Kumparan Logo

Studi: Rutin Konsumsi Telur dapat Menurunkan Risiko Alzheimer

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi telur yang dimasak setengah matang. Foto: hyw660088/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi telur yang dimasak setengah matang. Foto: hyw660088/Shutterstock

Telur sudah lama dikenal sebagai salah satu makanan yang padat nutrisi. Bahkan banyak orang menyebutnya sebagai “superfood” karena kandungan gizinya yang lengkap.

Namun, di balik popularitasnya, telur juga sering dihindari karena kandungan kolesterol dan lemak jenuhnya yang kerap dianggap kurang baik jika dikonsumsi berlebihan.

Meski begitu, sebuah studi terbaru justru menunjukkan sisi lain yang menarik dari telur, terutama kaitannya dengan kesehatan otak dan risiko penyakit alzheimer.

Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Loma Linda University, California, dan dipublikasikan dalam Journal of Nutrition. Peneliti menganalisis data hampir 40.000 orang dewasa di Amerika Serikat yang berusia di atas 65 tahun.

Selama periode pengamatan sekitar 15 tahun, tercatat 2.858 peserta mengalami Alzheimer. Pola makan dan gaya hidup mereka dikumpulkan melalui kuesioner, lalu dibandingkan dengan data diagnosis penyakit.

Dalam penelitian ini, konsumsi telur dibagi berdasarkan frekuensi, mulai dari tidak pernah hingga lebih dari lima kali per minggu. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan risiko yang cukup jelas.

Mereka yang mengonsumsi telur 1-3 kali per bulan atau sekitar 1 kali per minggu memiliki risiko Alzheimer 17% lebih rendah. Sementara itu, kelompok yang makan telur 5 kali atau lebih per minggu memiliki risiko 27% lebih rendah.

Ilustrasi mengupas telur. Foto: Shutterstock

Sebaliknya, mereka yang tidak mengonsumsi telur sama sekali cenderung memiliki risiko Alzheimer yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang mengonsumsi sekitar 10 gram telur per hari dalam model analisis lain.

Para peneliti menjelaskan bahwa telur mengandung berbagai nutrisi yang penting untuk kesehatan otak. Ahli saraf perilaku, Dr. Joel Salinas, menyebut telur sebagai sumber terkonsentrasi kolin, DHA, dan vitamin B12, nutrisi yang sangat dibutuhkan otak, terutama seiring bertambahnya usia.

“Telur adalah sumber terkonsentrasi kolin, DHA, dan vitamin B12, yang merupakan nutrisi yang dibutuhkan otak yang menua,” kata Salinas, yang berpraktik di NYU Langone, seperti dikutip dari Fox News Digital, Jumat (15/5).

Kuning telur sendiri merupakan salah satu sumber kolin terbaik dalam makanan. Kolin ini digunakan tubuh untuk memproduksi asetilkolin, yaitu neurotransmitter yang berperan penting dalam memori dan fungsi kognitif.

Selain itu, telur juga mengandung lutein, zeaxanthin, protein berkualitas, serta sedikit asam lemak omega-3 yang turut mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Ilustrasi makn telur. Foto: PhaiApirom/Shutterstock

Meski hasilnya menarik, para peneliti menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, penelitian ini hanya menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa telur secara langsung mencegah Alzheimer.

“Ini lebih bersifat arah hubungan, bukan bukti definitif,” kata Salinas.

Salinas menambahkan, data ini berasal dari populasi yang cukup sadar kesehatan, sehingga faktor gaya hidup lain juga bisa berpengaruh. Dengan kata lain, hasilnya lebih menunjukkan arah hubungan, bukan bukti yang benar-benar definitif.

Hal serupa juga disampaikan oleh ahli gizi Lauri Wright. Ia menekankan bahwa orang yang rutin mengonsumsi telur kemungkinan juga memiliki pola makan dan gaya hidup sehat lainnya yang ikut memengaruhi hasil penelitian.

Para ahli sepakat bahwa telur tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat untuk otak, asalkan dikonsumsi dalam jumlah wajar dan diimbangi dengan makanan bergizi lainnya.

Telur yang disantap bersama sayuran, buah, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, atau ikan dinilai jauh lebih sehat dibandingkan jika dipasangkan dengan makanan olahan tinggi garam atau daging olahan.

“Kuning telur adalah salah satu sumber kolin terbaik dalam makanan, yang digunakan tubuh untuk membuat asetilkolin, neurotransmitter yang berperan dalam memori dan fungsi kognitif,” jelas Wright.

Namun, Wright mengingatkan bahwa kunci utama tetap ada pada pola makan secara keseluruhan. “Gambaran besarnya adalah menjaga pola makan yang mendukung kesehatan jantung dan metabolik, karena apa yang baik untuk jantung sering kali juga baik untuk otak,” ujarnya.