Sibuk yang Bersembunyi

Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Pendidikan Guru Sekolah Dasar Mentawai
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Boas Sababang tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Boas Sababang

Catatan dari Pertemuan Kedua Belas di SD Pangudi Luhur
Ruang itu sempit, dan tangganya berlipat-lipat seperti orang yang menahan sesuatu. Setiap pertemuan bimbel aku menaikinya, dan setiap kali itu pula aku tak pernah bertanya mengapa bangunan yang mengajarkan keluasan pikiran dibuat sesempit ini.
Di halaman depan berdiri patung Bunda Maria. Siapa pun boleh duduk di kakinya, melepas penat, menurunkan jiwa yang mengendap seperti ampas di dasar gelas. Hanya itu yang dimintanya dari orang-orang: datang, duduk, diam. Aku berdiri saja di sana. Aku belum mau duduk. Orang yang belum mau duduk biasanya masih merasa punya sesuatu untuk dipertahankan.
Anak-anak SD berlarian di halaman. Mereka belum tahu bahwa dunia ini punya kelas-kelas, nilai-nilai, dan peringkat. Mereka hanya tahu berlari. Dan itu pun akan diajarkan untuk dihentikan, pada waktunya.
Ketika Anak-anak SD Bertanya Tanpa Suara
Lalu kulihat salah satu anak bimbinganku berhenti di tengah permainan. Ia mendongak dan menatap wajah patung itu lama sekali. Aku tak tahu apa yang dicarinya. Barangkali ia sendiri tak tahu. Tapi justru karena itu tatapannya jujur. Hanya anak kecil yang berani menatap sesuatu tanpa tahu hendak menuntut apa darinya.
Pemandangan itu menyeretku pulang ke sekolahku dahulu. Di sana aku hanya berangkat, pulang, dan pergi ke gereja bila waktunya tiba. Seluruh hidupku diatur oleh lonceng, dan aku menyebutnya ketertiban. Baru sekarang aku curiga bahwa yang kusebut ketertiban itu hanyalah kepatuhan yang sudah berhenti terasa sakit.
Pertemuan kedua belas membawa satu keganjilan. Dari semua temanku, hanya aku yang sibuk dengan laptop. Kata "sibuk" pun terlalu mulia untuk apa yang kulakukan. Aku menunduk ke layar, jari-jariku bergerak, dan dari jauh orang akan mengira aku sedang bekerja. Padahal aku sedang bersembunyi. Betapa mudahnya orang terdidik menyamarkan kekosongannya dengan benda yang menyala.
Aku tak punya jawaban. Atau lebih tepat, jawabanku memalukan, dan seorang anak SD sudah cukup untuk membuatku tahu itu.
