallah, M.Pd. dan Yudhistira Yossa Adirajasa, M.Si.
Selama ini, aktivitas Sanggar Barongan Banaran lebih banyak berlangsung ketika mendapat panggilan pentas. Padahal, sanggar memiliki potensi seni yang cukup kuat untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Seni Barongan Banaran memiliki karakter yang khas dengan perpaduan unsur mistis, heroisme, dan estetika visual pesisiran.
Melalui program ini, tim UNNES bersama pengelola sanggar mulai membenahi sejumlah persoalan. Sanggar sebelumnya belum memiliki identitas visual yang kuat, seperti logo dan konsep promosi yang konsisten. Kehadiran di dunia digital juga masih terbatas sehingga sanggar belum mudah ditemukan oleh calon pengunjung dari luar wilayah. Di sisi lain, paket wisata edukasi yang terstruktur juga belum tersedia.
Langkah pertama dilakukan dengan menggali sejarah dan cerita di balik Sanggar Barongan Banaran. Tim melakukan observasi dan wawancara dengan pendiri serta tokoh budaya untuk memahami filosofi, nilai-nilai, dan keunikan seni Barongan yang berkembang di sanggar tersebut.
Hasil penggalian tersebut kemudian digunakan untuk membangun identitas sanggar. Tim bersama pengelola mengadakan workshop desain untuk membuat logo, warna identitas, dan brand book. Selain itu, dibuat pula video profil serta dokumentasi foto kostum, properti tari, dan kegiatan latihan sebagai bahan promosi.
Sanggar juga mulai diperkenalkan melalui berbagai platform digital. Akun Google Business didaftarkan dan diverifikasi agar lokasi sanggar dapat ditemukan melalui Google Maps. Pengelola juga mendapat pelatihan pengelolaan Instagram dan TikTok, termasuk membuat konten, menyusun caption, dan membangun interaksi dengan calon pengunjung. Sistem pembayaran digital melalui QRIS turut disiapkan untuk memudahkan transaksi.
Selain memperkuat promosi, tim mengembangkan paket wisata yang memungkinkan pengunjung belajar seni Barongan secara langsung. Kegiatan di dalamnya mencakup workshop tari Barongan, pengenalan filosofi kostum, serta pembelajaran musik gamelan pengiring. Paket tersebut dilengkapi modul dan katalog digital yang disusun bersama pengelola sanggar.
Paket wisata kemudian diuji coba dengan melibatkan mahasiswa dan wisatawan. Peserta mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus memberikan tanggapan melalui kuesioner dan wawancara. Masukan tersebut digunakan untuk memperbaiki durasi kegiatan, cara penyampaian materi, serta fasilitas pendukung agar pengalaman pengunjung menjadi lebih nyaman.
Melalui program tersebut, Sanggar Barongan Banaran diarahkan untuk tidak hanya bergantung pada undangan pentas. Sanggar diharapkan dapat menjadi tempat masyarakat dan wisatawan mengenal, mempelajari, sekaligus menikmati seni Barongan secara langsung.
Pengembangan ini juga menjadi bagian dari upaya menjadikan Banaran sebagai kawasan wisata kreatif yang menghubungkan seni, pendidikan, dan pariwisata. Dengan dukungan branding, teknologi digital, dan kemampuan pengelola yang semakin kuat, Sanggar Barongan Banaran diharapkan mampu berkembang secara mandiri sekaligus menjaga keberadaan seni Barongan sebagai warisan budaya lokal.
